MENTARI DI UFUK BARAT ...

Seandainya aku harus mati hari ini, sudahkah pernyataan kasihku kuungkapkan kepada orang-orang yang aku kasihi ?

Seandainya aku harus mati hari ini, apakah aku yakin bahwa aku kepunyaan Tuhan, sehingga Dia akan membuka tangan kasihNya untukku ?

Bagi orang percaya mati berarti bertemu dengan Allah, sedangkan hidup berarti menjadi milik Allah.

Tangan yang mungil itu berada di dalam genggamanku, sedangkan tatapan matanya yang lembut masih terus tertuju ke arah sosok tubuhnya yang mulai mendingin, yang terbaring kaku di atas tempat tidur, sementara itu terlihat di sana seorang pria sedang menahan beban istrinya yang terjatuh karena tidak kuasa menahan kesedihan ditinggalkan oleh buah hatinya yang masih berusia 5 tahun.

Perlahan tapi pasti aku menuntun dia melangkah keluar dari ruangan ICU meninggalkan badannya yang telah terbujur kaku. Tidak banyak kata yang terucap dari anak itu, hanya : “Kenapa Papa dan Mama menangis ?”.

Aku hanya bisa berkata dalam hatiku, Nak tidak tahukah engkau bahwa mereka menangisi kepergianmu. Betapa polosnya engkau, hingga engkau tidak menyadarinya.

Bias cahaya yang menyilaukan itu terbuka dan dengan lembut kuangkat dan kemudian kubopong tubuh mungil itu ke dalam pelukanku. Aku melangkah masuk ke dalam cahaya tersebut menuju kepada kekekalan.

**************

Aku masih terdiam berdiri di atas gedung pencakar langit ini, sendiri, menatap keheningan senja yang disertai tenggelamnya sang surya ke peraduan. Beratus-ratus tahun aku telah pergi dan berkeliling dunia ciptaan Allah ini untuk mengerjakan tugas yang sama, yaitu “Menjemput”. Kami para malaikat diciptakan Allah dengan segala keunikan kami, kami diciptakan hampir menyerupai manusia hanya saja kami dikaruniai kekuatan yang tidak dipunyai oleh manusia. Kami memang diciptakan serupa dengan manusia tapi kami tidak memiliki keinginan dan nafsu seperti manusia, kami hanya memiliki dua pilihan dalam diri kami yaitu taat kepada Allah atau menentang Allah.

Kadangkala kami merasa cemburu dengan manusia, yang diberi kesempatan untuk beroleh pengampunan bila berbuat dosa, kami para malaikat sama sekali tidak memiliki kesempatan tersebut, kami hanya tahu dua hal tentang keberadaan kami yaitu : bersama Allah atau bersama dengan iblis dalam kekekalan.

Petang ini, aku menatap tenggelamnya matahari sambil termenung. Memang aku tidak memiliki keinginan maupun nafsu seperti manusia, tapi aku memiliki perasaan. Pagi ini seusai menjemput seorang anak kecil, aku mulai melihat akan betapa berat pekerjaan yang aku jalani. Banyak tangisan dan kepedihan yang aku dengar dan lihat. Aku mulai bertanya dalam diriku, Mengapa harus ada tangisan ... ? Mengapa harus ada kedukaan dan kepedihan ... ?. Aku memang sudah ada, bahkan sebelum dunia ini diadakan oleh Allah, tapi bila memikirkan hal ini aku selalu menemukan kesulitan untuk menjawabannya.

Di dalam lamunanku, “Gabriel”, Sang Pembawa Pesan Allah, tiba-tiba berdiri di sampingku. Dengan tegak dan mata yang tertuju kepada matahari yang mulai tenggelam tergantikan dengan datangnya malam, dia berbicara kepadaku.

Allah tahu apa yang engkau pikirkan ... pada saatnya engkau akan mengerti : mengapa ada tangisan dan kedukaan

Pergilah ke Ke Rumah Sakit “Kasih Karunia”, di bangsal Elohim, seseorang bernama : Gunadi, harus engkau “jemput” jam 22.00

Belum sempat aku bertanya : “Mengapa ?”, Gabriel sudah menghilang dari hadapanku. Ah, dasar Gabriel, kenapa dia selalu menghilang saat aku belum mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Pernah suatu kali, dia berhasil ku tahan, tapi dia hanya menjawab : “Aku hanyalah seorang pembawa pesan, Yang Maha Mulia Allah kitalah yang berkehendak atas segala sesuatu”. Kadang-kadang, sempat juga terpikir untuk langsung bertemu dengan Sang Maha Agung, tapi aku kadang merasa sungkan untuk bertanya.

Segera aku berdiri dari tempat dimana aku duduk, kuhirup sedalam-dalamnya udara sore di atas gedung ini. Kemudian segera aku “terbang” menuju tempat yang dimaksud.

***************

Di dalam kamar 12, Bangsal Elohim, RS. Kasih Karunia, terbaring sesosok tubuh kurus kering dengan berbagai alat medis yang terpasang pada tubuhnya. Di papan nama pasien yang terpasang di samping tempat tidurnya tertulis nama : Gunadi. Sementara itu di sampingnya duduk seorang ibu yang duduk dengan tatapan mata yang nanar dan tangan yang menggenggam erat tangan pasien. Aku mendekat dan berdiri di samping ibu itu. Lamat-lamat kudengar ibu tersebut mengidungkan pujian dengan mata yang membasah menahan kedukaan, sementara itu pak Gunadi menggumamkan nada yang sama, meskipun terdengar serak dan terpatah-patah.

Pak, cepat sembuh ... Ibu dan anak-anak pengen bapak segera pulang bersama kami.”, kata si ibu kepada pasien tersebut.

Bu ... “, ujar Pak Gunadi dengan setengah tertahan.

Ya ... Pak ?

Bapak merasa, waktu bapak sudah tidak lama lagi ... “,katanya tersendat.

Selama hidup, bapak menganggap bahwa Ibu adalah anugerah yang begitu indah dari Tuhan dalam hidup bapak. Bapak melewatkan setiap waktu hidup bapak dengan sangat berharga karena ada ibu di samping Bapak. Terima kasih karena Ibu bersedia menghabiskan waktu ibu bersama dengan bapak.” ucapnya dengan terbata-bata.

Sementara itu si Ibu semakin deras mengalirkan air matanya.

Bapak menitipkan anak-anak, yang Tuhan telah percayakan, kepada Ibu, bimbing mereka untuk semakin mengasihi Tuhan.”, Lanjutnya.

Pak ... Ibu juga bersyukur, memiliki dan melewatkan usia ibu bersama dengan bapak ... bapak adalah kepala rumah tangga yang begitu mengasihi Tuhan dan keluarga, Bapak adalah pribadi yang mendidik keluarga kita menjadi semakin mengasihi Tuhan. Terima kasih ... Pak.”, Ucap si Ibu sambil mendekap tangan Pak Gunadi di pelukannya.

Ibu hanya ingin Bapak tahu, bahwa Ibu siap ditinggal ... karena bapak tidak akan pernah kemana-mana, bapak hanya pergi menemui Tuhan yang selama ini bapak kasihi, dan ibu juga tahu bahwa ibu pun akan menyusul ke sana. Ibu sadar bahwa perpisahan kita adalah perpisahan sesaat, karena kelak Tuhan akan menyatukan kita di sorga bersama dengan Dia.

Aku melihat air mata mengalir dengan deras dari sudut mata Pak Gunadi, dan dengan kesusahan Pak Gunadi berusaha untuk menggenggam tangan istrinya tersebut.

Terpujilah Tuhan yang karena kasihNya telah menyatukan kita ... sekarang bapak siap menghadap tahta kemuliaanNya.

Kemudian, tatapan matanya beralih kepadaku ... (aku tidak tahu bagaimana dia bisa melihat aku, padahal aku adalah makhluk kasat mata yang tidak bisa dilihat oleh manusia, kecuali bila Tuhan mengizinkannya).

Aku siap untuk bertemu Tuhanku.”, kata Pak Gunadi seolah sedang berbicara kepadaku.

Perlahan, kudekati Pak Gunadi dan kusentuh tangannya, “ Kita pulang sekarang”, kataku kepadanya.

Kugenggam tangannya dan kutuntun dia melangkah ke arah cahaya yang sangat menyilaukan mata, di belakangku aku mendengar isakan tangis yang hampir tidak terdengar dari istri pak Gunadi. Kulihat pak Gunadi hanya memandang dengan sendu dan melambaikan tangan kepada istrinya. Kemudian kembali kami melangkah kepada kekekalan.

****************

Pagi ini, kembali aku duduk termenung di pinggir pantai menatap ke arah horizon menunggu terbitnya matahari pagi. Kejadian penjemputan beberapa jam yang lalu cukup mengusik perhatianku. Aku bertanya, kenapa aku merasakan keberbedaan ketika melihat tangisan istri pak Gunadi. Bukan tangisan pedih kehilangan, tapi tangisan perpisahan sesaat. Kekuatan yang terlihat pada keluarga ini, berbeda dengan keluarga-keluarga lain yang kehilangan anggota keluarga mereka. Apa yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya ?

Sesaat aku terdiam, tiba-tiba aku merasakan tangan menyentuh pundakku. Aku terkejut dan menolehkan kepalaku ke arah sentuhan itu, ternyata di sampingku telah duduk Gabriel.

Apakah engkau sudah menemukan apa yang engkau cari ...?”, tanyanya kepadaku.

Aku melihat sesuatu yang berbeda dari kasus Pak Gunadi tapi aku masih belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaanku.

Semuanya karena kasih ... Hanya kasih yang memberikan kekuatan di dalam keadaan apapun. Bapak dan Ibu Gunadi melewatkan waktu mereka, sepanjang usia mereka bersama di dalam Tuhan, itulah yang menjadi kekuatan mereka ”, jelas Gabriel kepadaku.

Maksudmu ... ?”, tanyaku.

Ya ..., Karena hubungan mereka dengan Tuhan, mereka beroleh kekuatan untuk saling mengasihi satu dengan yang lainnya, dan itu menjadi dasar yang kuat bagi hubungan mereka ; Karena hubungan mereka dengan Tuhan pula, sekalipun terpisahkan mereka yakin bahwa mereka tetap akan dipersatukan di dalam Tuhan, karena mereka adalah kepunyaan Tuhan, Jaminan inilah yang membuat mereka tegar menghadapi kematian. Kasih kepada Allah, dan kasih kepada sesama, itulah yang membuat mereka menjadi kuat menghadapi segala sesuatu.

Gabriel kemudian berdiri dan melangkah pergi meninggalkan aku yang terdiam merenung setelah mendengar penjelasannya.

Kasih ... itulah yang dibutuhkan oleh setiap manusia, andaikan setiap keluarga memiliki kasih dan memiliki Tuhan itu sudah cukup. Tidak heran aku pernah mendengar seorang pendeta yang berkotbah di gereja mengatakan : Bila satu-satunya yang engkau miliki dalam hidup adalah Tuhan, engkau tidak membutuhkan apapun, karena kita telah memiliki segalanya”.

Ah ... andaikata aku memiliki kesempatan untuk membagikan hal ini kepada banyak orang, mungkin tidak akan pernah ada keluarga yang bercerai, mungkin tidak akan ada permusuhan, dan mungkin tidak akan ada ratap dan tangisan kepedihan. Tapi apakah manusia yang bebal dan keras hati itu mau mendengar ?

Mungkin memang aku hanya bisa berharap, agar setiap manusia bisa melihat apa yang aku lihat ... sehingga mereka bepikir sebagaimana aku berpikir. Dan biarlah Tuhan Yang Maha Agung, yang akan menunjukkan jalan itu, karena mereka adalah kepunyaan Tuhan.

Aku kembali tercenung memandang horizon, sementara itu cahaya mentari pagi perlahan tapi pasti mulai memancarkan semburat warna keemasannya menyatakan hari baru telah datang. SkD

(24/12/04)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!