MEMBANGUN GEREJA KAMI YANG RUBUH ...

Pada bulan September yang lalu saya menghadiri pertemuan anggota dewan United Evangelical Mission, sebuah persekutuan gereja di tiga benua. Kegiatan yang dilaksanakan di Wuppertal, Jerman ini, dilaksanakan selama kurang lebih satu minggu di Wisma milik UEM. Kebetulan pada waktu itu, sebelum saya bergabung dengan pertemuan tersebut saya menerima undangan dari salah satu anggota dewan UEM yang mewakili pemuda wilayah Jerman, untuk tinggal selama satu minggu bersama dengan keluarganya. Tentu saja dengan senang hati saya menerima undangan tersebut, karena menurut saya ini adalah kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk mengenal pemuda di Jerman. Ada banyak hal yang terbayang di dalam benak saya ketika saya hendak berangkat ke Jerman, terutama bayangan tentang kehidupan kekristenan di negeri itu. Meskipun saya mendengar banyak hal yang kurang menyenangkan tentang keadaan gereja di jerman, tapi saya tetap yakin bahwa saya dapat melihat kekristenan di sana. Saya membayangkan diri saya seolah seperti hendak melakukan perjalanan ziarah ke dunia kekristenan barat.
Satu minggu terlewati bersama dengan keluarga teman saya, saya diperlihatkan semua hal tentang Jerman secara umum, baik mata pencaharian, pola hidup sampai dengan sosialisasi masyarakatnya, bahkan saya sempat menyaksikan bagaimana proses pemilu berlangsung di sana. Dalam beberapa kesempatan saya juga di ajak melihat beberapa peninggalan sejarah kekristenan di jerman, seperti gereja dan kastil. Tapi hal yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat saya diajak untuk mengunjungi youth work, youth cafe dan confirmation class. Perkunjungan itu membuka mata saya bahwa apa yang saya takutkan adalah benar adanya. Pemuda tidak lagi memiliki kepedulian terhadap gereja. Meskipun jumlah mereka sangat besar dan gereja menyediakan banyak fasilitas bagi mereka, mereka tetap enggan untuk berada di dalamnya. Pada saat saya menanyakan kepada beberapa pendeta yang melayani pemuda, mengapa para pemuda tidak tertarik untuk datang ke gereja, jawaban mereka hampir sama : “ Bagi mereka, gereja adalah sesuatu yang old-fashioned atau sudah kuno, mereka menganggap ke gereja bukanlah hal yang penting dan menyenangkan untuk dilakukan”. Apa yang dikatakan para pendeta tersebut bukan tanpa alasan karena setiap kebaktian minggunya, di sebuah gereja yang bisa memuat 200 orang hanya di hadiri oleh 15 – 20 orang, itupun biasaya terdiri dari para lansia, dan beberapa anak yang tergabung dalam confirmation class (karena memang mereka di wajibkan datang untuk mendapatkan tanda tangan pendeta yang berkotbah). Saya semakin tertegun melihat kenyataan tersebut, dan bergumul dalam hati, bagaimana nasib gereja di masa depan bila pemuda tidak lagi peduli terhadap gereja ?. Kepada teman saya, saya berkata “ Ironis sekali yang terjadi diantara kita, kami orang Asia belajar tentang kekristenan dari kalian orang Eropa, tapi sekarang sepertinya sudah saatnya kalian belajar tentang spiritualitas kristiani dari kami orang Asia, bahkan mungkin adalah hal yang perlu untuk mengirimkan misionaris Asia kepada kalian supaya kalian dapat kembali menemukan kekristenan.”
Apa yang saya sharingkan di atas bukan cerita isapan jempol, itu adalah kejadian yang sebenarnya. Sekarang ini, sadar atau tidak, gereja sedang menuju kearah kehancuran, bukan hanya karena kekurangan jumlah jemaat tapi karena gereja tidak lagi menjadi “gereja yang dikehendaki oleh Tuhan”. Gereja telah kehilangan kekuatannya untuk menyatakan Injil Allah kepada dunia. Gereja mulai bertransformasi menjadi organisasi, padahal gereja seharusnya sebuah organisme yang terus berkembang dan bertumbuh. Gereja mulai sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak lagi mempedulikan masyarakat di sekitarnya. John RW Stott dalam bukunya “Sermon on the Mount” mengatakan “ ... “... Gereja tidak lagi menyatakan fungsinya sebagai garam dunia yang memberikan pengobat dari rasa sakit karena dosa, malah sebaliknya menjadi madu dunia yang makin mempermanis dosa dunia, dengan kata lain gereja telah menjadi sama dengan dunia (bahkan lebih buruk), dan tidak lagi menunjukkan budaya tandingan yang membuatnya menjadi berbeda dengan dunia ...”. Bagi beberapa orang perkataan ini keras, tapi bagi saya perkataan ini menggaungkan kebenaran yang harus diperhatikan. Karena tanpa kita sadari pada saat gereja mulai menjadi sama dengan dunia, kekristenan menjadi kehilangan maknanya. Bukankah gereja di panggil untuk menampakkan budaya kerajaan Allah yang sama sekali berbanding terbalik dengan apa yang ditawarkan oleh dunia ? Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa gereja harus segera dikembalikan ke jati dirinya yang semula, yaitu menjadi persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil keluar dari dosa untuk menyatakan kemuliaan Allah. Tapi bagaimana dan siapa yang bisa melakukan pemulihan tersebut ? Ini bukan pekerjaan yang mudah, tapi juga bukan pekerjaan yang bisa diabaikan.
Apabila ditanya siapa yang bisa melakukannya, saya akan menjawab dengan mantap : semua orang percaya yang dipimpin oleh Roh Kudus mampu untuk mengerjakannya. Tidak peduli berapa usia dan jenis kelaminnya, semuanya dapat menjadi pribadi yang efektif bila memang mau dipakai oleh Tuhan. Tapi saya pribadi menekankan bahwa pemuda memiliki potensi yang lebih besar untuk melakukan pemulihan tersebut. Mengapa pemuda lebih efektif ? Dalam pemahaman saya yang terbatas pemuda adalah sosok yang sudah mapan secara fisik, mental, dan spiritual dibandingkan anak (yang masih bergantung penuh kepada orangtuanya) dan remaja (yang masih berusaha menemukan identitasnya), selain itu mereka juga cenderung tidak terikat dengan keluarga, karena memang belum menikah. Potensi inilah yang membuat pemuda bisa mengerjakan banyak hal untuk membangun kembali jati diri gereja yang rusak. Meskipun pemuda memiliki banyak potensi, tapi saya mengakui memang tidak sembarang pemuda bisa menjadi orang yang dapat memulihkan gereja. Para pemuda yang terpilih adalah pemuda yang memiliki kualitas iman dan ilmu, pemuda yang sanggup menyatakan iman dan ilmu mereka dalam kehidupan keseharian.
Alkitab mencatat beberapa tokoh pemuda yang memiliki kualitas iman dan ilmu, selain Yesus, saya mencatat Paulus, Timotius, Titus, Daud dan masih banyak yang lainnya. Dan orang-orang inilah yang menurut Alkitab, bisa merubah banyak hal di atas dunia. Salah satu tokoh muda yang juga hendak kita lihat adalah Daniel, seorang pemuda Yehuda yang dibuang ke Babel menjadi pembantu raja Nebukadnezar. Dia dibuang ke babel pada saat masih berusia remaja, bersama dengan Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Tapi dengan pengharapan yang teguh kepada Tuhan dan pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka, mereka menjadi orang yang berkualitas iman dan Ilmu. Iman mereka membuat seluruh negeri jajahan Babel tidak memandang sebelah mata kepada Tuhan yang telah menyelamatkan mereka dari tungku api dan gua singa, Ilmu pengetahuan yang diberikan Tuhan membuat Daniel dianggap sebagai orang yang paling berhikmat di seluruh negeri, bahkan kemampuannya digunakan oleh tiga orang raja dari negeri yang berbeda, yaitu Babel, Media, dan Persia.
Kita membutuhkan orang-orang seperti itu untuk merubah gereja dan dunia. Kita tidak membutuhkan orang yang kehidupannya rohani tapi tidak memiliki ilmu sehingga hanya menjadi orang yang hidup di awang-awang dan tidak membumi, mereka hanya berbicara tentang sorga tapi tidak peduli dengan apa yang bisa kita lakukan bagi dunia ini. Kita juga tidak membutuhkan orang yang pandai tapi tidak memiliki iman sehingga mereka hanya menjadi orang yang mengejar keinginan dan kepentingan mereka sendiri dan tidak peduli dengan kerajaan Sorga, serta nilai-nilai kebenaran.
Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, saya bersyukur kepada Tuhan, karena masih mendapati beberapa pemuda kristiani mulai menunjukkan kepeduliannya tidak hanya terhadap gereja tetapi juga terhadap negara. Belum lama berselang saya mendengar berita bahwa ada beberapa mahasiswa dan alumni universitas di Jawa Timur mulai membentuk komunitas pelatihan pemuda, dimana di dalamnya mereka melatih secara kontinyu para pemuda yang memiliki kompetensi dan kepedulian terhadap kondisi negara, dengan materi kepemimpinan, manajemen dan perpolitikan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi para pemimpin negara yang berkualitas iman dan ilmu di masa depan. Mereka dididik untuk menjadi pemimpin yang mempedulikan masyarakat dengan kegentaran akan Tuhan. Komunitas ini bahkan juga menggalang beasiswa yang ditujukan untuk membiayai studi bagi para pemuda yang potensial untuk dijadikan ujung tombak di pemerintahan. Di tempat lain, di Jakarta dan Sumatera Utara, ada juga proyek peningkatan kualitas pendidikan. Beberapa alumni universitas dan para pemuda yang prihatin akan keadaan kualitas pendidikan di Indonesia mulai menggodog sistem pendidikan yang membangun kualitas manusia secara iman dan ilmu. Beberapa anggota yang adalah direktur dan ketua yayasan pendidikan ini sepakat untuk mengajukan kurikulum sistem pendidikan nasional kepada dinas pendidikan Indonesia. Selain itu mereka juga mulai merancangkan beberapa proyek pendirian sekolah yang berkualitas dengan biaya terjangkau oleh masyarakat. Mereka berharap nantinya, orang-orang yang dihasilkan di dunia pendidikan Indonesia benar-benar menjadi orang yang berkualitas.
Bagaimana dengan pemuda kristiani lainnya, apakah mereka mulai peduli terhadap keadaan negara dan gereja pada saat ini ? ataukah mereka sibuk dengan hidup mereka sendiri ? kadang-kadang saya merasa prihatin dengan para pemuda yang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Mereka mengatakan, “Saya tidak punya waktu untuk ngurus gereja, apalagi pelayanan. Mikir negara juga bikin pusing, mending gak usah ngurusin”. Tapi, siapa yang mau peduli terhadap gereja dan negara kita bahkan dunia, bila kita tidak mulai dari diri kita sendiri, apakah kita hendak membiarkan kesaksian hidup gereja kita menjadi pudar, dan apakah kita merelakan negara kita menjadi terpuruk tanpa ada perjuangan apapun dari kita.
Jangan hanya menyembunyikan diri dengan alasan sibuk kerja atau sekolah. Daniel dengan segala kesibukannya mampu menggunakan potensinya dengan baik, dia tetap belajar, dia tetap bekerja sebagai penasihat raja, dia tetap bersekutu dengan Allahnya, tapi dia tetap bisa mengadakan perubahan yang besar bagi tiga negara, dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupannya. Saya tidak mencoba untuk mengatakan, bahwa kita harus menjadi sama seperti Daniel, dia hanyalah salah satu teladan yang bisa diikuti, tapi yang ingin saya katakan adalah : Apapun yang Anda lakukan dan alami saat ini, Anda bisa berbuat sesuatu untuk Tuhan dan sesama tanpa harus mengabaikan tanggung jawab Anda.
Saya pribadi, bisa merasakan apa yang para pemuda rasakan, saya adalah salah seorang mahasiswa tingkat awal di Universitas Diponegoro yang harus menghadapi begitu banyak tugas dari dosen saya, saya juga salah seorang pegawai rumah sakit di kota Semarang, meski demikian saya juga berlatih untuk menjadi seorang pemuda yang tetap menyediakan diri untuk melayani Tuhan.
Apa yang saya pahami selama ini terhadap pertanyaan : Mengapa banyak orang kristen yang lari dan tidak peduli terhadap gereja dan dunia adalah : bukan masalah ketidakadaan waktu, tapi ketidakadaan beban. Bukan masalah ketidakmampuan melayani, tapi ketidakmampuan menaklukkan diri mengikuti kehendak Tuhan. Bukan masalah kesulitan berbaur dengan orang lain, tapi kesulitan untuk melihat visi yang Tuhan berikan.
Mengapa kita harus kuatir akan banyak hal yang kita hadapi, bukankah ketika yang kita miliki hanya Tuhan, kita sudah memiliki segalanya. Jadi bersama dengan Tuhan, yakinlah bahwa kita bisa mengerjakan banyak hal bagi kemuliaanNya. Ingat dan sadarilah bahwa dunia ini membutuhkan gereja, gereja membutuhkan pemuda, dan pemuda membutuhkan kualitas iman dan ilmu.

* Penulis adalah salah seorang dewan United Evangelical Mission utusan pemuda, yang berjemaat di Gereja Kristen Jawa Tengah Utara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!