TRUE WORSHIPPER

Kalau seandainya ada yang bertanya, mana yang lebih enak : sakit hati atau sakit gigi ? apa yang kira-kira menjadi jawaban Anda ? Anda akan memilih salah satu ? keduanya atau tidak keduanya ?
Banyak orang kristen yang saat ini sedang tertular dengan penyakit Meggy Z, penyanyi dangdut Indonesia itu, ketika sedang berhadapan dengan Tuhan. “ Sakit Gigi dan Sakit Hati ”, begitulah yang didendangkan oleh Meggy Z. Mengapa saya mengatakan orang kristen sakit hati dan sakit gigi ? karena banyak orang kristen yang mulai kesulitan untuk bisa memuji Tuhan, mereka memang enggan (baca. sakit gigi) untuk menaikkan lagu pujian dan ini disebabkan karena mereka kurang memiliki rasa cinta kepada Tuhan (baca. sakit hati). Jika saja dilakukan survei diantara orang kristen dengan pertanyaan : “ Dalam satu hari berapa banyak lagu pujian yang dinaikkan kepada Tuhan ? Apakah lebih banyak jumlahnya dibandingkan lagu sekuler, macam Peterpan, Glenn Fredly, atau Ari Lasso ?”
Memang saat ini banyak orang yang suka jingkrak-jingkrak di gereja, di gedung pertemuan atau di hotel dengan dalih memuji Tuhan, tapi apakah mereka benar-benar memuji Tuhan ? Siapa yang sebenarnya menjadi pusat dari keinginan mereka untuk memuji Tuhan ? Kemuliaan Tuhan atau kepuasan diri ? Banyak orang yang ikut-ikutan memuji Tuhan supaya mendapatkan pelepasan dari tekanan hidup, bukan karena ingin memuji Tuhan. Maksudnya ? Banyak orang yang mencari suasana “trance” dimana mereka mendapat kebebasan dari tekanan, kejenuhan dan suasana yang ekstasi, menyanyi dengan keras dan disertai dengan gerakan akan membuat mereka merasa lepas dan bebas (coba bandingkan dengan para penduduk suku primitif atau para penyembah berhala yang menari dan menyanyi hingga kadang lepas kendali – seperti kerasukan, tapi setelah itu mereka merasakan kelegaan dan luapan kegembiraan).
Pada ekstrim mana Anda berada ? : “sakit gigi dan sakit hati” atau “sakit jiwa” ?

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan pujian ?

“Pujian”, dalam bahasa Indonesia adalah kata benda dari “Puji” yang berarti pengakuan dan penghormatan atas sesuatu yang bernilai positif. Sedangkan dalam bahasa Inggris pujian diterjemahkan dengan kata “Praise” yang menurut NIV Compact Dictionary of the Bible diartikan sebagai : “ ... a general term for words or deeds that exalt or honor somebody or something ...” (istilah umum bagi ucapan atau perbuatan yang mengagungkan atau menghormati seseorang atau sesuatu).
Sementara itu, kata “Penyembahan” yang dalam bahasa Indonesia dipahami dengan penundukan diri, diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “Worship” yang berarti : “ ... the honor to superior beings or power ... when given to God, worship involves an acknowledgement of divine perfections ...” (penghormatan terhadap makhluk superior atau kekuatan ... ketika ditujukan kepada Allah, pujian melibatkan pengakuan terhadap kesempurnaan yang kudus). Kata worship sendiri sebenarnya berasal dari gabungan dua akar kata “worth” dan “ship” yang di pahami sebagai : “ ...denotes worthiness of the individual receiving the special honor...” (menunjukkan kelayakan seseorang untuk menerima penghormatan khusus) dengan kata lain worship adalah sebuah tindakan Bow Down (bersimpuh – merendahkan diri) pada suatu oknum tertentu yang dianggap mulia.
Dari definisi tersebut pujian dan penyembahan tidak sekedar nyanyian yang merdu, indah dan harmonis kepada Allah. Pujian dan penyembahan adalah suatu tindakan dari penundukan diri, penyerahan diri dan pengakuan akan keberadaan Allah yang berkuasa dalam hidup kita. Menaikkan lagu pujian dan penyembahan adalah salah satu bentuk terkecil dari pujian dan penyembahan yang lebih kompleks.
Sebagai salah satu bagian dari pujian dan penyembahan, tindakan menyanyikan lagu pujian adalah suatu hal yang penting. Pujian dan penyembahan yang diungkapkan dengan kata-kata baik dalam lagu maupun doa adalah bentuk pengakuan kita yang terbuka akan keberadaan Allah.

Mengapa kita memuji Tuhan ?

Pertanyaan mengapa harus memuji, menurut saya adalah sebuah pertanyaan yang aneh bagi orang yang mengaku percaya kepada Kristus ? Karena pujian adalah bagian hidup orang kristen, bahkan keseluruhan hidup orang Kristen. Setelah memperoleh anugerah keselamatan Kristus, seluruh bagian kehidupan dari orang kristen adalah memuji Tuhan. Pujian kepada Allah, karena Allah yang telah memberikan keselamatan dan kehidupan yang sebenarnya kepada kita, adalah Allah yang layak untuk dipuji dan dipermuliakan. Adakah mahluk lain yang layak untuk dipuji dan disembah selain Allah ? Allah yang telah menciptakan, memelihara dan mengenali setiap ciptaannya dengan sempurna ; Allah yang karena kasihNya mengorbankan AnakNya ; Allah yang karena kebaikanNya telah menganugerahkan kehidupan yang sempurna. Itulah Allah yang layak untuk disembah dan dipuji.
Pujian bukanlah suatu keharusan bagi orang percaya, pujian adalah suatu kebutuhan, suatu sifat alamiah yang tidak bisa ditolak oleh orang percaya. Mary Gan, seorang master music, sekaligus pengajar di Trinity Theological College Singapura, mengatakan : “ ... Pujian kepada Allah merupakan tanggung jawab sekaligus hak istimewa bagi orang kristen.” Sementara itu Lovelace and Rice dalam bukunya Music and Worship in the church, mengatakan : “ ... Menyanyikan lagu-lagu pujian merupakan suatu kesempatan yang istimewa bagi orang-orang kristen...”
Pujian dan penyembahan kepada Tuhan melalui lagu-lagu rohani adalah salah satu ciri orang kristen, hal ini di dasarkan kepada pendapat :
1. Pujian adalah salah satu unsur pertumbuhan iman.
Kehidupan orang kristen seringkali diidentikkan dengan sebuah roda yang memiliki empat jari-jari. Dimana yang menjadi poros pusat dari roda tersebut adalah Kristus, sedangkan empat jari-jari tersebut terdiri dari : jari-jari keatas (mengilustrasikan : hubungan kita dengan Allah dalam doa – dimana kita memanjatkan doa kita kepada Allah), jari-jari kebawah (mengilustrasikan : hubungan kita dengan Allah dalam firman – dimana kita menantikan Allah menyatakan kehendakNya kepada kita), jari-jari kesamping kanan (mengilustrasikan : hubungan kita dengan sesama dalam persekutuan – dimana kita berkumpul dan berbagi dengan saudara seiman), dan jari-jari ke samping kanan (mengilustrasikan : hubungan kita dengan sesama dalam kesaksian – dimana kita berbaur dengan orang-orang tidak percaya dan menyatakan iman kita di tengah mereka). Pujian kepada Allah merupakan bentuk keakraban kita dengan Allah dalam persekutuan sekaligus kesaksian kita bagi orang-orang yang belum percaya. Kisah rasul 2:47 menunjukkan bagaimana kehidupan persekutuan jemaat mula-mula yang dipenuhi dengan pujian telah membawa banyak orang datang kepada Kristus.

2. Pujian adalah ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus.
Efesus 5:18-19, mengungkapkan : “ ...Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tapi hendaklah kamu penuh oleh Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah kepada Tuhan dengan segenap hati.”
Ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus menurut konteks kalimat ini sama sekali bertentangan dengan orang yang mabuk. Hal ini ditunjukkan dengan kata “ tapi” yang memisahkan kedua kalimat tersebut. Orang mabuk digambarkan sebagai orang yang dipenuhi hawa nafsu dan tidak bisa mengendalikan diri dengan baik, semua yang dilakukannya dipengaruhi ketidaksadarannya. Sebaliknya orang yang dipenuhi Roh Kudus digambarkan sebagai orang yang sepenuhnya sadar karena ada Roh Kudus di dalamnya, dan kerinduan terbesarnya adalah menaikkan puji-pujian kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Tidaklah mungkin orang yang mengaku dipenuhi Roh Kudus tapi, tidak terdapat kata pujian pada mulutnya.
Pada suatu saat ada seorang musafir yang melakukan perjalanan dari suatu kota ke kota lain dengan menumpang sebuah kereta kuda yang juga membawa banyak penumpang lainnya. Di dalam kereta tersebut terdapat beberapa orang, termasuk orang dewasa dan anak-anak. Kereta kuda ini dikendalikan oleh dua orang yang terlihat mabuk, sepanjang perjalanan kedua kusir kereta kuda tersebut terus berbicara dan mengungkapkan kata-kata yang tidak senonoh dan menghujat, sambil terus tertawa dan menenggak minuman keras tersebut. Terlihat sebagian besar penumpang kuda tersebut merasa terganggu dengan ulah kedua orang tersebut, tidak terkecuali si musafir. Di dalam batin si musafir terjadi pergumulan batin yang luar biasa.
“ Apa yang dilakukan kedua kusir tersebut ?”
“ Mereka mabuk, dan mengucapkan kata-kata kotor dari mulutnya”
“ Menurutmu mengapa mereka berperilaku demikian ?”
“ Karena mereka tidak bisa mengendalikan diri mereka, mereka adalah milik setan”
“ Lalu milik siapakah engkau ?”
“ Aku adalah milik Tuhan”
“ Apakah orang-orang dikereta ini tahu milik siapakah mereka berdua ?”
“ Ya, mereka semua pasti tahu bahwa kedua orang tersebut adalah miliki setan dari cara mereka berbicara dan berperilaku”
“ Tapi apakah mereka tahu milik siapakah engkau ?”
“ Tidak”
“ Mengapa ?”
“ Karena aku tidak menunjukkannya”
“ Maukah engkau menunjukkannya sekarang ?”
Si musafir terdiam untuk beberapa saat. Tapi tidak lama kemudian terdengar, lagu pujian yang keluar dari mulutnya. Pelan tapi makin lama makin menjadi keras.
Mendengar suara si musafir, kedua kusir tersebut berteriak menyuruhnya diam. Tapi si musafir dengan tenang dan tegas menjawab perintah dari kedua orang tersebut.
“ Sepanjang jalan kalian berdua telah menaikkan pujian kepada tuan kalian, sekarang adalah saatnya aku menaikkan pujian bagi Tuanku.”
“ Siapakah tuan kami ?”
“ Iblis, dan saya akan terus menaikkan pujian kepada Tuanku di dalam kereta ini, bila memang para penumpang tidak keberatan dengan nyanyian saya”
Semua penumpang berkata : “ Teruslah bernyanyi orang asing kami mendengarkanmu.”
Dan si musafir telah memenangkan peperangan rohani ini ketika pujian kepada Tuhan itu terus meluncur dari mulutnya.

Selain sebagai salah satu ciri orang Kristen, pujian juga merupakan bentuk persembahan kepada Allah. Persembahan hidup kita memang sepenuhnya milik Allah, tapi setiap pujian yang kita naikkan kepada Allah adalah bentuk pengakuan yang nyata kepada Allah.
Seorang petani yang sangat miskin selalu datang ke gereja setiap hari untuk berdoa. Karena kemiskinannya, dia tidak pernah bisa memberikan persembahan kepada Tuhan. Karena kepedihannya yang dalam karena merasa tidak bisa memberikan persembahan kepada Tuhan, dia menangis di hadapan Tuhan. Pendeta yang saat itu berada di dalam gereja menghampiri petani ini.
“ Mengapa bapak menangis ?”
“ Saya sedih, karena tidak bisa memberikan persembahan kepada Tuhan.”
“ Mengapa ?”
“ Saya terlalu miskin untuk bisa memberikan persembahan kepada Tuhan.”
“ Tapi saya lihat bapak sudah mempersembahkan 3000 dollar kepada Allah pagi ini”
“ Maksud bapak ?”
“ Mazmur 69:31-32 mengatakan : “ ... aku akan memuji-muji Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur ; pada pemandangan Allah itu lebih baik dari sapi jantan, daripada lembu jantan yang bertanduk, dan berkuku belah.” Saya dengar tadi bapak menyanyikan tiga buah lagu pujian kepada Allah. Bila satu ekor lembu seharga 1000 dollar, maka bapak telah mempersembahkan 3000 dollar kepada Allah hari ini.”

Bagaimana kita memuji Tuhan ?

Menjadi seorang pemuji yang baik dan benar adalah suatu tantangan bagi setiap orang percaya. Meskipun semua orang percaya memiliki natur untuk memuji Tuhan, tapi tidak semuanya bisa memuji dengan baik dan benar. Baik berbicara masalah keadaan hati saat memuji Tuhan, sedangkan benar berbicara masalah cara pada saat memuji Tuhan. Dengan kata lain, tidak semua orang percaya memuji dengan hati yang tertuju kepada Allah dan memuji dengan cara yang layak.
Bagaimana cara memuji yang baik dan yang benar ?
1. Pujian karena hati yang dipenuhi Roh Kudus
Orang bisa memuji dengan tulus ketika dia memiliki hati yang dipenuhi Roh Kudus. Natur Roh Kudus yang suci dan mulia mendorong setiap pribadi yang dipenuhinya untuk memuji Allah dengan sepenuhnya. Hal ini bukan berarti Roh Kudus mengendalikan kita sehingga kita tidak berdaya mengatakan tidak, tapi sebaliknya Roh Kudus membangkitkan benih-benih kerinduan untuk memuji Allah dan karenanya kita bisa memuji Allah dengan penuh ekspresi dan kesungguhan.
Hanya orang yang dipenuh Roh Kudus yang tidak akan pernah bisa menghujat Allah ; hanya orang yang dipenuhi Roh Kudus yang bisa bersorak bagi kemuliaan Allah. Lihat bagaimana pujian dan penghormatan Musa bersama-sama dengan bangsa Israel kepada Allah setelah mereka berhasil menyeberangi laut Teberau dengan kuasa Allah yang membelah lautan. Mereka memuji Tuhan dengan penuh kegirangan karena mereka telah menyaksikan kuasa Allah semesta alam yang sanggup memporak-porandakan isi dunia ini. Mereka memuji Allah bukan karena mereka terpaksa, tapi karena memang mereka telah melihat dan merasakan keberadaan Allah yang sebenarnya. Kitapun harus bersikap demikian, meskipun kita tidak pernah melihat Allah sama seperti bangsa Israel, tapi karya Tuhan masih bisa kita rasakan dan kecap, dan kuasa Roh Kudus masih nyata bekerja dalam kehidupan kita.

2. Pujian karena kasih dan rasa takut akan Allah yang dalam
Rasa kasih yang besar terhadap Allah akan membuat kita bisa memuji dan menyembah Allah dengan sungguh-sungguh. Karena kasih kepada Allah, Daud bersedia menyanyi dan menari untuk menyenangkan hati Allah, apalagi setelah Allah membunuh Uza bujangnya, ketika dia bersama dengan rombongan bangsa Israel membawa tabut perjanjian Allah dari Baale-Yehuda ke Kota Daud. Karena kasih jugalah kita harus memuji Tuhan. Lihatlah bagaimana Kristus karena kasihNya kepada manusia telah menyelamatkan kita dikayu salib ; lihatlah bagaimana Bapa karena kasihNya kepada manusia telah menyerahkan Anak TunggalNya sebagai tebusan ; lihatlah bagaimana pemeliharaan Allah atas dunia semenjak diciptakan sampai dengan kekekalan, dan kenyataan bahwa kita tinggal di dalamnya.
Ketakutan akan Allah juga menjadi pokok yang sangat penting dalam mempengaruhi diri kita menaikkan pujian kepada Allah. Rasa takut disini tidak dipahami sebagai ungkapan kengerian, tapi lebih berupa kegentaran. Bahasa inggris membedakan kata fear dan afraid untuk menegaskan perbedaan dari rasa takut ngeri dan gentar. Afraid (ngeri) adalah rasa takut yang muncul karena rasa jijik atau ketakutan akan kehilangan nyawa. Sedangkan Fear (gentar) adalah rasa takut yang muncul karena kekaguman, keseganan, dan hormat. Rasa takut kepada Allah adalah rasa takut Fear, itulah sebabnya penulis Amsal menuliskan : “ ... Fear of God is the beginning of knowledge ...”
Kekaguman dan penghormatan kita akan Allah membuat kita bisa memuji Allah dengan kesungguhan. Rasa takut itu tidak muncul karena kita takut akan hukuman Allah, tapi karena rasa kagum dan hormat akan keberadaannya sebagai Allah. Pujian yang muncul karena rasa kasih dan gentar kepada Allah ini akan memunculkan iman yang lebih dahsyat kepada Allah. Ini terlihat ketika Allah memerintahkan bangsa Israel yang sedang dipimpin oleh Yosua untuk mengelilingi tembok Yerikho. Pasukan tanpa senjata yang hanya membawa alat musik tersebut berkeliling sebanyak tujuh kali mengitari tembok Yerikho sebelum akhirnya mereka bersorak dalam pujian kepada Allah. Pujian yang muncul dari ketaatan (kasih) dan iman (kegentaran) dari bangsa Israel kepada Allah telah membuat Allah bekerja merubuhkan kota benteng Yerikho. Lihat juga bagaimana Yosafat, raja Yudea menaklukkan musuhnya, hanya dengan membawa serombongan pemuji yang diperlengkapi dengan alat pujian di depan tentaranya berangkat ke medan laga, Allah pun memporak-porandakan musuh Yosafat karena ia percaya bahwa Allah semesta alam yang akan turun tangan menyelesaikannya. Paulus pun mengalami nasib yang serupa ketika dia dan Silas dimasukkan ke dalam penjara di Filipi, ketika tengah malam, saat mereka berdua memuji Tuhan, tiba-tiba terjadi gempa bumi dan ikatan mereka lepas semua. Allah berkuasa untuk mengadakan perkara yang besar saat kita menyembah dan memuji Dia dengan setulus hati.
Apakah kita memuji Tuhan karena keberadaanNya yang agung tersebut, atau karena kita memang memiliki tujuan lain dari pujian yang kita naikkan ? Apakah kita memuji Allah karena kasih kita dan rasa hormat kita akan Allah, atau karena kepentingan kita sendiri. Allah mengenal kepunyaanNya dengan baik : “ ... bukan orang yang berseru Tuhan Tuhan yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah, tapi setiap orang yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga...” Hanya mereka yang menaikkan pujian dengan hati, bukan dengan mulut yang bisa mengalami karya Tuhan yang sebenarnya dalam hidup.

3. Pujian yang Alkitabiah
Banyak orang yang memuji asal memuji, tanpa ada jiwa di dalamnya. Mereka memuji karena musiknya yang bagus, karena suasananya yang menyenangkan, dan karena adanya orang-orang tertentu di sana. Pujian tidak semestinya di dasarkan kepada hal-hal tersebut, tapi di dasarkan kepada keberadaan Allah yang memang layak untuk dipermuliakan.
Karena pujian ditujukan kepada Allah, maka sebuah pujian semestinya tidak dilakukan dengan sembarangan. Kalau kita bisa menyanyikan lagu cinta dengan penuh ketulusan kepada kekasih kita, mengapa kita tidak bisa menyanyikan lagu pujian dengan penuh kesungguhan kepada Allah. Bukan kasih kita kepada Allah seharusnya lebih besar dari apapun juga ? bahkan lebih besar dari kekasih kita sendiri.
Ada pujian yang layak untuk dinaikkan kepada Allah, sedangkan ada juga lagu-lagu “rohani” yang tidak layak untuk dinaikkan kepada Allah. Bagaimana kita bisa mengenalinya ?
Pujian yang baik haruslah pujian yang didasarkan kepada kebenaran Alkitab, karena segala sesuatu memang harus diuji dengan Firman Allah yang tertulis. Jangan pernah sekalipun menggunakan perasaan saat kita menguji kebenaran. Ini bukan masalah musiknya yang mendayu-dayu dan menenangkan perasaan kita, tapi masalah apakah yang kita lantunkan tersebut benar secara teologis.
Banyak orang yang menaikkan pujian karena musiknya enak di dengar di telinga, itu memang baik tapi tidak cukup baik. Pujian yang baik harus memuat baik unsur keindahan maupun unsur kebenaran. Hati-hati, sekarang ini banyak lagu “rohani” yang beredar tapi tidak memiliki cukup standar kebenaran. Sebagai misal, lagu : “ kukasihi kau dengan kasih Tuhan”, ada sesuatu yang dipertanyakan di sini : bisakah kita manusia yang berdosa dan terbatas ini mengasihi manusia lain dengan kasih Tuhan yang sempurna ? Lagu : Rukun persaudaraan, yang reffrainnya mengungkapkan : “ bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan jubahnya turun “, apa yang sebenarnya turun ? “urapannya” atau “jubahnya”. Dan masih banyak lagi yang lain, yang kita perlu berhati-hati dengan lagu rohani yang ada. Tindakan bedah lagu mungkin adalah cara yang cukup efektif untuk menganalisa apakah sebuah lagu rohani tertentu alkitabiah atau tidak.
Ciri kedua dari lagu pujian yang baik adalah memiliki pesan yang jelas. Sebuah lagu adalah sama seperti buku atau puisi yang memiliki tujuan tertentu ketika dibuat. Karena memiliki tujuan, maka setiap lagu pujian yang baik akan membawa seseorang pada titik tertentu yang diharapkan. Ada lagu rohani yang dibuat untuk membuat orang merasakan hadirat Tuhan serta mengagungkan keberadaan Tuhan. Tapi ada juga lagu “rohani” yang dibuat hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Lagu seperti : “more, more, more” adalah salah satu lagu yang tidak membuat orang menyembah Tuhan, tapi hanya merasakan kesenangan pribadi saat menyanyikannya.
Ciri terakhir dari pujian yang baik adalah menantang iman. Sebuah lagu pujian akan mendorong seseorang semakin mengasihi Tuhan dan karenanya akan terdorong untuk memperjuangkan imannya. Pujian seperti : “ikut Dikau saja Tuhan” (Kidung Jemaat) adalah salah satu lagu pujian yang dengan baik menggambarkan ajakan untuk mengikut Kristus meskipun dengan harga yang tidak murah.

Dalam perjuangan untuk menjadi seorang pemuji yang baik tidaklah mudah. Meskipun setiap orang percaya dipanggil untuk menghidupi keberadaannya sebagai para pemuji, tapi harapan untuk menjadi pemuji yang baik tetap terus menjadi tantangan bagi setiap kita. Tapi dengan kasih yang besar kepada sang Juru Selamat yang telah menebus dosa, kita bisa menaikkan pujian yang benar di hadapanNya. (27/02/06) Suko Dwi Nugroho

Fill my eyes o my God, with the vision of the cross
Fill my heart with love of Jesus the Nazarene
Fill my mouth with thy praise, let me sing to endless days
Take my will, let my life be wholly thine

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!