SAHABAT

Gadis manis itu menangis di dalam pelukanku, aku biarkan bajuku makin menjadi basah oleh air matanya.

Namanya Citra, seorang gadis remaja yang beranjak menjadi dewasa. Wajahnya manis di dukung oleh keramahan dan keceriaannya membuat dia dikenal oleh banyak orang, dan tidak mengherankan bagiku bila dia menjadi perhatian banyak pemuda, tidak hanya di sekolah, bahkan di lingkungan tempat tinggalnya. Citra bagaikan sekuntum bunga yang sedang merekah dengan indahnya.

Sedangkan aku, aku adalah seorang gadis yang sebaya dengan dirinya. Tetapi berbeda dengan dirinya yang cantik, aku adalah seorang anak gadis yang berbadan agak gemuk dan berkacamata tebal. Aku seorang yang lebih suka menyendiri dan menghabiskan waktuku dengan membaca segala jenis buku.

Kadangkala aku pun terheran-heran, bagaimana aku bisa bersahabat dekat dengan Citra, padahal kami hampir bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Dia cantik, aku tidak. Dia anak seorang pengusaha garment, sedangkan aku hanyalah anak seorang guru SD. Dia suka dengan keramaian sedangkan aku lebih suka menyediri. Tapi baru-baru ini aku menyadari, bahwa yang membuat aku bisa bertahan bersahabat baik dengan Citra dan sebaliknya adalah keterbukaan kami. Kami melewatkan waktu persahabatan kami sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Aku masih ingat pada waktu itu, Citra yang sedang pulang dari warung di kejar seekor anjing. Dia ketakutan dan berlari dengan cepat. Pada saat itu aku yang berjalan tidak jauh dari dirinya segera membantu dia dengan melempar anjing tersebut dengan batu. Memang anjing tersebut lari lintang pukang, tapi Citra sudah jatuh karena tersandung batu ketika di kejar anjing. Aku mendekatinya dan mengantarkannya sampai ke rumah. Sejak hari itu aku dan dia bersahabat satu dengan yang lainnya. Tidak hanya di sekolah dan di gereja, tapi juga di mana saja.

Masa-masa kecil kami, kami lewati dengan penuh kegembiraan, bermain di sekolah, pergi sekolah minggu bahkan berbelanja bersama ke pasar. Tidak terhitung berapa kali aku menginap di rumahnya dan dia menginap di rumahku, kedekatan kami memang berakibat kedekatan keluarga kami satu dengan yang lainnya.

Tapi sekarang rasanya segala sesuatu sudah berbeda. Semenjak aku masuk ke SMU negeri dan Citra memilih untuk bersekolah di sekolah swasta favorit. Hubungan kami mulai beranjak menjauh, memang pada awalnya kami masih sering pergi bersama, tapi frekuensi pertemuan kami semakin lama semakin berkurang. Aku mulai mendengar bahwa dia mulai mendapat sahabat-sahabat baru, bahkan aku dengar dia sudah mulai punya pacar. Memang tidak mudah bagiku pada mulanya, ketika mendapati sahabat terdekatku ternyata mendapat sahabat-sahabat baru. Aku seolah tersingkir dan semakin terlempar jauh dari dirinya.

**************

Sore ini, aku berbaring dengan santai di kamarku sembari membaca Majalah Remaja yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan sepulang dari sekolah siang tadi. Ketika sedang tenggelam di dalam kisah yang sedang aku baca, tiba-tiba ponselku berdering dengan keras. Aku melonjak dan segera mengambil ponselku yang berada di atas meja belajarku.

Halo ... ! Ya ... ! ... Apa ... !! kamu serius ...? Oke kalo begitu sekarang juga aku ke sana”.

Segera ku matikan ponselku, dan setengah tergesa aku berganti pakaian dan meraih sekenanya tas kecil yang ada di atas meja belajarku.

Baru saja aku menerima telepon dari Tika, salah seorang teman SMP ku yang satu sekolah dengan Citra. Dia memberitahukan kepadaku bahwa tadi pagi Citra masuk rumah sakit, dan selama sakit dia terus mengigau memanggil namaku. Tapi ... ya Tuhan, kenapa aku sampai lupa menanyakan penyebab masuknya Citra ke rumah sakit. Dengan setengah berlari aku bergegas keluar dan menyetop angkutan yang melaju pelan di depan gang rumahku.

****************

Sepuluh menit kemudian, aku sampai di rumah sakit dimana Citra di rawat. Di lobby aku lihat Tika sedang duduk termenung melamun sendirian. Aku berlari mendapatkannya.

Tik, apa yang terjadi ? Kenapa Citra masuk ke Rumah Sakit ?”, tanyaku secara beruntun kepada Tika, bahkan saat aku belum sampai ke tempat duduknya.

“ Tenang dulu Din, dia sudah mulai membaik ... ?”, jawab Tika menenangkanku.

“ Citra sudah masuk ke rumah sakit sejak dua hari yang lalu, tapi aku memang baru memberitahukannya kepadamu hari ini.”, lanjutnya

“ Sudahlah ... kenapa dengan Citra, dia sakit apa ?”, tanyaku sekali lagi.

Ehmm ... sebaiknya kamu berbicara sendiri dengan dia, dia sudah sadar kok ... memang belum baik benar, tapi dia sudah bisa di ajak bicara.”

Lho memangnya ada apa to ?”, ujarku penasaran.

“ Dua hari yang lalu dia mencoba untuk bunuh diri dengan menelan obat tidur sampai overdosis ...”

“ Apa ... !!! bunuh diri ...”, seruku kaget dengan setengah memekik.

“ Ya ..., dan keluarganya baru tersadar, saat kamarnya yang terkunci tersebut tidak dibuka saat diketuk berulangkali. Mereka mendobrak masuk dan mendapatkannya dalam keadaan kritis, segera saja mereka membawanya ke rumah sakit ini.” Lanjut Tika menjelaskan.

“ Kenapa kok Citra sampai mau bunuh diri ? apa dia lagi ada masalah ?”, tanyaku.

Aku juga kurang tahu ... dia juga tidak pernah menceritakan masalahnya kepadaku ?”, jawab Tika

Sekarang, di ruangan mana Citra dirawat ?”, tanyaku tergesa.

Di kamar Permata 5 ...

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, aku segera berdiri dan melangkahkan kaki ke tempat yang telah di sebutkan Tika.

**************

Di kamar Permata 5 kulihat, Citra terbaring dengan selang infus tertancap pada punggung telapak tangannya sebelah kanan. Matanya terpejam, dan di wajahnya terlihat kelelahan seperti sedang menanggung beban yang begitu berat. Wajahnya yang dulu selalu menyorotkan keceriaan terhapus dengan kedukaan yang dalam tersebut.

Aku mendekat dan duduk di sebuah kursi yang terletak di samping tempat tidurnya. Kamar itu kosong, tidak ada seorangpun di sana, kecuali aku dan Citra, sepertinya memang Tika lah yang menunggui Citra. Kupegang tangannya dan kugenggam.

Citra ... apa yang sebenarnya telah terjadi denganmu ?”, kataku bergumam setengah berbisik.

Kenapa sampai kamu senekat itu untuk bunuh diri, ada apa sebenarnya ?”.

Perlahan matanya terbuka dan menatap kepadaku, tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi sayu, dan kedukaan terpancar di dalamnya. Tidak lama berselang, dia mulai menangis di hadapanku. Aku pun berdiri dan mendekat kepadanya, ku gerakkan tanganku merengkuh bahunya dan ku bawa dia dalam pelukanku. Tangisnya semakin menjadi di dalam pelukanku. Aku hanya bisa berdiam membiarkan Citra menangis membasahi bajuku, aku biarkan dia melepaskan beban yang sedang menghimpit dirinya. Paling tidak itulah yang bisa aku lakukan sebagai seorang teman.

Beberapa saat kemudian saat Citra sudah mulai agak tenang, aku mulai melepaskan diri dari pelukannya dan kembali membaringkan dia di tempat tidurnya.

Maafkan aku Din ... aku tidak sanggup menahan ini semua.”, katanya memulai percakapan.

Ada apa sebenarnya Cit sampai kamu begitu nekat melakukan itu ?”, tanyaku.

Ini semua bermula ketika aku mulai mengenal Aris, dia seorang kakak kelasku. Di mataku dia adalah seorang yang luar biasa, tampan, atletis dan populer karena dia adalah pengurus OSIS di sekolahku. Perkenalan itu berlanjut ke hubungan yang lebih serius, aku tidak tahu kapan, tapi yang pasti aku dan dia mulai berpacaran setelah itu.”, dia terdiam sesaat sembari menghela nafas panjang.

Tapi hal yang sama sekali tidak aku sangka adalah, pola pikir dan hidup kami berbeda ... dia adalah tipikal orang yang bebas dan tidak bisa dikendalikan, sedangkan aku adalah orang yang teratur. Perbedaan itu akhirnya membuat aku selalu mengalah kepadanya. Aku tidak tahu apakah itu karena perasaan sayang yang begitu dalam kepada dirinya. Tindakan-tindakanku mengalah ternyata membawa aku semakin mengikuti pola yang dia anut, aku mulai mengenal kebebasan gaya hidup. Bahkan pacaran kami pun mulai tidak sehat lagi. Dan ... “, dia kembali terdiam.

Dan ... aku tidak ingat kapan, tapi aku tersadar bahwa aku telah ... telah kehilangan kesucianku. Aris lah yang telah melakukannya. Ketika sadar bahwa aku telah tidak suci lagi, Aris mulai menghindariku dan mencari cewek yang lain. Aku tidak bisa menerima ini, berulang kali aku mencoba menghubungi atau menemuinya tapi sepertinya dia selalu menghindar. Bisa nggak sih kamu rasakan tekanan yang aku alami ?”, nada suaranya mulai meninggi.

Aku tidak bisa menerima keadaan ini lebih jauh lagi, tidak akan ada orang yang bisa menerima aku yang kotor ini. Tidak Aris, tidak keluargaku bahkan Tuhan pun tidak menerima aku. Aku telah menjadi begitu kotor dan menjijikan bagi siapa saja.” , matanya mulai terlihat basah lagi.

Itukah alasan yang membuat engkau mencoba untuk bunuh diri ?”, tanyaku kepadanya.

Dia memandangku dengan memelas kemudian menganggukkan kepalanya.

Lalu, kamu anggap aku apa Cit ? Mengapa kamu tidak pernah cerita kepadaku tentang masalah yang engkau miliki ?”, tanyaku

Aku takut, bahkan engkau tidak mau menerima aku juga.”, jawabnya pelan.

Cit, aku sayang kamu, kamu lebih dari sekedar sahabat, kamu adalah saudaraku ... ikatan kita di dalam Tuhan lebih kuat daripada apapun. Kalau kamu menganggap aku tidak akan sanggup, berarti engkau tidak memandang hubungan yang sudah kita bangun bersama.”

Tapi Din ... aku sama sekali tidak pernah berpikir demikian, kamu tetap sahabatku. Aku hanya tidak bisa menceritakan hal ini kepadamu yang aku kenal sangat peduli dengan kekudusan hidup, tapi aku ... bagaimana kamu bisa menerima aku dengan keadaanku yang seperti ini.”

Kamu tahu, aku memang peduli dengan kekudusan, tapi aku lebih peduli terhadap nyawa teman dekatku. Aku sama sekali tidak menyangka engkau begitu terburu mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Tidak tahukah kamu bahwa hidup itu begitu berharga untuk dihidupi, setiap hari Allah menyatakan mujizatNya kepada kita. Itulah sebabnya kenapa Dia memberikan kehidupan kepada kamu. Supaya kamu bisa menghitung hari-hari kamu dan bukan menghilangkannya.” Jelasku.

Din ... lihat aku, aku kotor bagaimana Allah tetap bisa menerima aku dengan keadaanku yang seperti ini ?”

Bertobatlah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, Ingat Maria Magdalena, pelacur yang bertobat karena Kristus. Dia diampuni dan namanya disebut sebagai orang yang hidup taat kepada Tuhan setelah pertobatannya. Aku tidak lebih baik daripada kamu, tidak ada seorang pun yang baik di hadapan Allah. Allah tidak menerima kebaikan kita, Dia mengasihi kita bukan karena apa yang kita perbuat, tapi apa yang Dia telah perbuat. Cit, Dia masih membuka tangan terhadap kamu kalau kamu masih mau datang kepadaNya. Bunuh diri bukanlah sebuah jalan keluar, tapi menaklukkan diri kepada Tuhan adalah jalan yang sebenarnya”.

Tolong aku Din, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Apa yang harus aku lakukan sekarang ?”, tanyanya.

Maukah kamu datang kepada Tuhan dan berbalik kepadaNya, Dia menerima bagaimanapun kondisimu. Dia mengasihi kamu sebagaimana adanya kamu, bahkan saat tidak ada seorangpun yang tidak peduli terhadap kamu. Cit, aku sayang sama kamu, tapi percayalah Tuhan lebih sayang kamu daripada aku. Jangan biarkan dirimu berada dalam tekanan, datanglah kepada Dia yang akan memberikan kelegaan kepadamu”.

Din, maukah engkau berdoa untukku, aku sungguh berharap Allah berkenan atas diriku ini ?”, pintanya.

Dengan senang hati.”, jawabku mantap.

Aku menggenggam tangannya, dan mulai berdoa untuk dirinya. Mentari sore hari yang mengintip di celah-celah jendela perlahan berubah menjadi kuning kejinggaan, membawa nuansa yang membuat kami semakin melihat kasih Allah yang dalam. Di dalam Tuhan kembali kutemukan sahabatku yang terhilang, dari hidupku dan dari hidup Allah. SkD

(24/12/04)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!