RATAPAN HATIKU

Di sebuah kursi panjang di pelataran gereja aku masih terduduk, diam membisu memandangi setiap kendaraan yang sesekali lewat di depan mataku. Memang malam ini udara terasa agak dingin karena baru saja hujan deras reda setelah seharian mengguyur bumi. Kurapatkan jaketku lebih kuat lagi untuk mengusir rasa dingin yang tiba-tiba saja menyeruak dalam diriku. Kemudian kembali aku tenggelam dalam lamunanku. Mataku menerawang jauh ke arah gereja dengan tatapan mata yang kosong. Sejenak aku terkagum-kagum melihat bangunan yang berdiri dengan megah di hadapanku, dalam hati aku tersenyum malu dan heran karena setelah hampir 5 tahun aku jadi jemaat gereja ini, aku kok nggak pernah menyadari betapa besar dan megahnya gedung gereja ini.

Aku menghembuskan nafasku dengan gelisah, sambil sesekali memandang ke arah gerbang gereja. Memang malam hari ini, sama seperti malam minggu – malam minggu sebelumnya setiap jam tujuh malam selalu ada persekutuan pemuda di gereja, tapi ini, sudah hampir setengah delapan malam kok masih belum ada yang datang, apa persekutuannya libur (aku kembali tersenyum ... persekutuan ada juga yang libur toh ...?) atau jangan – jangan ini karena persekutuannya hari sabtu (hari yang khusus untuk wakuncar alias wajib kunjung pacar) atau karena hujan ? wah aku jadi bingung sendiri mikirin itu. Yah di tunggu sajalah siapa tahu nanti ada yang nongol.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara langkah kaki yang setapak demi setapak berjalan semakin mendekat ke arahku. Kutolehkan kepalaku ke arah datangnya suara itu, ternyata sosok tersebut adalah Dina, seorang gadis mungil yang sekarang ini duduk di kelas 3 di salah satu SMU yang cukup bergengsi di kota ini.

“ Lho mas Eko kok ada di sini ? apa persekutuannya belum di mulai ?”, tanya Dina kepadaku.

“ Belum ... !”, jawabku dengan singkat.

“ Kamu kok datang sendirian saja mana teman-teman yang lain... ?”, tanyaku lebih lanjut.

“ He eh, aku baru saja pulang dari les di Primagama, jadi ya langsung kemari.” Jawabnya dengan senyum merekah.

Dina kemudian duduk disebelahku seraya menghembuskan nafasnya perlahan. Wajahnya menampakkan kelelahan yang luar biasa, tapi bibirnya yang tersenyum simpul dan tatapannya yang tegas menunjukkan semangatnya yang besar untuk bersekutu di gereja. Dalam hatiku aku merasa kagum dengan semangatnya yang besar itu, sehingga tanpa sadar aku terus memperhatikan dirinya.

“ Kamu kelihatan capek banget, lagi banyak tugas ya Din ... ?”, tanyaku mencoba untuk memecah kesunyian di antara kami.

“ Sebenarnya tugasnya nggak banyak sih Mas, cuman apa yang lagi dipikirin itu yang membuat aku jadi suntuk ... “, jawabnya.

“ Lha memangnya ada masalah apa toh ... ?”, tanyaku penuh perhatian.

“ Aku lagi bingung nih mas, ngadepin anak-anak pemuda dan remaja di gereja ... “

“ Bingung bagaimana ... ?”, tanyaku dengan rasa ingin tahu yang besar.

“ Kadang aku jadi bertanya-tanya, apakah aku benar tinggal di gereja yang benar, maksudku, kalau memang ini gereja yang benar yaitu gereja Tuhan Yesus, kenapa kok masih saja ada orang-orang yang secara sadar maupun enggak terus menerus berusaha untuk memecah belah gereja. Kadang aku merasa capek menghadapi semua itu ... seandainya kalo boleh jujur sebenarnya aku merasakan banyak ketidakpuasan dengan apa yang ada di gereja ini ... seandainya aku bisa berlari tentu saja aku akan berlari dari gereja ini... “, jelasnya kepadaku dengan kata-kata yang mantap dan pandangan yang memelas.

“ Aku bisa memahami perasaanmu itu Din, tapi kondisi yang kamu hadapi di gereja ini seharusnya tidak membuat kamu lari dari kenyataan yang ada dong ... karena sebenarnya Allah menempatkan kamu di gereja ini justru supaya kamu mau berjuang untuk mengerjakan ladang ini dengan sebaik-baiknya. Gereja kita ini tetap gereja yang benar, meskipun memang kadang-kadang kita melihat begitu banyak kelemahan dan keterbatasan yang terkadang nggak jauh berbeda dengan apa yang kamu temukan di dalam dunia ... tapi masa kamu lupa dengan apa yang rasul Paulus katakan tentang kita, orang percaya di dalam gereja, bukankah ia berkata bahwa kita ini sebenarnya adalah bagian dari tubuh Kristus yang terdiri dari banyak anggota, yang harusnya saling melengkapi, nah kalau begitu kitapun perlu untuk bisa memahami kelemahan dari tiap-tiap orang yang ada di gereja kita ini”, kataku kepadanya.

“ Mas Eko tentu saja bisa ngomong begitu karena selama ini mas Eko tidak pernah ada di sini, mas Eko selama ini kan ada di Solo kuliah di sana. Coba sekarang mas Eko bayangin sendiri ... saat ini semua unsur gereja lagi getol-getolnya ngerjain pelayanan, tapi coba sekarang mas Eko lihat sendiri, kemana hilangnya orang-orang yang dilayani, lha wong datang persekutuan saja masih belum pada mau ... belum lagi masalah cocok dan tidak cocoknya para pemimpin gereja dan para pengurus tiap bidang yang seolah-olah saling berlomba untuk menjadi yang paling utama. Aku capek mas menghadapi itu semua ... “, kata Dina. “ ... sampai hari ini, aku merasakan semuanya seolah-olah menjadi pelayanan yang sia-sia saja ...”, tambahnya.

“ Hmmm ... “, aku menghembuskan nafas berat. “ Bukankah baru-baru ini ada pertemuan sarasehan antar unsur untuk memperbaiki dan mengerjakan pelayanan secara berkesinambungan ... ?”, tanyaku kepada Dina.

“ He eh sih, tapi aku kok merasakan semuanya itu seolah-olah hanya formalitas untuk menyelamatkan kondisi gereja, tanpa ada reaksi yang nyata dari tiap unsurnya ... “, kata Dina kepadaku.

“ Memangnya apa saja yang telah dilakukan gereja selama ini ... ?”, tanyaku semakin ingin tahu.

“ Banyak ... tapi buatku itu semua hanya kegiatan tanpa tanpa hasil ... “

“ Maksudmu ... ?”, tanyaku.

“ Ya itu..., kegiatan-kegiatan yang hanya untuk mengisi kekosongan gereja atau kegiatan-kegiatan rutin yang menurutku hampir tanpa tujuan yang jelas. Padahal seharusnya kita tahu bahwa tujuan dari setiap pelayanan yang dilakukan adalah untuk membentuk pertumbuhan iman dari para jemaatnya ...”. jawabya dengan tegas.

“ Hus ... kamu nggak boleh ngomong begitu dong, mungkin saja kita belum lihat bisa hasilnya secara langsung dari kegiatan itu, tapi aku yakin bahwa tiap-tiap unsur pasti sudah memperhitungkan dengan seksama tujuan dari kegiatan-kegiatan tersebut .”, kataku mencoba untuk menjelaskan.

“ Ada hal yang perlu kamu ketahui tentang gereja Din ... “, kataku lebih lanjut. “ Kristus di dalam jemaatNya menghendaki adanya pertama-tama kasih, kedua persekutuan yang benar dengan berdasarkan kepada firman Tuhan, dan yang ketiga adalah pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Ketiga hal inilah yang seharusnya mendasari kita berjemaat di dalam Kristus. Bukannya pendapat golongan, tapi sepenuhnya kehendak Kristus ... “.

Dina hanya terdiam mendengar semua perkataan yang meluncur dari mulutku, wajahnya tertunduk dan kulihat matanya memerah sembab karena tekanan yang dia rasakan. Kuambil saputanganku dan kuberikan kepadanya untuk mengusap air matanya yang mulai mengalir.

“ Lalu ... apa yang harus kulakukan mas ...?”, tanya Dina kepadaku sambil mengusap air matanya dengan sapu tanganku.

“ Apa kamu sudah lupa dengan semua yang pernah ku pesankan kepadamu sebelum aku berangkat ke Solo dulu ...?, BERDOA ... di saat segala sesuatu terlihat tidak mungkin untuk dilakukan dan dihadapi, datanglah kepada Allah yang akan memberikan kelegaan kepadamu. Kalau kamu mengharapkan adanya perubahan yang nyata dalam gereja ini, berdoalah dengan penuh ketekunan dan yakinilah meskipun mungkin waktu Allah tidak terjadi sekarang tapi yang pasti lain waktu itu adalah waktu yang terbaik menurut pemandangan Allah... “, kataku kepada Dina.

Sesaat Dina terdiam membisu. “ Maukah mas Eko berdoa untuk aku dan gereja ini ... ?”, pintanya dengan penuh harap.

Dengan mengangguk mantap aku berkata kepadanya, “Ya pasti ... bahkan aku akan berdoa bersama denganmu saat ini juga bila engkau bersedia ... “

Kulihat Dina tersenyum kepadaku, dan dari bibirnya aku mendengar ucapan, “Makasih mas, dengan dukunganmu dan dengan pimpinan Tuhan aku akan tetap berjuang untuk gereja ini ... “

Tidak berapa lama kemudian aku dan Dina tenggelam dalam khusuknya doa kami di hadapan Allah. Kurasakan getaran halus menyentuh bagian terdalam dari diriku, tapi bukan udara dingin yang beberapa waktu yang lalu sempat mengganggu aku melainkan kehangatan dari jamahan kuasa Roh Kudus yang memenuhi kami di saat kami bersama-sama berdoa bagi gereja kami tercinta. – SkD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!