YANG TERKASIH

Kugenggam jemari istriku dengan penuh kelembutan, jemari yang lemah itu makin terkulai ketika aku medekap dan menempelkannya di pipiku. Kupandang matanya yang basah kembali mengalirkan buliran-buliran air mata yang deras membanjiri pipinya yang semakin keriput dimakan usia. Aku terpaku ... tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Sejenak aku mendekat dan kucium keningnya, “Aku masih tetap sayang kamu Bu, tidak ada yang bisa menggantikanmu ...”, kataku dengan suara yang parau menahan kesedihan di hatiku. “ Terima kasih Yah, engkau tahu betapa berartinya itu bagiku...”, balas istriku sambil berusaha menggerakkan lengannya yang lemah itu untuk memeluk aku. Aku kembali terdiam, membiarkan istriku memeluk aku untuk beberapa saat.
Semilir angin malam, menyapa tubuhku yang semakin rapuh seiring dengan waktu. Sesekali terdengar hewan malam yang berusaha mengusik kegundahan hatiku. Di sini, di sebuah pondokan kecil, di belakang rumah yang telah kudiami selama hampir setengah abad aku sendiri menangis dan merenung di dalam kesunyian.
Aku hanya ingin berlari sembunyi dan tidak membiarkan seorangpun tahu bahwa aku menangis, aku harus tetap tegar dihadapan anak-anak dan cucu-cucuku, aku tidak ingin dikasihani oleh mereka.
Hidup bersama dengan istriku adalah hal terbesar dan terindah yang pernah aku peroleh dari Tuhan. Setiap detik yang aku lewati selama berpuluh tahun bersama dengannya tidak ada yang lain hanya keindahan dan kebahagiaan. Istriku adalah sosok yang paling sempurna yang pernah aku temui, segala yang aku cari dari seorang perempuan aku temukan dalam dirinya. Aku akui, selama hidup aku mencari sosok seperti dirinya ... dan ternyata ... aku menemukannya.
Sekarang, di pondok ini, aku sendiri. Beberapa tahun yang lalu, aku masih ingat, di tempat ini, kami berdua, aku dan istriku, bercengkrama berdua, melepas lelah, dan berbagi cerita tentang segala sesuatu yang telah kami lewati sepanjang hari itu. Kami tertawa bersama, berpelukan dengan penuh cinta. Tapi kini, rasanya itu semua hanya jadi sebuah kenangan, yang tidak mungkin terulang, meskipun aku berharap demikian.
Beberapa tahun ini, istriku mengidap penyakit kanker payudara, terlambat memang untuk kami menyadarinya. Setelah menjalani operasi pengangkatan payudara dan beberapa terapi dari dokter, ternyata kondisinya tidak semakin membaik, tapi sebaliknya semakin memburuk. Berbagai cara telah kami lewati untuk memperoleh pemulihan kesehatannya, tapi dokter sudah memvonis, bahwa usia istriku tinggal beberapa bulan saja. Aku tertekan dan tidak bisa menerima hal ini, tapi istriku dengan tegar memeluk aku dan berkata “ segala sesuatu ada masanya Yah ...”.
Respon yang diberikan oleh anak-anak kami juga sangat besar ketika mereka diberitahu keadaan yang dihadapi oleh Ibu mereka, setiap saat mereka berusaha sesering mungkin untuk ada di antara kami, bila mereka memiliki waktu luang, tentu saja bersama dengan menantu dan cucu-cucuku. Dalam beberapa hal kedatangan mereka di rumah memberikan suasana yang menyegarkan bagi aku dan istriku, tapi aku sadar bahwa itu semua tidak akan berlangsung lama. Aku hanya perlu untuk menghitung hari saja.

Aku masih membisu di pondok ini, meskipun air mata semakin deras mengalir membasahi bajuku, otakku buntu dan hatiku menjadi beku dengan apa yang aku hadapi. Aku tidak kuat lagi, tapi aku tidak tahu kemana aku harus mengadu.
“ Apa yang harus aku lakukan tanpa istriku ...? aku tidak bisa hidup tanpanya ... ? dia adalah satu-satunya alasan aku hidup di dunia ini ...? seandainya saja aku bisa meminta, aku meminta akulah yang berada di posisinya, dia terlalu indah untuk diambil secepat ini, masih ada begitu banyak orang yang membutuhkannya, tidak hanya diriku. “
“ Tuhan, kalau memang Engkau ada, kenapa Engkau diam saat ini ... mana kuasaMu yang besar itu, pada saat aku membutuhkannya ? Mana kasihMu yang terbatas, ketika aku memerlukannya ?”, aku bertanya dengan nada mempersalahkan Tuhan, yang seakan tidak mampu berbuat apa-apa dengan keadaan yang dihadapi oleh istriku.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh, suara langkah kaki yang mendekat ke arahku. Buru-buru aku mengusap mataku yang sembab oleh air mata, dan segera kutolehkan kepalaku ke arah suara kaki yang melangkah menuju aku. Setyo, anak sulungku, ternyata dia yang berjalan ke arahku.
“ Yah, ada apa ? kenapa Ayah ada di sini ? semua orang yang ada di dalam mencari Ayah”, tukasnya kepadaku.
“ Nggak ada apa-apa, Ayah hanya sedang ingin sendirian.”, jawabku singkat.
“ Setyo tahu, memang tidak mudah bagi Ayah untuk menghadapi keadaan ini, tapi Setyo yakin bahwa ada sesuatu yang Tuhan sedang kerjakan melalui kejadian ini.”, ucapnya seakan tahu apa yang mengganjal dihatiku.
“ Apa maksudmu, Yo ?”, tanyaku kepadanya.
“ Saya tahu, Ayah sedang bersedih tentang keadaan Ibu, saya dan adik-adik juga mengalami hal yang sama, tapi yang membuat kami tegar adalah pernyataan pak Pendeta kemarin. Kami tidak berusaha untuk menjadi kuat karena kami tahu kami tidak akan sanggup, tapi kami belajar berserah kepada Tuhan yang sanggup untuk membuat kami menjadi tegar. Kami mencoba untuk tegar, bukan karena kami tidak sedih akan keadaan Ibu, tapi karena kami telah menyadari bahwa Allah sedang mengajarkan sesuatu kepada keluarga kita melalui kejadian ini”, jawabnya menjelaskan.
“ Yah, Tuhan sedang mendidik keluarga kita saat ini.”, sambungnya sekali lagi menegaskan.
Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Sesaat kami berdua tenggelam di alam pikiran kami masing-masing.
“ Yah, Ibu sedang menunggu Ayah di kamar saat ini ... tapi kalau Ayah sedang ingin sendiri, kami akan menunggu Ayah di kamar Ibu”, ucapnya memecah kesunyian di antara kami.
Sesaat Setyo pergi dengan diiringi tatapan mataku yang nanar tertuju kepadanya.
“ Tuhan sedang mengajar keluargaku ... “, gumamku pelan. “Tapi apa yang sedang diajarkanNya kepadaku...?”
Tuhan ... kata itu rasanya terdengar asing di telingaku. Entah kapan terakhir kali aku menyebut Nama itu, tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak menyebut nama itu lagi.
“Tuhan ... apa yang sedang Engkau ajarkan kepadaku ... apakah Engkau akan mengambil milikku yang paling berharga ... mengapa ?”.
Aku kembali terdiam.

Aku berdiri dan melangkahkan kakiku kembali menuju ke dalam rumahku. Berat rasanya kaki ini melangkah, karena kegundahan hatiku yang tak kunjung padam.
Di dalam kamar, aku kembali melihat istriku terbaring lemah tak berdaya, menunggu maut datang menjemputnya. Seluruh tubuhnya terlihat ringkih, meskipun di matanya aku masih melihat semangat hidup yang masih menyala.
Aku duduk di sebuah kursi kecil yang memang sengaja aku letakkan di samping tempat tidur dimana istriku terbaring, ku raih tangannya dan kembali kucium dengan mesra.
“ Yah ... Ibu mau bicara”, katanya dengan suara yang lemah.
“ Ya bu, Ayah ada di sini ... bicaralah”, jawabku dengan lembut.
Sementara itu satu persatu, anak-anakku berjalan keluar dari dalam kamar seolah mereka sudah tahu apa yang akan kami bicarakan.
“ Yah ... Ibu sadar waktu Ibu sudah tidak lama lagi ...”, ucapnya dengan susah pAyah.
“ Huss ... Ibu tidak boleh bicara seperti itu, kita masih punya banyak kesempatan untuk kembali berbincang dan bercanda di pondok seperti dulu lagi, kita masih punya banyak hal untuk dilakukan bersama ... “, kataku dengan perasaan yang tidak tenang.
“ Tidak Yah, rasanya Ibu tidak memiliki kesempatan itu lagi ... tidak untuk saat ini ... Yah tolong dengar Ibu sebentar saja” , ungkapnya.
Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Aku tidak berani berbicara lagi
“ Yah ... Ayah tahu nggak kenapa ini semua terjadi pada keluarga kita ?”, tanyanya.
“ Ini karena Tuhan sayang pada Ayah.”, jawabnya tanpa menunggu jawaban dari aku.
“ Ibu hanya ingin Ayah tahu bahwa, Ayah adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan dalam kehidupan Ibu, bersama dengan Ayah, Ibu telah melewati saat-saat yang terindah dalam hidup, dan Ibu yakin tidak semua orang memiliki kesempatan untuk merasakan itu. Tapi ... “, perkataannya berhenti di tengah jalan.
“ Tapi apa bu ...”, tanyaku memburu.
“ Rasanya semuanya akan segera berakhir ...”, jawabnya dengan suara yang semakin parau dan nafas memburu.
“ Yah ... apakah Ayah masih mencintai Ibu ...?”, tanyanya.
“ Ya, tidak ada yang bisa menggantikan dan mengusik perasaan itu dari diri ayah ... Ibu adalah bagi hidup yang terindah dalam hidup Ayah.”, jawabku dengan mantap sambil mencium tangannya.
“ Apakah Ayah bersedia untuk melakukan sesuatu untuk Ibu ...?”, tanyanya dengan penuh harap.
“ Apapun ... akan Ayah lakukan untuk Ibu ...”, kataku.
“ Yah ... Ibu ingin kita senantiasa bersama selamanya, bahkan maut pun tidak sanggup memisahkan kita. Yah ... Ayah tahu nggak kenapa Ibu meminta anak-anak keluar dari kamar ini ?”, katanya.
“ Tidak ... Ayah tidak tahu”, jawabku.
“ Ibu sadar bahwa ini adalah saat terakhir bagi Ibu untuk bertatap muka dengan Ayah, karena setelah ini Ibu tidak akan bertemu Ayah lagi, sedangkan dengan anak-anak Ibu masih bertemu lagi di masa yang akan datang, itulah sebabnya Ibu ingin menghabiskan waktu terakhir Ibu untuk bersama dengan Ayah berdua saja.”, jelasnya.
“ Yah ... sudah lama kita hidup sebagai sepasang suami istri, selama itu juga Ibu melihat Ayah terlalu sIbuk dengan pekerjaan Ayah dan sangat tidak peduli dengan Allah. Ibu membesarkan anak-anak untuk mengenal Tuhan, hanya Ayah yang belum mengenal Tuhan Yesus. Ibu sangat yakin di sorga kelak, Ibu akan bertemu dengan anak-anak, tapi Ibu masih punya beban karena Ibu pun berharap Ayah ada di sana bersama dengan kami.”
“ Yah ... apakah Ayah mau berjanji untuk berada di sana bersama dengan Ibu dan anak-anak kita ?”, tanyanya kepadaku dengan penuh harap.
Aku hanya terdiam mendengar permintaannya. “ Tuhan ... inikah didikan yang sedang Engkau lakukan terhadap aku ?”, tanyaku dalam hati. “Ini terlalu menyakitkan Tuhan ... “
“ Yah ... Ayah tidak apa-apa ? Ayah belum menjawab pertanyaan Ibu”, tanya istriku.
“ Seandainya hanya itu cara yang bisa Ayah lakukan untuk tetap bersama dengan Ibu, itu yang akan Ayah lakukan.” Jawabku.
“ Tidak ... bukan itu yang Ibu maksudkan, Ibu memohon agar Ayah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Pribadi dan bukan karena Ibu, Ayah melakukan semuanya itu.”
“ Maksud Ibu apa ?”, tanyaku kebingungan.
“ Hubungan kita terjalin karena Kristus, itu yang kita nyatakan pada saat kita diberkati di Gereja 53 tahun yang lalu, dan Ibu berdoa ikatan itu tidak terpisahkan ... bahkan oleh maut sekalipun. Yah kembalilah kepada Tuhan ... Tuhan menantikanmu Yah. Pulanglah ...”
Aku kembali menangis dalam keharuan, tangisan yang muncul karena kepedulian istriku akan keselamatanku, kepedulian istriku akan keutuhan keluargaku, dan kesadaran akan keberadaanku yang semakin jauh dari Tuhan.
“ Bu, Ayah mau kembali ... Ayah berjanji kita akan bertemu dan bersatu di sorga nanti.”, kataku tegas.
“ Terima kasih Yah ... sekarang Ibu bisa pulang dengan damai ke rumah Bapa, tanpa ada beban yang mengikat. Karena kasih Ayah sudah kembali kepada Yesus dan bukan kepada Ibu, Kristuslah pusat segala kasih kita Yah...”, ucapnya dengan senyum yang lembut sembari menutup matanya untuk selama-lamanya.
Aku memeluk dan mencium istriku dengan tangisan penuh syukur karena kasih dan kepeduliannya, sementara itu di belakangku anak-anak dan cucu-cucuku berdiri dengan air mata yang mengalir melihat apa yang terjadi di antara kami, keakraban yang terjalin diantara dua manusia.
Aku melihat jasad istriku yang tersenyum dengan penuh arti dan damai, seolah tidak ada penderitaan lagi ketika para malaikat menjemput dan membawanya kembali ke rumah Bapa seperti yang diyakininya.
“ Tuhan Yesus aku kembali ... bersamamu dan hanya bersamamu, aku akan menyusul dan menjelang istriku kelak.”, janjiku dalam hati. (SkD)
5/5/04

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

MAAFKAN AKU MA ... !!!