KEKERINGAN YANG MELANDA

Meskipun musim kemarau sudah hampir berakhir dan disambut dengan datangnya musim penghujan, tapi sepertinya sisa-sisa keperkasaan dari musim kemarau masih meninggalkan banyak kedukaan bagi banyak rakyat Indonesia. Baru-baru ini salah satu dari media cetak nasional mendaftarkan beberapa bencana yang diakibatkan dari musim kemarau yang berkepanjangan ini. Ada kekeringan, kekurangan air, gagal panen, dan yang terakhir adalah kebakaran hutan – tidak hanya di sumatra, kalimantan dan sulawesi, bahkan gunung Merbabu di Jawa Tengah pun ikut-ikutan kebakaran.
Kadangkala saya merasa geli dengan respon orang-orang Indonesia yang sering mengeluhkan cuaca yang kadang tidak bisa ditebak. Terlalu lama kemarau terjadi kekeringan mereka mengeluhkan kekurangan air, terlalu sering hujan terjadi banjir, mereka mengeluhkan banyak ekses yang mengikuti. Dan karenanya banyak orang yang komplain kepada Tuhan dengan penuh ketidakpuasan.
Berbicara masalah kekeringan yang memunculkan banyak akibat seperti misalnya : kekurangan air, gagal panen, sampai dengan kebakaran hutan. Saya jadi membandingkan dengan kekeringan yang terjadi di dalam diri kita. Kira-kira apa saja akibatnya ya ?
Kekeringan yang terjadi di dalam diri kita seringkali menjadi penyebab awal ketidakmampuan kita untuk menjawab pertanyaan “mengapa aku hidup ?”. Banyak orang kehilangan tujuan dan alasan untuk hidup karena adanya kekeringan yang berkepanjangan dalam diri mereka. Orang-orang seperti ini biasanya hidup sesukanya (bukan menyukakan Allah). Mereka melakukan apa yang mereka inginkan (bukan apa yang Allah inginkan), apapun yang menyenangkan mereka (bukan menyenangkan Allah). Dan hal ini seringkali membawa mereka kepada kehancuran diri.
Beberapa abad yang lalu di suatu siang yang terik, Yesus sedang duduk di pinggir sumur di Samaria bersama dengan seorang perempuan yang pernah menikah sebanyak lima kali. Bayangkan lima kali !. Perempuan ini menikah sampai berkali-kali karena dia tidak punya tujuan hidup selain mencari pemuasan bagi dirinya sendiri. Tapi bahkan dengan berganti pasangan sebanyak lima kali pun Dia tetap tidak menemukan jawaban atas kekeringan hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa hidup bagi pemuasan diri sendiri bukanlah sebuah alasan hidup yang tepat.
Yesus duduk dan menawarkan air kehidupan kepada perempuan itu, suatu mata air yang membuat dia tidak akan pernah merasa kehausan lagi. Air kehidupan yang ditawarkan Yesus tidaklah sama dengan air yang mengalir dari sumber manapun, tapi air ini adalah air kehidupan yang Illahi, air yang menyegarkan segala jenis kekeringan yang di dalam diri manusia, air yang sanggup menyusup ke dalam celah tersempit sekalipun dan memberikan kelegaan bagi mereka yang menerimanya.
Apakah air kehidupan itu ?
Air kehidupan itu adalah Injil yang diberitakan oleh Kristus. Injil yang menuntun manusia untuk mengalami keselamatan, serta Injil yang memuaskan setiap kelaparan dan kehausan seseorang akan kebenaran Allah. Pada saat seseorang berpaling kepada Injil ini, dia akan melihat keagungan kasih Kristus yang menebus dosa manusia di atas kayu salib, serta karya Roh Kudus yang memuaskan rasa lapar dan dahaga orang-orang yang mencari kebenaran.
Sudahkah air kehidupan dari Kristus menyentuh kehidupan anda ? sudahkah Anda dipermandikan dalam kekuatannya yang menyingkirkan dosa dan disegarkan dari kepenatan beban hidup yang anda tanggung serta dilegakan dari kehausan akan kebenaran yang berkepanjangan karena kekeringan dalam diri anda ? datanglah kepada Kristus dan anda akan memperolehnya. SkD (03/11/2006)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!