MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BAIK

A. Pengantar

Di sebuah pasar yang sangat ramai, duduk seorang pedagang yang sedang menawarkan barang dagangannya yang berupa kain. Pedagang yang bila diperhatikan dengan seksama ternyata memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar dan berdarah Arab ini dengan penuh semangat menawarkan kain yang dijualnya. Melihat sang pedagang, seorang pembeli kain datang mendekatinya, dan melihat-lihat kain yang ditawarkan oleh pedagang Arab tersebut. Setiap kali ia melihat kepada kain yang dijajakan tersebut ia melihat sebuah kalimat yang dicetak di atas plastik pembungkus kain, yang bertuliskan “Ditanggung tidak luntur”. Dengan penuh antusias dia bertanya kepada si pedagang kain, “benarkah kata-kata yang ditulis di atas plastik ini ?”. dengan tegas si pedagang Arab itu menganggukkan kepalanya. Maka tanpa pikir panjang lagi, si pembeli membeli kain-kain tersebut.
Beberapa hari kemudian, si pembeli datang lagi dengan membawa kain yang dibelinya dari pedagang Arab tersebut dengan keadaan luntur. Dengan penuh amarah, dia berkata kepada si pedagang kain “ Bagaimana sih Pak ? katanya kemarin kain ini tidak akan luntur, sekarang buktinya kain ini luntur, saya mau minta ganti !!”. Si pedagang dengan penuh kesabaran bertanya kepada si pembeli kain, “Lho kan nggak ada perjanjian kalo luntur bisa ditukar, kalo menerima balik sih nggak apa-apa tapi kalo mengganti ya nanti dulu.”. sembari memendelikkan matanya, si pembeli kembali berkata, “tapi di pembungkus kain ini tertulis “ditanggung tidak luntur”, berarti Bapak bersedia menanggung apabila kain yang anda jual luntur warnanya.” Kembali dengan senyuman si pedagang berkata, “Sebentar Pak, tapi bapak salah baca. Bapak tahu kalo saya ini orang Arab, semua yang tertulis itu harus dibaca dari belakang bukan dari depan. Jadi kalimat tersebut seharusnya dibaca “luntur tidak ditanggung” bukannya “ditanggung tidak luntur”.
Membaca kisah di atas kita mungkin akan tersenyum, tetapi itulah kenyataan yang terjadi dan dihadapi oleh banyak orang di dalam mereka mencoba untuk membangun komunikasi dan memahami apa yang dimaksud oleh orang lain. Lalu bagaimana supaya kita tidak menjadi salah menafsirkan apa yang diungkapkan orang lain sehingga tidak terjadi “misunderstanding” yang bisa membawa akibat yang buruk dalam komunikasi.

B. Definisi

Berdasarkan kepada Oxford Dictionary, kata “communication” terbentuk dari kata “commune” yang mendapat perkembangan/ perluasan kata.
“Commune” sendiri dalam kamus tersebut diartikan sebagai : (1) feel at one with; feel, be, in close touch with; talk with in an intimate way. (2) group of people living together and sharing properties and responsibilities.
Sedangkan “Communication” sendiri didefinisikan sebagai : (1)the act of communicating ; (2)something which is communicated. Dengan kata lain ada dua jenis kata yang muncul dalam definisi ini, yaitu kata kerja (act of communicating) dan kata benda (something which is communicated). Berdasarkan kepada dua pengertian tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa komunikasi tidak hanya berbentuk kata kerja tetapi juga kata benda.
“Communal, communion dan community” adalah beberapa kata yang juga memiliki akar kata yang sama dengan kata komunikasi. Kata “communal” secara definitif lebih mengacu kepada kata keterangan yang menyatakan bahwa seseorang adalah bagian dari suatu komunitas. Kata “Communion” mengacu kepada tindakan yang berupa pertukaran pikiran dan perasaan; tindakan ini biasanya dilakukan oleh orang yang lebih dari satu, sedangkan “community” adalah kata benda yang menunjukkan bahwa “People living in one place”.
Berdasarkan dari penjelasan diatas, kita bisa membuat sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa kata komunikasi memiliki arti : interaksi antara dua orang atau lebih yang bersifat timbal balik dan menimbulkan pengertian yang sama satu dengan yang lainnya. Interaksi yang baik antara beberapa orang ini akan mengakibatkan terbentuknya sebuah kelompok yang sehat relasinya.

C. Sisi penting dari komunikasi

1. Komunikasi adalah kebutuhan manusia yang mendasar sebagai mahluk “Zoon Politicon”. Mau atau tidak sebagai mahluk sosial sekaligus mahluk individual manusia memerlukan komunikasi yang baik dengan sesamanya. Komunikasi menolong manusia untuk tetap hidup dengan normal.
2. Komunikasi selalu mengacu kepada keberadaan dari sebuah komunitas (kelompok yang di dalamnya terdiri pribadi yang berjumlah lebih dari satu orang dan biasanya memiliki ide/ gagasan yang sama). Sebuah komunitas yang tidak memiliki sebuah komunikasi yang baik bukanlah sebuah komunitas yang sehat.
3. Metode pengkomunikasian yang tidak baik bisa berakibat fatal bagi banyak hal. Apabila penerima pesan (Komunikan) tidak menangkap pesan sama dengan apa yang disampaikan oleh si penyampai pesan (komunikator) maka kejadian berikut yang bisa diduga adalah kekacauan. (Ilustrasi : Jangan dimakan & rambut-rumput)

D. Kondisi yang dihadapi orang percaya

1. Pengaruh pola komunikasi dunia membawa pengaruh buruk bagi orang kristen. Dunia cenderung menawarkan pola komunikasi yang munafik, yaitu komunikasi yang dibuat-buat, tidak dewasa, dan cenderung melindungi diri. Kita menemui banyak orang yang cenderung menutup diri karena takut orang akan menilai buruk tentang dirinya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berubah menjadi sosok lain yang bukan dirinya sendiri hanya karena ingin diterima oleh orang lain.
2. Tubuh Kristus tidak terbangun dengan baik komunikasinya (bdk. I Kor 12). Banyak bagian tubuh yang ingin menjadi lebih menonjol daripada bagian tubuh yang lain, sehingga ada bagian tubuh yang merasa tertolak dan menghindar dari kesatuan tubuh ini. Sikap superioritas dan inferioritas di dalam persekutuan membentuk pola komunikasi yang buruk, yang merasa superior tergoda menjadi sombong, sedangkan yang merasa inferior menjadi tertutup dan enggan bergaul.
3. Ketidakdewasaan rohani dari seseorang membuatnya tidak bisa menerima dan memahami dengan baik perkataan orang lain pada saat berkomunikasi (mereka enggan untuk ditegur dan diingatkan, perkataan yang harusnya membangun menjadi batu sandungan), sekaligus membuat mereka menafsirkan secara salah apa yang disampaikan kepadanya. (Akibatnya : berita yang seharusnya disimpan mejadi gosip hangat yang beredar)


E. Dasar Komunikasi yang baik

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang diungkapkan secara jujur, bukan dengan kepura-puraan tapi dengan membuka diri. Sebagai orang percaya kita dituntut untuk bisa menjadi model yang baik dalam berkomunikasi. Untuk memulai sebuah komunikasi yang baik seorang kristen harus mempercayakan dirinya kepada orang lain dan mau untuk peduli kepada orang lain (bdk.Gal 6:10), dengan kata lain dapat dikatakan komunikasi adalah sebuah tindakan untuk membuka diri supaya dikenal orang lain dan sebuah usaha untuk mengenal orang lain secara jujur. Bila orang-orang dunia cenderung untuk berpura-pura, orang percaya harus berani menyatakan dirinya dengan terbuka total. Memang terasa aneh bila kita mempercayakan diri kepada orang lain, tapi kita memiliki dasar yang mendorong kita untuk mempercayakan diri kepada orang lain tanpa merasa takut dihakimi atau ditolak komunitas kita.
1. Allah sudah menerima kita apa adanya (Rm 5:8), karena itu kita tidak perlu untuk berperilaku seperti orang-orang dunia yang berusaha untuk menutupi diri dan berpura-pura demi perasaan diterima dan dihargai oleh orang lain. Bagaimana kita memandang diri kita akan mempengaruhi konsep dalam diri kita.
2. Identitas kita sebagai orang percaya membuat kita tidak perlu untuk menutupi diri lagi dalam kepura-puraan. Sebagai bagian dari kerajaan Allah kita tahu bahwa orang-orang pilihan juga akan menerima kita apa adanya, karena sebagai orang yang sudah mengalami kasih pengampunan Allah mereka juga bisa mengampuni orang yang berbuat dosa dan menerimanya dalam komunitas orang percaya. Kesadaran ini seharusnya membuat kita berani terbuka akan keseluruhan bagian kehidupan kita di depan warga kerajaan Allah, karena kesalahan kita bukanlah sesuatu yang harus ditutupi tapi sesuatu harus dibereskan. Bersama dengan komunitas yang tepat kita akan bisa bertumbuh dalam kedewasaan.

F. Berkomunikasi secara aktif
Sebagai seorang komunikator yang baik :
1. Berbicara dengan jujur dan lugas, tidak menutupi kenyataan.
2. Selaraskan antara bahasa lisan, gerak-gerik dan ekspresi wajah.
3. Ungkapkan perasaan anda dengan tegas dan jelas, sehingga tidak disalahtafsirkan.
4. Jangan menambahkan berita dengan berita yang tidak seharusnya/ tidak benar.
5. Jangan berkata “tidak bisa” jika anda bermaksud “tidak mau”, katakan “ya” atau “tidak” secara jujur.
6. Pastikan komunikan menangkap maksud anda dengan jelas dan benar.
7. Perhatikan tingkat pemahaman orang yang menerima berita anda, sesuaikan dengan kemampuannya. Berikan kesempatan orang lain untuk bertanya/ mengungkapkan gagasannya dalam pembicaraan. Umpan balik sangat menolong orang untuk memahami apa yang anda sampaikan.

Sebagai seorang komunikan yang baik :
1. Menunjukkan minat untuk mengerti ide dan perasaan dari komunikator. Ekspresi dan gerakan mempengaruhi respon pemberi pesan. Allah memberikan kepada kita dua telinga dan satu mulut, hal ini menolong kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.
2. Berusaha untuk mengerti dan menafsirkan dengan benar ide dan perasaan komunikator. Jangan sungkan untuk bertanya bila anda tidak jelas. (Ilustrasi : sudah ditanggung) (SkD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!