TELEVISI : MEDIA YANG MENGGEROGOTI MASA DEPAN MANUSIA

Di sebuah rumah sakit, tepatnya di ruang operasi seorang anak terbaring menunggu waktu untuk menjalani operasi karena kecelakaan yang baru saja di alaminya. Si anak yang ketakutan, terus menerus berteriak memanggil mamanya : “ Mama, tolong ... Mama, tolong saya ... “. Tapi karena berada di dalam ruang operasi, maka si ibu diminta untuk tidak berlama-lama menunggui si anak. Si anak yang ketakutan tersebut, tidak kehilangan akal, ketika tahu bahwa ibunya keluar meninggalkan dia kemudian dia berseru memanggil papanya : “ Papa, tolong ... Papa, tolong saya ...”. tapi nasib si ayah tidak jauh berbeda dari si ibu. Karena operasi akan segera dilaksanakan, kedua orang tua dari anak ini kemudian diminta untuk keluar dari situ. Tahukah Anda apa yang terjadi ?
Si anak yang sudah kehabisan akal karena seolah tidak mendapatkan perlindungan dari siapapun yang dikenalnya kemudian berteriak : “ Power Rangers ... tolong saya !” Alamak, apa yang bisa diperbuat sekelompok Power Rangers di ruang operasi ?

Anda mungkin juga tersenyum membaca ilustrasi tersebut, sama seperti ketika saya pertama kali membaca ilustrasi itu di salah satu majalah rohani terbitan beberapa tahun yang lalu. Ilustrasi singkat tersebut menunjukkan kepada kita betapa anak-anak yang seharusnya polos dan lugu telah terbius oleh media yang bernama televisi. Ilustrasi itu adalah gambaran nyata dari generasi anak-anak pada saat ini, betapa tidak ? kalau seandainya mereka ditanya mereka tentu akan menunjukkan bahwa mereka lebih percaya kepada kekuatan Power Rangers, kecerdasan Detektif Conan, keperkasaan Son Go Ku dan kecanggihan Doraemon daripada kepada Kemahakuasaan Tuhan. Mengapa ? Apa yang telah terjadi ? dan Siapa yang salah ?

*******

Pada masa ini memang harus diakui bahwa anak-anak lebih berhubungan dekat dengan teknologi daripada kedua orang tua mereka. Mereka sudah mengenal televisi bahkan sebelum mereka mengenal huruf dan angka alias bisa membaca dan menulis, mereka sudah mengenal komputer dan internet saat di kelompok bermain atau taman kanak-kanak daripada orang tua mereka yang kadangkala bahkan tidak mengetahui teknologi itu dan yang parah adalah anak-anak lebih mampu menghafal tokoh-tokoh film kartun daripada tokoh Alkitab. Saya teringat ketika saya masih sekolah, handphone adalah barang yang hanya dimiliki oleh orang-orang berdasi yang duduk dalam dunia bisnis, tapi saat ini bahkan anak SD pun sudah menggenggam barang tersebut. Iliterasi ini memang ditemui di negara-negara dunia ketiga alias negara berkembang, khususnya Indonesia, dimana orang tua hampir tidak mengetahui apa-apa tentang teknologi sedangkan anak-anak dibombardir dengan berbagai media dan teknologi yang serba cepat dan baru. Di Indonesia anak-anak terlebih dahulu mengenal budaya teknologi digital dibandingkan dengan budaya membaca dan menulis, hal inilah yang membuat anak-anak yang dibesarkan di negara berkembang cenderung untuk malas membaca dan menulis.
Kecepatan anak-anak untuk menyerap teknologi yang tidak dibarengi dengan penguasaan teknologi dari para orang tua yang memadai, membuat orang tua kadang tidak bisa dengan baik mengendalikan anak-anak mereka. Saya teringat kisah seorang ibu yang mendapati di komputer anaknya yang baru saja tersambungkan dengan internet menerima beberapa gambar porno dari pengirim yang tidak dikenali, padahal anak-anak ini baru berusia tiga dan lima tahun. Bisakah Anda membayangkan bila hal tersebut terjadi terus menerus ? dan tidak diketahui oleh orangtua ?
Saya teringat pada saat saya masih kanak-kanak, satu-satunya film kartun yang bisa saya tonton pada hari minggu pagi adalah Tamiya Dash Yonkuro, itupun kalo saya rajin membolos sekolah minggu, tapi lihat sekarang film kartun ada disemua stasiun televisi dengan berbagai jenis cerita, tokoh dan waktu. Anak-anak bisa saja seharian duduk di depan televisi dan dimanja dengan semua tontonan yang kadangkala tidak lagi sehat secara keseluruhan. Sebuah buku yang berjudul Menyingkap Gerakan Zaman Baru, dijelaskan bahwa beberapa film seperti Casper, Thundar, He-Man, Harry Potter adalah alat-alat yang dipakai Iblis untuk menyesatkan manusia. Lihat saja, setan yang dulu terlihat menakutkan, tiba-tiba berubah menjadi manis dan ramah, belum lagi film-film yang makin membuat anak-anak terpukau dengan dunia mistis dan sihir yang pada akhirnya membuat mereka meyakini bahwa kuasa sihir lebih baik dan lebih kuat dari kuasa Tuhan. Mana yang lebih membuat generasi ini terkagum-kagum ? Harry Potter yang bisa menyihir segala sesuatu atau Tuhan yang hanya mereka dengar di sekolah minggu saja ? Pernahkah Anda berpikir, bahwa mungkin saja mereka adalah anak-anak kita, anak-anak yang dididik dengan pengajaran firman Tuhan ? Lalu bisakah Anda juga membayangkan, kemana mereka akan melangkah nantinya atau akan jadi pribadi seperti apakah mereka kelak ?
Memang kita tahu bahwa televisi hanyalah salah satu dari media massa yang merusak kehidupan manusia, tapi meskipun demikian kita tetap harus benar-benar waspada dan sanggup untuk mengendalikannya. Lihat saja apa yang ditawarkan oleh televisi saat ini : kekerasan, seksualitas, gosip, mistis, dll yang pada dasarnya membuat manusia semakin tenggelam di dalam dosa. Apa jadinya bila anak-anak yang harusnya dididik dengan kasih dan kebenaran malah dicekoki dengan segala bentuk kebobrokan sedemikian ? F Scott Andison pada tahun 1977 setelah melakukan pemeriksaan ulang terhadap data penelitian yang dilakukan kepada para pemirsa televisi selama 20 tahun, menyimpulkan bahwa siaran televisi yang ditayangkan sangat mungkin untuk merangsang munculnya perilaku kekerasan agresif pada diri individu. Menurut saya penelitian tersebut masih berlaku sampai dengan saat ini, bahkan mungkin sudah mendekati puncaknya, lihat saja berita yang sering kita dengar atau lihat : anak yang memukul dan menganiaya, anak yang memperkosa, anak yang mencuri, anak yang menipu, darimana mereka mendapat semua itu ? Saya teringat seorang pendeta pernah bercerita, bagaimana anaknya yang sedari kecil dididik untuk berkata dengan jujur, ternyata telah belajar untuk berbohong dengan sendirinya padahal tidak ada yang mengajarinya. Mengapa ? memang ada banyak faktor pemicunya tapi menurut saya televisi adalah salah satu penyebabnya. Teori keaktifan tayangan televisi mengungkapkan bahwa anak adalah seorang yang aktif, kognitif dan makhluk sosial sedangkan televisi dipandang sebagai sesuatu diluar anak yang dapat memunculkan reaktifitas dari anak. Secara sederhana teori ini ini hendak mengungkapkan bahwa perhatian dari anak terhadap televisi membuat mereka membentuk pemahaman dan pemahaman itu mendorong mereka untuk melakukan sesuatu. Lepas apakah teori ini benar atau tidak, kenyataannya kita melihat anak-anak telah mengalami perubahan karena ulah dari “kotak gambar bergerak” ini.
Setelah dua dekade pertelevisian diperkenalkan di Amerika Serikat (sekitar tahun 70an), kebiasaan sehari-hari dari anak–anak di Amerika berubah secara radikal. Perkunjungan atau bepergian dengan teman atau anggota keluarga mulai berkurang karena mereka lebih memilih tinggal di rumah untuk menonton televisi. Keengganan mereka untuk bersosialisasi membuat anak-anak cenderung individualis dan maunya menang sendiri dan yang paling menguatirkan para orang tua adalah kenyataan bahwa anak-anak mulai enggan untuk mengerjakan hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, seluruh perhatian mereka telah terfokus kepada program-program tayangan yang ditawarkan oleh televisi. Banyak orang mengungkapkan kekuatirannya terhadap perubahan anak-anak yang dikuatirkan juga akan merubah budaya masyarakat (karena mereka adalah pemilik masa depan) serta mengalihkan perhatian anak-anak dari sesuatu yang lebih penting.

*************

Romo Mangunwijaya pernah berkata bahwa kehidupan anak itu ditentukan oleh pembentuknya, sama seperti sebuah busa yang menyerap cairan yang diteteskan keatasnya. Pertanyaannya sekarang adalah, siapa yang mendidik anak-anak kita ? Dahulu kita takut roda perekonomian akan menghimpit keluarga kita, sehingga baik ayah dan ibu, semuanya bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Lalu, siapa yang mendidik anak-anak kita : baby sitter, pembantu, atau televisi ?
Anak-anak adalah jiwa yang labil, mereka sangat mudah untuk dipengaruhi karena memang mereka belum memiliki kemampuan untuk memilah dengan logika, mereka lebih cenderung untuk meniru seseorang yang mereka anggap sebagai teladan. Ketiadaan teladan yang baik membuat mereka meniru hal-hal yang mereka anggap hebat, sehingga anak-anak mulai meniru-niru emosi liar dan berfantasi yang aneh-aneh. Dan harus diakui bahwa televisi memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk hal tersebut. Televisi lebih dari mampu untuk memainkan emosi dan fantasi mereka.
Seorang anak kecil menangis ketakutan sembari bercerita bahwa dia melihat hantu pocong, beberapa hari setelah dia menonton acara mistis di televisi. Padahal apa yang dia lihat hanyalah selembar kain yang sedang dijemur ibunya. Anak yang lain meninggal secara mengenaskan karena terjun dari gedung empat lantai setelah dia melihat aksi spiderman yang bergelantungan dari satu gedung ke gedung yang lain. Atau seorang anak yang lain, yang menendang temannya, hanya karena ingin menunjukkan kehebatan Power Rangers.
Ketika anak-anak tidak mendapati sosok yang bisa menjadi model yang baik bagi dirinya di rumah dan lingkungannya, maka televisi menawarkan tokoh-tokoh yang anak-anak inginkan. Dari superhero yang perkasa sampai dengan profesor yang jenius, dari makhluk yang mungil sampai dengan yang raksasa, semuanya ada. Tapi benarkah mereka bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak ?
Bahaya lain yang mengancam anak-anak yang terlalu sering menonton televisi adalah gangguan mental dan sosial. Menurut Freeman dampak patologis dari terlalu seringnya anak menonton televisi akan tampak pada perubahan kemampuan personal, fisik dan intelektual dari anak yang pada akhirnya akan membawa anak menjadi autis, schizoid dan cenderung untuk bergantung kepada orang lain.
Apa yang ditayangkan di televisi tidak lebih dari sekedar permainan bisnis demi kepentingan seseorang semata, kalaupun ada unsur edukasi sebenarnya tidak banyak yang bisa membuat seorang anak manusia bisa belajar sesuatu yang baik. Saya prihatin dengan tayangan yang ada di televisi, terutama tayangan sinetron, berita kekerasan, tayangan erotisme dan tayangan mistis. Kalau kita mencermati berbagai jenis tayangan sinetron yang ada pada saat ini, tidak banyak sinetron yang menawarkan mutu yang baik. Kebanyakan sinetron menunjukkan gambaran kehidupan yang penuh dengan kemewahan, perselingkuhan, kekerasan, dan mistisisme. Tidak jarang sinetron yang diharapkan beraroma religius pun bergeser menjadi mistisisme karena tuntutan rating tayangan.
Saya teringat pernyataan dosen saya yang mengungkapkan adanya beberapa tayangan yang sebenarnya lebih mempermalukan orang tidak mampu daripada menolong mereka. Dalam tayangan tersebut ditampilkan, orang tidak mampu tersebut mendapatkan sejumlah uang untuk membeli barang apapun yang mereka kehendaki dalam waktu yang dibatasi. Orang tidak mampu yang tidak pernah bermimpi memperoleh uang sedemikian menjadi bingung sehingga mereka membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Kita semua yang menyaksikan siaran tersebut tersenyum lega dan sedikit terharu ketika usai. Tapi sadarkah bahwa tayangan tersebut lebih mempermalukan orang miskin tersebut daripada menolongnya ? Produser tayangan tersebut mendapatkan berlipat-lipat kali lebih banyak uang dari iklan dan sponsor, dibandingkan sejumlah uang yang diberikan kepada orang yang dipermalukan tersebut.
Generasi seperti apakah yang sedang kita siapkan untuk masa depan dan apakah kita sudah benar-benar mempersiapkannya ?

********************

Kadangkala saya beranggapan bahwa orang tua dan guru sekolah minggu bahkan sistem pendidikan di Indonesia belum mampu membentuk kepribadian anak dengan baik. Terpaan berbagai media telah membuat anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka peroleh dari orang tua, dan orang dewasa lainnya. Melalui tulisan ini saya tidak hendak mengungkapkan bahwa semua yang berasal dari televisi adalah sesuatu yang buruk, tapi memang harus diakui bahwa lebih banyak hal yang buruk yang kita temui di dalamnya daripada sisi baiknya. Para peneliti menyarankan, meskipun televisi dapat memperparah masalah dalam membesarkan anak tapi bisa diatasi jika orang tua menyediakan perlindungan dan pengertian ekstra. Hasdai Ibn Shaprut seorang pemikir Yahudi mengatakan bahwa anak Anda pada usia 5 tahun adalah tuan Anda, pada usia 10 tahun adalah hamba Anda, pada usia 15 tahun adalah rekan Anda. Setelah itu teman atau musuh Anda tergantung dari bagaimana Anda mendidik dan menuntunnya.
Ulangan 6:6,7 mengungkapkan : “ ... Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun ...”
Mendidik anak adalah tugas orang tua, itu adalah kehendak Allah. Bahkan Allah Bapa adalah Allah yang senantiasa mendidik anak-anakNya secara luar biasa. Bagi Allah mendidik tidak sama dengan sekedar berkata-kata memberi tahu, tapi lebih dari itu. Mendidik bahkan lebih dari sekedar mengajar. Bila mengajar berbicara tentang sebuah perkara, maka mendidik adalah menuntun agar orang tersebut mengalami perkara tersebut secara langsung. Itulah yang Allah kehendaki dari para orang tua. Perhatikan bagaimana cara Allah mendidik anak-anakNya

1. “ Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh, Aku hendak memberi nasihat mataKu tertuju kepadamu.” (Maz 32:8).
Allah mendidik dengan ketekunan dan fokus. Perhatikan kata mengajar yang disejajarkan dengan kata menunjukkan serta kata memberi nasihat dan mata tertuju. Kedua frase tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak pernah setengah hati ketika mengerjakan proses pendidikan bagi mereka yang taat kepadaNya. Mengajar dan menunjukkan adalah proses penuntunan yang dilakukan secara terus menerus, sedangkan memberi nasihat dan mata tertuju menunjukkan pengawasan yang bersifat kontinyu.
Apakah para orang tua juga mendidik anak sedemikian ? memberikan tuntunan yang penuh kasih serta pengawasan yang terus menerus tanpa membuat mereka merasa tertekan. Membuat anak merasa nyaman menjalani kehidupannya adalah hal yang baik, tapi bila tidak dibarengi dengan pendampingan yang kuat maka anak-anak tersebut akan terhilang.

2. “ Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya ; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Ams 13:24) “ KarenaTuhan menghajar orang yang dikasihiNya dan Ia menyesah orang yang diAkuinya sebagai Anak.” (Ibrani 12:6).
Banyak orang tua yang tidak mau menghajar anakNya karena kasihan atau sayang, tapi tidak sedikit juga yang memukul anaknya tanpa alasan yang jelas. Mendidik anak adalah menghajar di saat yang tepat, memberikan kompensasi di saat yang tepat. Di masa perjanjian lama, Allah seringkali menggunakan istilah “berkat dan kutuk” untuk menyatakan kompensasinya kepada manusia. Punishment dan Reward juga seharusnya diberlakukan secara adil pada masa kini oleh para orang tua kepada anak-anak mereka. Pujilah anak-anak pada saat mereka perlu untuk di puji dan hukumlah mereka bila memang mereka melakukan pelanggaran. Tanpa penghajaran seorang anak tidak akan pernah dewasa dan mampu menghadapi kehidupannya kelak.

Dalam pernyataan Musa di kita Ulangan tersebut diungkapkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak dalam segala kondisi (saat duduk, perjalanan, berbaring dan bangun) dan secara terus menerus (berulang-ulang). Semula saya berpikir bahwa hal tersebut adalah suatu proses indoktrinasi supaya anak mau mengikuti apa yang dikehendaki oleh orang tua, tapi kenyataannya proses tersebut dilakukan karena kesadaran bahwa anak tidak memiliki kemampuan untuk menentukan secara logika. Anak-anak cenderung memilih untuk mengikuti orang-orang yang dekat dengan mereka. Jangan heran kalau anak Anda merokok kelak, bila Anda juga merokok di depan mereka atau jangan bingung kalau anak Anda malas, bila Anda tidak pernah menunjukkan bahwa Anda memiliki minat untuk bekerja.
Jadilah teladan dalam segala sesuatu bagi anak-anak Anda, karena Anda adalah orang-orang yang ada di sekitar anak-anak. Injil sebenarnya ada lima, Anda adalah Injil kelima bagi anak-anak Anda. Hiduplah dengan memberi teladan bagi anak-anak Anda maka tidak ada bahaya apapun yang merusak anak-anak Anda bahkan televisi. (17/05/06) (SkD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!