SEBUAH KEPUTUSAN

Sore itu langit terlihat gelap dan kelam. Kilat yang sesekali menyambar membuat suasana sore itu terasa kian mencekam bagiku. Aku duduk termenung menatap ikan-ikan yang berenang kian kemari di dalam akuarium dengan penuh kegembiraan yang seolah tidak peduli dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, terutama keberadaan dirku. Hari ini segala sesuatu yang aku hadapi terasa berat sekali. Perasaanku yang tidak tenang, hatiku yang kacau balau membuat semua kegiatan yang aku jalani hari itu kian menyempurnakan kegalauan hatiku.

Kusibakkan rambut yang luruh menutupi wajahku lalu kutundukkan kepalaku sembari menghela nafas pelan. Aku terdiam.
Tiba-tiba kurasakan sebuah sentuhan telapak tangan yang menjamah lembut pundakku di susul dengan suara menyapa namaku, “ Wid ...!”.
Kutolehkan kepalaku ke arah suara yang menyebut namaku dan di hadapanku aku melihat seraut wajah, dengan seulas senyum mengembang, yang selama ini selalu membawa keteduhan dan kedamaian bagiku, baik susah maupun senang.
“Ada apa ma ... ?, tanyaku.
“Mama lihat beberapa hari ini kamu tampak murung sekali, ada apa sayang ...?”, tanya mamaku, sosok yang menyapa aku, sambil beranjak menuju sofa.
“Nggak ada apa-apa kok ma ...!”, jawabku sambil berusaha tersenyum untuk menutupi kegalauan hatiku.
“Ayo sayang, tidak perlu malu bilang sama mama ... !”, ucap mama berusaha membangkitkan rasa percaya diri di dalam diriku.
Aku masih tetap membisu dan mengeraskan hati untuk tidak berbicara.
“Kamu punya masalah di sekolah ?”, tanya mamaku lagi. “Dengan temanmu, gurumu, atau pelajaranmu ?”, tanyanya berutun.
“Hmm ... ya sudah kalau tidak mau bicara, tapi jangan manyun dong ... “, ujar mamaku mencoba untuk menghibur.

Mamaku kemudian berdiri dan mulai beranjak dari tempat duduknya. Belum genap dua langkah mamaku berjalan, kuraih dan kugenggam pergelangan tangannya menahan, dan berkata,
“Ma, ada yang mau Wiwid sampaikan ke mama”, kataku sambil menatap wajahnya dengan penuh harap.
Tetap dengan senyum manis tersungging, mama kembali duduk dan bersiap untuk mendengarkan keluh kesahku.

Aku terdiam beberapa saat, berusaha untuk meyakinkan hatiku yang saat itu bergejolak dengan hebatnya, ada keraguan, kebimbangan bahkan ketakutan yang menyeruak ketika aku hendak berbicara. Tapi saat aku melihat wajah teduh mama dengan senyuman dan pandangannya yang tenang, tumbuh keberanian dalam diriku untuk mengungkapkan permasalahanku.
“Wiwid bingung ma ... Wiwid nggak tahu apa yang harus Wiwid lakukan ...”, kataku memulai percakapan.
“Mama ingat nggak teman Wiwid yang bernama Wisnu ?”, tanyaku kepada mama.
“Hmmm, Ya ... mama ingat, temanmu yang datang waktu kamu ulang tahun itu kan ?”, tanya mamaku.
Kuanggukkan kepalaku atas jawaban yang diberikan oleh mama.
“Ada apa dengannya Wid ... ?”, tanya mamaku dengan sabar.
“Dia ... “, sesaat aku terdiam berusaha untuk mengumpulkan segenap keberanianku untuk menyampaikan apa yang terjadi kepada mama.
“Dua hari yang lalu Wisnu menyatakan perasaan cintanya pada Wiwid dan ... dan Wiwid bingung Ma ..., Wiwid tidak tidak tahu apa yang harus Wiwid perbuat ... Wiwid tidak tahu harus ngomong apa ke Wisnu ... !”.
Kuberanikan untuk menatap wajah mamaku, terus terang aku sedikit kuatir seandainya terjadi perubahan raut wajah Mama begitu mendengar perkataanku barusan. Tapi wajahnya tetap mengekspresikan keteduhan.

“Hmmm ... Perasaanmu sendiri bagaimana Wid ... ?, maksud mama perasaanmu terhadap Wisnu ... ?”, tanya mamaku.
“Wiwid juga menyukainya ma ... sejujurnya bagi Wiwid, Wisnu adalah cinta pertama Wiwid, tapi ... “.
“Tapi apa Wid ... ?”, tanya mamaku.
“Wiwid takut, Wiwid takut pada papa dan mama ... “, kataku mantap.
“Takut ... ?, papa dan mama kan tidak pernah melarangmu untuk pacaran ... kamu sudah cukup dewasa untuk memutuskan sendiri jalan hidupmu Wid.”, jawab mama.
“Tapi ma ... bukankah dulu papa pernah berkata kalau papa menghendaki pasangan hidup anak-anaknya harus seiman dan sepadan, padahal Mama tahu kan kalo Wisnu bukan orang percaya, ia tidak seiman dengan kita ma ... “, kataku.
“Wiwid ... Wiwid ... papa dan mama menekankan hal itu bukan supaya kamu takut, tapi supaya kamu taat. Sebenarnya seiman dan sepadan adalah dua dasar dari pernikahan yang Allah kehendaki dari anak-anakNya. Allah tidak menghendaki anak-anakNya terhilang dari padaNya seperti domba yang tanpa gembala, dan mama berharap kamu melaksanakan itu bukan karena tekanan, tapi karena kesadaran bahwa itulah yang dikehendaki Allah. Lagipula bila kamu menikah kelak dengan pasangan yang tidak seiman dan sepadan bagaimana nasib anak-anakmu, merekalah yang menderita karena harus menghadapi perbedaan antara kedua orang tuanya...?”, jawab mama dengan lembut.
“Tapi ma ... Wiwid sudah terlanjur mencintainya, bertahun-tahun Wiwid berdoa supaya Wiwid bisa bersatu dengan Wisnu. Tapi sekarang, setelah doa itu terjawab, masa Wiwid tidak diperbolehkan untuk berhubungan dengannya. Ini kan tidak adil Ma ..., Tuhan tidak adil ... ! Kalau Ia tidak menghendaki Wiwid berhubungan dengan Wisnu mengapa Ia menjawab doa Wiwid ...”, kataku dengan suara meninggi dan terdengar parau.
“Ingat Wid ..., kadangkala Allah mengizinkan suatu perkara terjadi dengan tujuan untuk kebaikan kita, Ia hendak menguji dan menguatkan iman kita dalam Kristus...”, jawab mamaku.
“Ma ... Wiwid kan baru mau pacaran, bukannya menikah, lagipula seandainya kelak menikah bukankah selama pacaran Wiwid bisa menginjilinya sehingga ia menjadi kristen dan bisa menikah di gereja...”, kataku ngotot.
“Seringkali itulah yang terlewat Wid ... banyak anak muda yang tidak menganggap pacaran sebagai jalur menuju ke pernikahan, tapi sebagai tempat untuk bersenang-senang. Kalau seorang melihat pacaran sebagai jalur menuju pernikahan, ia tentu akan memilih pacar juga dengan berhati-hati, karena suatu saat pacarnya itulah yang akan menjadi pasangan hidupnya, kecuali kalau ia mau berganti-ganti pacar. Tapi kalau menurut mama, gonta-ganti pacar itu bukan sebuah usaha untuk membangun hubungan yang sehat antar lawan jenis tapi bermain-main dengan lawan jenis. Dan lagi bila pacarmu itu bukan orang percaya akan sulit bagimu meyakinkan bahwa ia bisa menjadi orang percaya. Mungkin kamu berkata bahwa ia bisa dinjili, tapi hati orang siapa tahu, mungkin saja ia menjadi orang kristen tapi apakah ia memiliki iman kepada Kristus ? Ingat Wid ... menjadi kristen itu bukan semata-mata perubahan status di KTP tapi panggilan Roh Kudus”, kata mamaku menjelaskan.
“Mama tidak bisa mengerti Wiwid ... !”, kataku sambil berlari menuju kamar.
Kututup pintu kamar sekeras-kerasnya lalu kukunci dari dalam, aku tidak peduli kepada mama yang mengetuk kamarku dan memanggil-manggil namaku.
Sayup-sayup kudengar mama berkata, “Wid ... mama sayang kamu, ini semua untuk kebaikan kamu ...”.
Di dalam kamar, kulampiaskan semua kekesalanku dengan menangis sepuas-puasnya sampai tak terasa aku tertidur karena kelelahan.

Malam itu aku terjaga dari tidurku, kutekan tombol lampu kamarku untuk menyalakannya. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, kusandarkan tubuhku pada tembok dan kuhembuskan nafasku perlahan. Pikiranku menerawang jauh dan di telingaku terngiang setiap perkataan mamaku sore tadi. Perlahan-lahan setiap bayangan tentang Wisnu mulai merasuk dan mengkoyak-koyak pikiranku.
“Ahhh ... Tuhan, seandainya saja Engkau mengizinkan aku mencintai Wisnu ...! Seandainya saja Wisnu orang percaya ..., Seandainya saja Wisnu orang yang Engkau sediakan buat aku. Entahlah ... Tuhan apa yang harus kuperbuat, hati kecilku tidak bisa menyangkali bahwa aku sangat mencintai Wisnu, tapi di sisi lain akupun tidak mau melawan kehendak orang tuaku.”

Dalam kekalutanku kuambil Alkitabku, kuputuskan untuk meneruskan pembacaan Alkitab tahunanku yang kemarin baru terselesaikan sampai pasal kelima surat dua Korintus. Aku tidak tahun dan aku juga tidak yakin apakah aku bisa memperoleh sesuatu dari apa yang akan aku baca di Alkitab, aku hanya berusaha untuk mengusir kebimbangan hatiku dengan melakukan aktifitas yang lain. Tapi, betapa tersentaknya aku saat membaca pasal 6:14 dari surat 2 Korintus yang berbunyi : “ Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya, sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan ? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap.”
Tubuhku tiba-tiba menjadi gemetar saat aku membaca ayat ini, dengan bergumam dari mulutku terucap kata-kata, “Ini Firman Tuhan, bukan perkataan orang tuaku, bukan perasaanku, tapi kehendak Tuhan.”.
Sesaat aku terdiam. Ada perasaan sakit yang seakan merobek dadaku, bahkan sampai air mata ini menetes saat aku mengendapkan kata-kata ini. Di dalam kegentaran ini akupun berdoa di hadapan Tuhan, “Tuhan ampunilah hambaMu yang selama ini memaksakan apa yang menjadi kehendak hambaMu, hamba tidak mau mendengar suaraMu, hamba terlalu mengeraskan hati kepadaMu, tolong hambaMu ya Tuhan untuk taat pada kehendakMu Tuhan, meskipun hamba tahu itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan tapi mampukan hambaMu ini, tolong hamba untuk berani berkorban bagiMu karena hamba tahu rencanaMu adalah yang terbaik bagi hambaMu.”
Setelah berdoa, ada perasaan lega yang kurasakan mengalir dengan begitu luar biasa di dalam diriku, seolah-olah beban yang menekanku selama ini sudah terangkat, pintu yang selama ini tertutup dan menjadi penekan di hidupku sudah terbuka, aku bebas ... ! Dalam hatiku tersusun kata-kata yang akan kuucapkan kepada Wisnu besok. “Wisnu, akupun mencintaimu sama seperti engkau mencintai aku, tapi aku juga sadar bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki dan cinta terkadang harus memilih, maafkan aku, ada satu perbedaan besar di antara kita yang aku takut tidak bisa disatukan, aku lebih mencintai Tuhanku. Aku tahu hal ini tidak mudah bagi kita berdua, tapi dengan sepenuh hati aku berharap engkau akan menemukan orang lain yang engkau cintai dan juga bisa mencintaimu lebih daripada aku.”

Kututup buku diaryku yang sudah tiga tahun tidak tersentuh, berdebu dan penuh dengan goresan buah penaku, buku inilah yang menjadi saksi hari-hariku yang kulalui saat aku masih mencintai Wisnu. Entah kenapa sore ini aku tertarik untuk kembali membuka dan membaca setiap goresan yang mengikhtiarkan masa laluku.
Kuhempaskan tubuhku diatas tempat tidur dan dengan pandangan mata yang menerawang jauh di langit-langit aku mencoba untuk mengingat dan membayangkan tentang masa tiga tahun silam.
“Wisnu dimanakah engkau sekarang berada, bagaimanakah keadaanmu sekarang ...?”, gumamku pelan.
Tiba-tiba aku tersentak saat terdengar deringan telepon di meja kamarku. Sambil duduk bersandar di tempat tidur, kuangkat gagang telepon tersebut.
“Halo selamat sore ... “, kataku memulai percakapan.
“Halo, Wiwid ya ... ?, terdengar suara dari seberang.
“Iya, ini dari siapa ya ...?”, tanyaku.
“Ini aku Daniel ... kamu sudah siap apa belum ... ?”.
“Siap ... ? siap apa maksudmu ?”, tanyaku kebingungan.
“Lho gimana sih, katanya mau berangkat persekutuan doa di kampus, jadi apa nggak ?”.
“Ya ampun aku lupa ... sudah jam berapa sekarang ?”, tanyaku.
“Jam 17.30”, jawab Daniel.
“Waduh maaf ya aku kelupaan, ya sudah kamu jemput aku ke sini jam 18.00 ya ... aku mandi dulu.”.
“He eh, tapi bener lho aku sampai sana kamu harus sudah siap.”.
”Pasti deh ... yuk udah gitu dulu, aku mau mandi”, jawabku terburu-buru.
”Sampai nanti...”. Klik ! telepon terputus.

Sesaat aku termenung menatap telepon itu dan bergumam sendiri. “Kamu tahu nggak Wis ? Sejak enam bulan lalu akhirnya aku menemukan pribadi yang menggantikan dirimu, pribadi yang takut akan Tuhan, yang sepadan dengan aku, dan dengan dirinya aku semakin dekat dan bertumbuh dalam Tuhan.”
“Terima kasih Tuhan, setelah sekian lama aku berdoa dan bergumul kini Engkau memberikan Daniel sebagai pribadi yang mengasihi aku dan pribadi yang aku kasihi. Kiranya Engkau mendengar kerinduan kami. Amin.”
Dengan langkah yang ringan dan pasti kuayunkan kakiku menuju kamar mandi sambil bersenandung kecil, “yang terbaik yang sempurna menurut pemandangan Tuhan. Tulang rusukku yang lama hilang kini kutemukan kembali”. – SkD –

Komentar

  1. This is awesome article.
    https://www.reetresult.co.in
    https://www.resultview.in
    https://rrbresult2016.co.in
    https://www.exambaba.in
    https://sabsehatke.com

    BalasHapus

  2. This is awesome article.
    https://www.reetresult.co.in/hssc-shift-attendant-interview/
    https://www.reetresult.co.in/cs-executive-result/
    https://www.reetresult.co.in/kerala-psc-ldc-kottayam-wayanad-answer-key/
    https://www.reetresult.co.in/hpscb-junior-clerk-admit-card/
    https://www.reetresult.co.in/hptu-btech-date-sheet/
    https://www.reetresult.co.in/gsssb-statistical-assistant-research-assistant-result/
    https://www.reetresult.co.in/esic-udc-skill-test-admit-card/
    https://www.reetresult.co.in/kerala-set-answer-key/
    https://www.reetresult.co.in/aia-pget-answer-key/
    https://www.reetresult.co.in/cma-foundation-inter-final-results/

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!