KEMBALI PULANG

Malam itu, langit terlihat mendung, bahkan aku tidak menemukan sepenjar bintang pun bercahaya di langit. Rembulan yang tertutup oleh awan hitam semakin membungkus kepedihanku dan kesendirianku. Di sini, ditepi pantai ini aku masih membisu sembari menatap keheningan lautan lepas dengan tatapan hampa. Sesekali aku menenggak air “api” yang terasa membakar dadaku, tapi sekaligus memberikan kelegaan sesaat bagiku. Beberapa botol minuman ini telah terguling di sisi dimana aku duduk dalam kesendirian.

“ Brengsek semuanya ... !”, aku berteriak dengan keras membentak deburan ombak yang seakan-akan mentertawakan diriku.
“ Apa yang kalian tahu ... hahhh !!! kalian hanya bisa berdebur dan tidak merasakan apa yang aku rasakan !!!”.
Aku berdiri dengan sedikit sempoyongan ... dan dengan sekuat tenaga melemparkan botol yang ada di dalam genggamanku ke laut. Kemudian aku berteriak sekeras-kerasnya, “ Aarrgghhhh ....... “.
Aku jatuh tersungkur bersimpuh pada kedua kakiku, angin masih membawa gaung teriakanku membelah lautan. Dadaku masih sakit, dengan gemuruh beban yang masih aku tanggung. Mataku memerah, sembab karena tidak mampu menahan tekanan hidup ini.
“ Tuhan, mengapa Engkau bertindak tidak adil terhadap aku ... ? Apa salahku ... ?”, suaraku melemah meskipun dadaku masih terasa sakit luar biasa. Sejenak aku menangis meratapi diriku sendiri.
“ Mengapa engkau berkata bahwa Aku tidak adil terhadapmu ? Apa yang telah Aku lakukan terhadapmu ?”, tiba-tiba terdengar suara yang berhembus di dalam hatiku.
Aku tersentak kaget, mataku berkeliling mencoba menemukan asal suara tersebut. “Siapa itu ... ?”, aku mencoba berbicara. Tapi Nihil. Aku tidak menemukan asal suara itu. Tidak ada seorang pun di tempat ini, kecuali diriku sendiri. “ Siapa yang berbicara ... ? Jangan mencoba untuk menakut – nakuti aku, aku tidak takut apapun atau siapapun !“, teriakku sekali lagi.
“ Ini Aku, Tuhan yang engkau sembah !”, terdengar kembali hembusan suara yang lembut berwibawa di dalam hatiku.
Tubuhku bergetar dan gemetar mendengar suara itu. “ Tuhan ... benarkah Engkau Tuhan ?”.
“ Aku mengenalmu, jauh sebelum engkau ada dan Aku telah memilihmu sebelum dunia diciptakan.”, suara Tuhan terdengar begitu lembut.

Setelah merasa agak tenang dan yakin bahwa itu adalah suara Tuhan, aku kembali duduk di tempat dimana semula aku duduk.
“ Tuhan ... mengapa Engkau datang kesini ? Apakah Engkau berkeinginan untuk menghukum aku karena kekurangajaranku ? Kalau iya lakukanlah ... apalagi gunanya aku hidup, tidak ada suatu alasan pun yang bisa membuatku tinggal di dunia ini dengan tenang.”
“ Tidak anakKu, Aku hanya ingin tahu mengapa engkau berkata bahwa Aku tidak adil terhadapmu, tunjukkanlah kepadaKu”.
“ Apa yang sudah kudapat dari hidup yang kujalani karena taat kepadaMu ... ? Tidak ada ! hanya kesengsaraan dan kedukaan ... ?”, seruku.
“ Maksudmu ... ?”, tanya Tuhan.
“ Jangan, berpura-pura Tuhan !, aku tahu bahwa Engkau bisa membaca pikiranku ... aku tidak perlu berkata-kata. Tapi bila memang Engkau memaksa, baiklah. Engkau berjanji akan selalu memeliharaku ... tapi ketika aku melayani Engkau dengan segenap hatiku, Engkau malah mengambil satu-satunya istri yang kucintai dengan segenap hatiku. Engkau berjanji akan selalu menjagaku ... tapi ketika aku bertahan dalam kejujuranku di tempat kerja, atasanku malah memecat aku. Engkau berjanji akan selalu mencukupkan keperluanku ... tapi ketika aku mencoba membantu orang lain, Engkau malah mengambil semua yang aku miliki. Engkau berjanji akan selalu melindungiku ... tapi ketika aku menyuarakan kebenaranMu, semua orang di gereja menolak aku. Kalau demikian, mengapa aku tidak berhak mengatakan bahwa Engkau tidak adil terhadap aku.”
“ Aku adalah Aku, sebelum dunia ini ada sampai dunia ini tiada, Aku adalah Aku. Siapa engkau sehingga engkau mau menghakimi Aku ? bukankah Aku telah bersikap welas asih terhadap kamu seumur hidupmu.”
“ Aku tidak mencoba untuk menghakimiMu Tuhan, tapi lihat hidupku sekarang !” seruku dengan suara tertahan.
“ Aku tidak pernah menjanjikan akan memberikan segala sesuatu yang engkau minta, ketika engkau memutuskan mengikut Aku. Yang Aku janjikan adalah Aku akan memberikan apa yang terbaik untukmu”
“ Kebaikan apa Tuhan yang bisa aku temukan dari semua kejadian yang menyakitkan ini ?”.
“ Tidakkah engkau pernah membaca ? RancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanKu bukanlah jalanmu. Seperti tingginya langit dari bumi demikian tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu. Waktumu belum tiba”.
“ Berapa lama lagi Tuhan, aku harus menanggung beban ini ?”.
“ Segala sesuatu ada waktunya ... anakKu”.
“ Tuhan aku sudah tidak tahan lagi dengan semua beban ini !”.
“ Pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia”.
“ Tapi dimana Tuhan kekuatan yang Engkau janjikan kepadaku, saat aku tidak berdaya ... ?”.
“ Berapa lama, engkau menyembunyikan diri terhadap Aku ? seberapa jauh jarak yang telah engkau bangun antara Aku dan dirimu ? Pernahkah Aku menyembunyikan diri terhadap kamu ?”.

Aku terdiam mendengar perkataanNya ... semuanya benar, Dia tidak pernah menyembunyikan diri dariku, akulah yang selalu lari dariNya. Apalagi saat-saat dimana aku mengalami tantangan yang berat ini.
“ Aku tidak pernah bermaksud untuk menghukummu, karena engkau melarikan diri dariKu, justru sebaliknya Aku berharap engkau kembali berbalik kepadaKu.”
“ Melalui semua penderitaan itu Tuhan ? kehilangan hal-hal yang sangat berarti dalam hidupku ?”
“ Bukan, itu hanyalah proses pengujian terhadap imanmu. Adakah ketekunan Ku temukan dalam dirimu ketika menghadapi tantangan tersebut ?. Aku selalu berharap bahwa Akulah satu-satunya yang engkau kasihi, tidak ada yang lain. Sehingga karena kasih itulah engkau bersedia untuk memikul salib yang Kuberikan kepadamu.”
“ Tapi kenapa Tuhan, semua hal tersebut harus diambil dariku ?”
“ AnakKu, belajarlah daripadaKu. Karena kasihKu padamu, Aku meninggalkan segala sesuatu bahkan kemuliaan yang telah diberikan BapaKu kepadaKu. Dan bahkan kematianKu bukanlah kematian yang menyenangkan bagi siapa saja. Apa yang telah engkau alami, juga telah dialami banyak orang yang mengikut Aku. Itulah harga yang harus mereka bayar. Bukankah setiap orang yang mengikut Aku harus siap menanggung setiap resiko yang muncul bahkan kematian sekalipun ?”

Aku mulai tercenung mendengar semua perkataanNya yang teduh dan berkuasa itu.
“ Engkau dipecat karena kebenaran yang engkau perjuangkan, itu bukan kutuk tapi berkat. Engkau menyuarakan kebenaran dan melayani Aku dengan sepenuh hati tapi mengalami penolakan, itu adalah peneladanan yang hidup terhadap hidupKu. Engkau kehilangan segala sesuatu ketika membantu orang lain, tapi pada kenyataannya, engkau telah menerima segala sesuatu dari mereka. Bila demikian adanya apa yang engkau maksud dengan keadilan itu ?”
“ Ampuni aku Tuhan, kadangkala aku merasa sendiri dan tidak memiliki seorang teman dimana aku bisa berbagi hidup.”
“ Datanglah kepadaKu, saat engkau merasa letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Bukankah Aku selalu menantikanmu”.
“ Ampuni aku Tuhan, aku telah bersalah kepadaMu.”
“ Jika engkau mengakui segala dosa dan kesalahanmu, kemudian meninggalkannya, Aku adalah Allah yang setia dan adil, bagaimana tidak Aku akan mengampunimu ?”.
“ Apa yang harus aku lakukan sekarang Tuhan ? aku tidak tahu apa lagi yang harus aku perbuat ?”.
“ Mulailah hidup baru bersamaKu. Perbaharuilah iman dan hidupmu, dan mulailah kembali berjalan bersama dengan Aku.”
“ Masihkah aku layak dihadapanMu Tuhan ?”.
“ Akulah Tuhan yang menilik hati manusia, kasihKu padamu cukup besar sampai Aku merelakan nyawaKu bagimu”.
“ Terima kasih Tuhan”.
“ Ingatlah selalu bahwa Aku tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkanmu, selamanya sampai selama-lamanya.”

Aku kembali terdiam merasakan dinginnya angin laut yang menyapa tubuhku, dari kejauhan beberapa perahu nelayan mulai menambatkan diri di batas pantai. Semburat matahari di horizon yang perlahan-lahan membuka hari baru menyapa wajahku dan menandakan bahwa ini adalah hari yang baru bagiku untuk melangkah kembali di dalam Tuhan. Apapun resikonya, ya ... apapun resikonya. (SkD, 14/05/2005)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!