YUSUF : KETELADANAN HIDUP SEORANG PRIA

Integritas,adalah satu kata yang bagi kebanyakan orang terasa asing, bahkan bagi saya sendiri. Beberapa kali saya mencoba untuk menemukan makna yang sesuai, yang sanggup mendeskripsikan apa yang dimaksud dengan Integritas. Ketika saya mencoba untuk membuka kembali beberapa buku dan berusaha mengingat segala sesuatu yang pernah saya terima di masa lalu tentang Integritas, saya terhenti kepada dua kata yang saling berkaitan yaitu : kesatuan dan keutuhan.
Mengapa kesatuan ? dan mengapa keutuhan ?, bagi saya kedua hal itu berusaha untuk mengungkapkan usaha penggabungan segala hal yang berbeda tapi saling mendukung demi membentuk suatu kesempurnaan. Kata holistik mungkin menjadi padan kata yang sesuai bagi kata Integritas, karena di dalamnya tersirat makna keutuhan dan kesempurnaan.
Alkitab mencatat banyak tokoh iman yang berintegritas tinggi, serta tidak terbilang banyaknya pejuang-pejuang iman yang juga memiliki integritas dalam hidupnya. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, adalah : ( to know what) Apa to yang dimaksud dengan integritas ? dan (to know how) Bagaimana cara supaya kita dapat menjadi pribadi yang berintegritas (how to be) serta bagaimana cara kita memelihara integritas yang ada pada kita (how to maintain).
Saya termasuk orang yang mengagumi tokoh-tokoh kristen yang berintegritas, selain Yesus, saya menganggumi sosok Paulus, Daniel, Yusuf Barnabas, David Livingstone, John Sung, Sadhu Sudhar Singh dan beberapa tokoh yang lainnya. Mengapa saya mengagumi mereka ? Karena bagi saya, mereka adalah pribadi yang berani tampil beda, mereka sanggup menunjukkan citra iman mereka di tengah dunia yang menolak keyakinan mereka bahkan dengan harga kematian mereka sekalipun. Saya percaya, Anda semua sependapat dengan saya dalam hal ini.
Tidak lama berselang setelah saya mulai memasuki dunia kerja, saya merasakan apa yang dikatakan sebagai krisis diri. Hal ini terjadi bukan karena saya tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang sama sekali berbeda dengan dunia kampus, bahkan dari apa yang pernah saya bayangkan. Tapi hal ini terjadi karena saya kehilangan sosok diri saya sebagai seorang “Pria” kristen yang sejati. Saya sudah mencoba menemukan apa penyebabnya, bahkan buku-buku untuk kaum pria tulisan Edwin Louis Cole pun sudah saya baca untuk membantu saya menemukan “Kepriaan” saya. Tapi nihil, saya tidak menemukannya. Sampai suatu hari ketika saya mulai ber PA, saya mendapati satu tokoh Alkitab yang sederhana dan tidak terlalu dikenal, tapi ternyata adalah seorang “pria” yang memiliki integritas yang tinggi. Yusuf bin Yakub – suami Maria dan ayah tiri Yesus – adalah tokoh yang saya maksudkan.
Mengapa saya berani mengatakan bahwa dia adalah seorang tokoh yang berintegritas ? Penilaian yang saya berikan bukanlah tanpa alasan, karena memang demikianlah kenyataan yang saya temukan selama pembelajaran saya. Alkitab memang tidak banyak mencatat tentang keberadaannya, Yusuf hanya muncul di seputar kelahiran dan masa kecil Yesus, sedangkan bagaimana dia hidup tidak tercantumkan di sana, tapi hasil pengamatan para ahli alkitab dalam beberapa buku memberikan keterangan yang cukup menarik tentangnya. Integritas seperti apa yang Yusuf telah tunjukkan sebagai seorang yang percaya kepada Allah dalam kehidupannya ? Berikut ini saya mengajak Anda untuk menyingkapkannya bersama :

1. Yusuf dengan dirinya
Seperti yang diketahui, Yusuf adalah seorang keturunan Daud (Mat 1:20) yang bekerja sebagai tukang kayu (Mat 13:55), sebuah pekerjaan yang mengharuskan ketekunan dan ketelitian untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Ada sebuah dugaan yang muncul bahwa Yusuf pernah bekerja sebagai tukang kayu di sebuah kota bernama Sephoris, yang dibakar oleh Romawi ketika Yesus sedang berusia 10 tahun. Hal ini tentu saja membuatnya harus sering meninggalkan keluarganya yang tinggal di kota Nazaret. Kecintaan dan kesungguhannya yang mendalam terhadap pekerjaannya membuat Yusuf tidak hanya menjalani tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh tapi juga mewariskan pekerjaan tersebut kepada anak-anaknya, termasuk Yesus (Mrk 6:3). Dari hal tersebut saya melihat bahwa Yusuf bekerja tidak semata-mata karena memenuhi kebutuhan keluarganya saja, tapi juga menanamkan kecintaan terhadap pekerjaannya itu kepada dirinya dan anak-anaknya.
Secara taurat, dia orang yang tidak bercela, bahkan memiliki ketulusan dan kelembutan budi, yang dibuktikan dengan ketidakmauannya mempermalukan Maria yang sedang hamil dengan menceraikannya secara terang-terangan (Mat 1:19). Hubungannya dengan Allah nyata tampak melalui ketaatannya melakukan kehendak Tuhan (meskipun saat hatinya tidak berkeinginan), ketika Gabriel menampakkan diri kepadanya supaya dia menikahi Maria yang sedang hamil karena kuasa Roh Kudus (Mat 1:20).

2. Yusuf dan keluarganya
Sebagai seorang suami, Yusuf adalah seorang pria yang penuh penerimaan dan kasih. Dia bersedia untuk menerima Maria dengan segala keberadaannya, termasuk menanggung rasa malu karena pandangan masyarakat yang menyadari bahwa Maria sudah hamil sebelum menikah. Bahkan Alkitab menceritakan bagaimana Yusuf menjaga kandungan Maria, sampai dengan hari kelahiran Yesus (Mat 1:25). Dia begitu mengasihi istrinya, yang dibuktikan dengan kesungguhannya berjuang untuk mendapatkan tempat menginap yang layak bagi istrinya yang sedang hamil di Bethlehem.
Sebagai seorang ayah, Yusuf adalah gambaran pria yang mendidik. Saya termasuk orang yang mengakui bahwa Yusuf telah menjadi model seorang bapa bagi Yesus, sebelum Dia berhubungan dengan BapaNya Yang Di Sorga. Citra ini tampak dari bagaimana Yusuf dengan penuh kasih mendidik anak-anaknya tanpa membedakan satu sama lain, ketekunan mengajarkan kepada anak-anaknya termasuk Yesus tentang pertukangan, mendorong anak-anaknya belajar di sinagoge sejak kecil – kebiasaan orang yahudi untuk membawa anak-anak mereka belajar tentang taurat (Luk 4:16), serta mendidik dalam bahasa baik Ibrani (rabinik dan klasik), bahasa Yunani dan bahasa Aramik. Hal ini tampak pada Yesus ketika Dia sedang berdiskusi dengan Ahli taurat (yang berbahasa Ibrani Rabinik) ketika Dia berusia 12 tahun, sedangkan bahasa ibunya adalah Aramik.

3. Yusuf dan masyarakat
Yusuf adalah seorang yang taat memegang norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat yahudi. Dia senantiasa menaati ketetapan yang berlaku di masyarakat, hal ini tampak dari bagaimana dia mempertimbangkan aturan masyarakat yang ada ketika dia berencana hendak menceraikan Maria yang sedang hamil. Di tengah masyarakat Dia juga dikenal dengan baik sebagai seorang tukang kayu (Mrk 6:3), hal ini menunjukkan sosialisasinya yang baik dengan lingkungan sekitar (meskipun tidak ditampakkan secara eksplisit).

Dengan segala kenyataan yang saya dapati pada diri Yusuf bin Yakub, bagaimana saya tidak terkagum-kagum. Bagi saya, dia adalah seorang “pria” yang utuh : baik sebagai seorang suami, ayah, anggota masyarakat, maupun dalam lingkungan kerja. Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi seorang “Yusuf”, tapi saya harus mengakui bahwa dia salah satu teladan Alkitab yang bisa diikuti dalam hal integritas. Kesungguhannya dalam menjalani hidup telah memberikan teladan yang hidup bagi anak-anak dan masyarakat di sekitarnya.
Bagaimana dengan kita : saya tidak hanya berbicara kepada mereka yang berjenis kelamin pria tapi juga wanita ? Apakah peran-peran dalam kehidupan kita telah menjadi sesuatu yang kita pertanggungjawabkan dengan benar (bukankah Tuhan menempatkan kita di suatu tempat dengan alasan) ? Apakah kehidupan kita telah membuat orang di sekitar kita melihat Tuhan yang tinggal dalam diri kita, sehingga mereka mempermuliakan Allah karena kita ?. Dimanapun kita berada : Di rumah, di pelayanan, di pekerjaan, di masyarakat, di kehidupan bangsa, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang holistik atau berintegritas, dimana iman dan ilmu kita berdaya guna dan berhasil guna bagi kemuliaan Allah. (29/08/05)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!