MAAFKAN AKU MA ... !!!

Pagi ini cuaca terlihat cerah sekali, mentari pagi bersinar kuning keemasan dan ayam jantan berkokok nyaring menyambut datangnya hari baru. Aku yang baru terbangun dari tidurku merenggangkan tubuhku yang terasa kaku seraya menguap sesekali dan mengucek mataku yang masih terasa berat. Aku bangun dan duduk di atas tempat tidurku. Kucari-cari istriku di sisiku, tapi tak kudapati. Kuperhatikan jam yang nangkring di dinding kamar. Jarum panjang menunjuk ke angka sepuluh sedangkan jarum pendek menunjuk ke angka lima. “ Wah sudah jam lima kurang sepuluh ... “. Segera aku bangun dan turun dari tempat tidurku kemudian melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum – kebiasaanku untuk minum air putih setiap pagi di dapur – sambil sesekali menguap aku melangkah ke dapur.

“ Selamat pagi Ma ... “. Aku berucap sembari memeluk istriku dari belakang dan tidak lupa menghadiahkan sebuah kecupan mesra di pipinya. Istriku hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengiris bawang merah di dapur. Aku kemudian duduk di meja dapur sambil menatap dalam wajah istriku, wanita yang telah kunikahi selama hampir lima tahun. Sempurna sekali, bahkan melebihi puji-pujian yang dituliskan Salomo di Kitab Amsal dan Kidung Agung. Aku tersenyum ketika melihat wajahnya yang lembut dan manis. “ Kamu cantik sekali pagi ini Ma ... “, ujarku tanpa melepaskan pandanganku dari matanya. Dia hanya tersenyum malu dengan wajah yang memerah, senyum yang selalu membuat aku jatuh cinta padanya.

“ Selamat pagi papa, selamat pagi mama ... “. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kecil dan nyaring yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. “ Pagi Chika ...”, istriku menyambut ucapan itu. Makhluk kecil, yang adalah buah kasih antara aku dan istriku yang terlahir sebagai anugerah Tuhan empat tahun yang lalu itu berlari kecil kearahku dengan riang dan melompat ke dalam pelukanku. “ Papa sama mama pagi- pagi kok sudah pada pacaran sih ... “, mulut kecil itu kembali berkata tanpa peduli dengan tatapan kami.

“ Lho Chika kok belum mandi ... sudah hampir jam setengah enam lho, nanti kamu terlambat sekolah ... “, kataku kepadanya. “ Nggak, kata bu guru hari ini Chika libur karena besok pagi Chika dan teman-teman mau diajak jalan-jalan bareng ke taman bermain sama bu guru... “, jawabnya dengan wajah yang lucu. Kupeluk dan kucium pipinya yang tembem dan memerah itu, dia tertawa kegelian dan berusaha untuk kepas dariku. Istriku dan aku hanya tertawa melihat wajah Chika yang imut itu. “ Sudah sana papa mandi dulu, nanti terlambat ke kantor ... lagian kita kan belum mulai melakukan ibadah pribadi bersama ... ayo sana buruan, Mama biar masak dulu buat sarapan ...”, kata Dini, istriku kepadaku. “ OK deh darling ... dah Chika, papa mandi dulu ya ...”, kataku sambil menowel pipinya. Dia hanya tersenyum manja. “ Papa genit ih ...”, ujar istriku.

Aku duduk di beranda kamarku di lantai dua, melamun sendirian. Kucoba untuk menarik semua kenanganku akan semua kejadian indah yang telah terjadi di dalam keluargaku setengah tahun yang lalu. Meskipun sudah setengah tahun kejadian itu berlalu namun keindahan itu masih terus terasa membekas dalam diriku. Aku masih ingat tawa Chika yang berderai, senyuman manis istriku dan canda saat kami melewatkan waktu kami bersama-sama. Ah ... Indahnya hidup kala itu, semua terasa di sorga. Tapi kini semua tidak sama lagi, segala sesuatunya telah berbeda saat kami tidak bersama lagi.

Ketika aku melewatkan waktu-waktu lamunanku, tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipiku. Mataku yang semula jernih kini terasa penuh dengan air mata. “ Aku berdosa Tuhan ... aku mengakui kesalahanku ... “, aku meratapi diriku. Aku teringat semua ini bermula dari kejadian itu. Empat bulan yang lalu, ketika aku mengantarkan anakku, Chika, ke sekolah untuk berangkat piknik bersama dengan teman-teman sekolahnya. Di sanalah aku bertemu dengannya, Rina, salah seorang guru TK dimana Chika bersekolah. Muda, cantik, cerdas, dan penuh kasih sayang terhadap anak-anak. Jujur saja aku sempat tergoda untuk terpesona terhadap senyuman itu. Hari-hariku berlanjut dengan aku lebih sering mengantar Chika ke sekolah, dan hal ini tanpa sadar ... ya Tuhan, ampuni aku ... membuat aku menjadi semakin tertarik kepada wanita itu. Hubungan kami semakin menuju hubungan antara seorang pria dan wanita dewasa dan bukan hubungan profesional antara guru dan orang tua murid.

Sementara istriku yang tidak mengetahui semua kegilaanku tetap berlaku sebagaimana adanya istri yang baik. Setiap pagi sampai dengan malam ia selalu menyediakan waktu untuk aku dan anakku. Aku akui memang kadang aku merasa bersalah terhadap istriku karena hal yang telah aku lakukan ini, tapi aku menikmati hubungan ini. aku nggak bisa melepaskannya begitu saja ... maafkan aku Ma. Dan ternyata rasa bersalahku itu beralasan, karena puncaknya terjadi pagi itu. Seusai kami sekeluarga menyelesaikan ibadah keluarga – kebiasaan keluarga kami setiap hari – istriku meminta untuk berbicara secara khusus dengan aku. Aku yang tidak merasa curiga dengan gelagatnya selama ini, menuruti saja permintaan darinya. Tetapi betapa shock-nya aku ketika ia menanyakan hubunganku dengan Rina. Ya Tuhan ... darimana dia tahu hal itu ... ? Sambil menangis dihadapanku dia meminta supaya aku bersikap jujur kepadanya. Aku hanya terdiam tanpa tahu harus berkata apa ... ? yang aku tahu hanya satu yaitu : aku seorang yang bersalah ... seorang terdakwa.

Sudah dua bulan ini istri dan anakku pergi kembali ke rumah mertuaku tanpa aku bisa berbuat sesuatupun untuk mencegah kepergiannya ... apa hakku ? aku yang bersalah. Di rumah ini, aku hanya sendirian tanpa teman di sisiku. Ah apa arti hidupku ... ? sepi ... sendiri ... Bahkan setelah itu aku baru tahu bahwa Rina sama sekali tidak peduli padaku, dia hanya peduli dengan hartaku. Segera saja kutinggalkan dia tanpa peduli dengan tangisan air mata buayanya ... huh dasar wanita tidak tahu diuntung.

Kurebahkan kepalaku di kursi panjang ini, kuhapuskan air mataku yang sudah mulai mengering, dan berdiri melangkah keluar dari ruangan ini. aku jengah dengan semua keadaan ini. Aku perlu sesuatu yang menyegarkan kehampaan ini. Kuambil kunci sepeda motor Supra milikku dan tidak lama kemudian aku sudah melaju di jalanan. Meskipun aku tidak tahu kemana aku harus melaju. Dalam suasana hati yang sedang kalut dan lelah dengan hidupku saat itu, tiba-tiba saja pikiranku tertuju kepada gereja tempat dimana aku dulu dibesarkan dan dibentuk. “ Ah ... gereja, masihkah ada damai di sana ... ?”. aku telah kehilangan semua kedamaian itu semenjak dua bulan yang lalu, semenjak tidak ada lagi yang membangunkan aku dan mengingatkan aku akan pentingnya kebaktian bersama.

Kuparkirkan sepeda motorku di pelataran parkir gedung gereja lalu kulangkahkan kakiku masuk ke dalam bangunan gereja yang kecil, sederhana, tapi tampak teduh dan tenang. aku tertegun dengan keteduhan yang aku temukan di dalam gedung gereja ini, keteduhan yang selama beberapa bulan ini tidak aku temui. Ah aku jadi teringat kala aku dan istriku diberkati di dalam pernikahan di gedung gereja ini. Lima tahun yang lalu ... ya lima tahun yang lalu, aku masih teringat dengan semua kejadian indah tersebut. Saat – saat aku memasukkan cincin pernikahan ke jari manis Dini, istriku. Aku sama sekali nggak pernah menduga bila sampai hari ini pun gereja ini masih tetap memancarkan suasana keteduhan itu. Keteduhan yang sangat aku rindukan.

Aku duduk sendirian dan memandang dengan tatapan kosong altar di depan gereja. Mimbar kosong, ukiran salib dari kayu, dan kantong-kantong persembahan yang tertata dengan rapi sana. Aku termenung sendirian ... tiba – tiba dari arah belakang aku mendengar langkah-langkah kaku yang setapak demi setapak berjalan ke arahku. Aku diam dan tidak mau peduli, tapi aku menjadi jengah ketika sosok itu berhenti di sampingku dan bertanya : “ Mas Adit, ada yang bisa saya bantu ... ?”. aku terperangah ketika menyadari bahwa sosok yang ada di sampingku adalah Pendeta Andreas, orang yang dahulu memberkati pernikahanku dengan istriku.

“ Oh pak Pendeta ... silakan duduk pak ... “, kataku agak sungkan.
“ Maaf, tapi saya melihat ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Mas Adit, apa ada yang bisa saya perbuat untuk membantu Mas Adit ... ?”, tanyanya sekali lagi.
Sesaat aku terdiam. “ Mas Adit ... ?”, tanyanya sekali lagi.
“ Ah saya tidak tahu pak Pendeta ... saya lagi bingung dan saya berharap saya menemukan kedamaian di gereja ini ... “, kataku.
“ Bingung ... ?”, ujarnya.
Kembali aku terdiam, sementara itu Pendeta Andreas duduk di sebelahku menunggu responku dengan sabar. “ Istri saya meninggalkan rumah bersama dengan Chika, anak Kami ... dan saya tidak bisa berbuat sesuatupun. Memang saya akui itu semua karena kesalahan saya ... tapi saya nggak tahu harus berbuat apa lagi untuk mendapatkan keluarga saya kembali. Saya masih mencintainya pak ... “, kataku dengan emosi yang meluap.

Pendeta Andreas menatap mataku dengan teduh, “ Mas Adit ... kalo saya boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi ... ?”.
“ Semua itu karena saya yang bersalah pak ... saya akui itu, sayalah yang memulai perselingkuhan dengan orang lain ... tanpa saya sadari ternyata saya telah di tipu oleh perempuan selingkuhan saya itu ... ah bodohnya saya ini,”, kataku.
“ Mas Adit ... Mas Adit percaya dengan pengampunan ... ?”, tanya pak Andreas kepadaku.
“ Ya, saya percaya .”, jawabku mantap.
“ Kalo begitu, seandainya saya berkata jikalau Tuhan mengampuni Mas Adit, apakah Mas Adit percaya ...?”, tanyanya sekali lagi.
“ Ya, saya percaya. “, jawabku lagi.
“ Nah sekarang, kalau seandainya saya berkata bahwa Mbak Dini, istri Mas Adit, juga telah mengampuni Mas Adit, apakah Mas Adit percaya ?”, tanya Pendeta Andreas dengan tatapan tajam kepadaku.
“ Apa ... apa maksud bapak ... ?”, kataku dengan setengah terkejut dengan pernyataannya itu.
“ Ya, Mbak Dini, dua hari yang lalu menemui saya dan telah menceritakan semua kejadian yang ada, dan ... dia bersedia untuk mengampuni Mas Adit. Memang bukan hal yang mudah baginya untuk mengampuni Mas Adit, tapi akhirnya dia sadar bahwa Chika membutuhkan anda juga.”, jelasnya.

Aku terdiam seribu bahasa, tak ada satu katapun yang muncul dari bibirku mendengar semua perkataan pak Andreas.
“ Percayalah dia masih mencintaimu ... sekarang pergilah engkau ke rumah mertuamu dan temui istrimu ...”, kata Pendeta Andreas dengan lembut.
“ Te ... terima kasih pak ...”, jawabku sembari berdiri, menjabat tangannya dan melangkah keluar dengan terburu-buru. Tapi sekilas aku masih mendengar pak Andreas berseru kepadaku, “ Tuhan memberkatimu, anakku ... “.

Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan tinggi, aku tidak peduli lagi dengan semua yang ada di sekitarku. Di mataku saat ini hanyalah wajah Dini dan Chika, aku kangen mereka. Setibanya aku di depan rumah mertuaku, aku segera memarkirkan kendaraanku dan melangkah menuju pintu depan. Sejenak aku merasa ragu dengan yang akan aku perbuat. Tanganku yang sudah siap untuk mengetuk pintu rumah ini terhenti dan kutarik turun kembali. Tiba-tiba aku mendengar suara yang menegur aku dengan pelan, “ Adit ... kamu mau mencari istrimu ... ?”. aku tersentak ketika menyadari bahwa yang berbicara adalah ibu mertuaku.
“ I ... iya bu”, jawabku dengan sedikit takut.
“ Dia ada di dalam kamarnya ... masuklah, temui istrimu ...”, ucap ibu mertuaku dengan tatapan mata penuh kasih.
Melihat tatapan ibu dari istriku ini, tiba-tiba rasa takut dan kuatir dalam diriku lenyap begitu saja tanpa bekas. Tanpa rasa ragu kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar istriku. Sementara itu ibu mertuaku hanya menatap aku dari kejauhan.

Perlahan tapi pasti aku mengetuk pintu kamar istriku. Sesaat aku tidak mendengar respon dari dalam kamar. Kuketuk pintu kamarnya sekali lagi dan berharap ada respon dari istriku, tapi ternyata sama saja. Maka dengan perlahan kupanggil dia sambil aku mengetuk pintu kamarnya, “ Ma ... ini aku ... tolong buka pintunya aku mau bicara ... “
“ Cklek ... kriett ...” pintu kamar terbuka, dan sesosok wajah yang selama ini aku rindukan ada di sana.
“ Ma ... kita perlu bicara “, kataku.
“ Ya ... kita memang perlu untuk bicara Pa ...”, jawabnya.

Kemudian ia membukakan pintu kamarnya dan mempersilakan aku masuk ke dalam. Aku masuk ke dalam kamarnya kemudian duduk di atas tempat tidur. “ Ma ... aku mohon engkau bersedia untuk pulang bersama aku ke rumah ... aku nggak bisa hidup lebih lama tanpamu ... “, kataku membuka percakapan.
“ Aku tahu aku harus pulang, tapi aku masih belum siap ... setelah kejadian itu ... aku ... “, ucapnya dengan mata yang mulai terlihat sembab oleh karena air mata.
“ Ma ... tolong beri aku satu kesempatan lagi, aku masih sayang kamu ... dan aku tahu nggak ada yang bisa menggantikan kamu ... tidak siapapun. “, ucapku memohon kepadanya dengan penuh emosi.
“ Aku sudah mengampunimu pa ... tapi jujur saja masih merupakan hal yang sulit bagiku untuk melupakan kesalahanmu itu ...”, jawabnya dengan penuh keraguan.
“ Engkau adalah tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku, bukankah kita telah dipersatukan dalam pernikahan yang kudus ... ? Izinkan aku untuk kembali membangun mezbah keluargaku yang runtuh ...”, kataku sekali lagi.
“ Tapi ... aku tidak tahu apakah Chika sudah siap untuk pulang ke sana, dan aku sendiri siap untuk kembali hidup bersamamu ... aku sudah capek untuk hidup dalam kepura-puraan.”, istriku kembali berbicara.
“ Chika ... aku yakin Chika mau kembali ke rumah ... lagipula ia membutuhkan aku ... ayahnya ...”, kataku.
“ Pulanglah Din, tempatmu bukan di sini tapi bersama dengan Adit, suamimu ...”, tiba-tiba di depan pintu kamar telah berdiri ayah dan ibu dari istirku.
“ Bapak dan ibu sama sekali tidak berkeberatan kamu tinggal di sini bersama dengan Chika, tapi Chika masih membutuhkan ayahnya dan kamu sendiri sudah menjadi bagian dari hidup Adit, kalian adalah suami dan istri ... pulanglah ...”, kata ayah mertuaku.
“ Tapi pak ...”, Dini mulai merajuk.
“ Ya ... kalian sudah dewasa, berpikirlah sebagaimana adanya kalian, Bapak dan Ibu nggak akan mengganggu sesuatupun yang menjadi keputusan kalian berdua ... Ayo bu kita pergi .”, ujar ayah mertuaku sembari melangkah pergi bersama dengan istrinya.

“ Ma ... mama ada dimana ... ? “, suara kecil yang lama kurindukan itu terdengar lagi di telingaku. Chika yang baru saja pulang dari sekolah tiba-tiba masuk ke dalam kamar. “ Lho kok ada papa di sini ...?”, tanyanya dengan lugu. Aku yang sudah sekian lama menahan rasa rinduku, langsung saja memeluk dirinya dan menciumi pipinya yang gendut itu.
“Chika ... papa mau jemput Chika dan mama untuk pulang ke rumah ... Chika mau nggak pulang bareng papa ... ? “, kataku dengan penuh semangat.
Chika yang sudah lama tidak bertemu dengan aku langsung saja memeluk aku dengan erat.
“ Benar ma ... kita mau pulang ke rumah ... ?”, tanyanya dengan bibir tersenyum lebar dan mata membelalak.
Istriku yang mendapatkan pertanyaan itu hanya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan dari Chika.
“ Ma ... please ... “, pintaku dengan memelas.
Istriku yang kebingungan hanya bisa mengangguk dengan pelan.
“ Hore pulang ke rumah ... “, Chika berteriak dengan keras.

Aku kemudian bangun dan menuju istriku kemudian memeluknya dengan penuh kasih.
“ Makasih ma ... aku berjanji kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan ... aku sayang kamu.”
Kemudian dengan perlahan aku mengecup keningnya.
“ Hore papa dan mama pacaran lagi ... “, Chika bersorak sambil bertepuk tangan.
Bapak dan ibu mertuaku yang terkejut dengan teriakan Chika hanya tersenyum melihat kami saling berpelukan dengan tangisan bahagia.
“ Terima kasih Tuhan ...”, ucapku dalam hati. – SkD –

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH