OTORITAS ALKITAB

ALKITAB DI MATA DUNIA

John RW Stoot dalam bukunya Alkitab : Buku Untuk Masa Kini menuliskan sebuah hasil survei yang dilakukan di Inggris pada tahun 1980 berkenaan dengan Alkitab. Dalam surveinya Stott mengatakan bahwa : “ Alkitab adalah buku paling laris sedunia, karena selain diterjemahkan ke dalam 1710 bahasa dan dialek Alkitab juga telah didistribusikan oleh United Bible Societiy pada tahun 1979 sebanyak 501 juta, itu belum termasuk jumlah Alkitab yang didistribusikan oleh percetakan lain dari seluruh dunia, tapi Alkitab juga sekaligus sebuah buku yang paling dilupakan oleh manusia bahkan tidak pernah di baca.”
Cyril Garbert, seorang Uskup Agung Gereja Anglican di York pada tahun itu, bahkan mempertegas pernyataan tersebut : “ Sebagian besar orang kristen (di Inggris) tak pernah berdoa, kecuali dalam keadaan darurat ; tak pernah membaca Alkitab, kecuali untuk membantu mereka mengisi Teka Teki Silang ; tak pernah ke gereja sepanjang tahun, kecuali untuk baptisan, pernikahan dan penguburan. Selain itu, sedikit sekali orang tua yang membacakan Alkitab untuk anak-anak mereka, apalagi mengajarkan isi Alkitab. Sangat sedikit pengkhotbah menggumuli Alkitab secara bertanggung jawab untuk menangkap arti asalnya, maupun penerapannya masa kini.”
Keadaan tersebut, tidak hanya ditemukan di benua Eropa dan Amerika yang terkenal dengan sekularismenya, tapi juga telah masuk ke benua Asia yang sangat mengagungkan spiritualitas dan harmonisasi, termasuk Indonesia. Sepertinya memang sesuatu yang perlu diakui bahwa pada saat ini, banyak orang yang mengaku dirinya sebagai orang kristen tapi tidak pernah menyinggungkan hidupnya dengan Alkitab.
Dalam suatu seminar di Amerika Serikat Pdt. RC. Sproul pernah bertanya kepada para hadirin yang hadir dalam seminar tersebut : “ Seberapa banyak dari hadirin yang hadir di sini sudah membaca Alkitab sampai dengan selesai ?”. Tidak sampai 50% dari peserta yang hadir yang mengangkat tangan mereka. Pertanyaan Sproul terus bergulir ke seberapa banyak orang yang telah membaca seluruh kitab perjanjian baru, seberapa banyak yang sudah membaca keempat Injil, dan seterusnya. Pertanyaan senada juga dapat kita tanyakan kepada diri kita, seberapa banyak dari kita yang sudah menyediakan diri untuk membaca Alkitab (untuk mendapatkan isi dan gambaran umum bukan untuk menggali dan mendalami isinya) sampai dengan selesai ? Seandainya kita juga diminta untuk memberikan sepersepuluh dari 24 jam waktu kita sehari kepada Tuhan (+ 2 Jam 24 Menit), bagaimana Anda mempertanggungjawabkannya ?
Menurut Anda mengapa banyak orang memperlakukan Alkitab sedemikian ? Ketika saya bertanya kepada beberapa pemuda dan pendeta yang melayani pemuda, jawaban mereka hampir sama : “ Menurut anak muda, Alkitab adalah sesuatu yang kuno, yang tidak lagi relevan dengan gaya hidup anak muda zaman sekarang.” Benarkah demikian ? Hasil percakapan saya dengan beberapa orang kristen di Eropa menyatakan bahwa mereka yang datang ke gereja adalah remaja usia 12 – 13 tahun (karena mereka diwajibkan datang untuk mengikuti kelas konfirmasi) serta orang-orang tua yang berusia di atas 50 tahun, sedangkan hampir semua orang : anak-anak dibawah 13 tahun serta orang berusia 15 sampai dengan 50an tahun tidak ke gereja kecuali ada acara khusus. Dan harus diakui hanya beberapa keluarga saja yang memiliki gaya hidup ibadah keluarga di benua tersebut. Mengapa semua demikian padahal kita mendengar berita Injil dari benua tersebut ? Mengapa mereka seakan tidak menghargai Allah dan firmanNya (Alkitab) ?

APAKAH ALKITAB ITU ?

Alkitab dapat dipahami secara sederhana sebagai Firman Allah yang tertulis. Hal ini berarti bahwa Alkitab adalah pernyataan Allah yang dinyatakan kepada manusia secara langsung, dan oleh manusia pernyataan tersebut dipahami kemudian dituliskan secara khas oleh para penulisnya. Tidak sama seperti Alquran yang diimlakan (didiktekan), Alkitab adalah hasil tulisan tangan manusia yang mengalami karya besar Allah dalam hidupnya dan memberikan kesaksian tentang keberadaanNya. NIV menjelaskan pemahaman ini dengan : “ ... the bible is the Word of God in the words of men ... Alkitab adalah Perkataan Allah di dalam perkataan (yang dipahami oleh) manusia” dan makin dipertegas Paulus, ketika dia mengatakan : “ ... All scripture is God-breathed ... Segala tulisan yang diilhamkan (dihembuskan) Allah ...”. Alkitab bukanlah pernyataan Allah yang audibel kepada manusia, tapi Alkitab memiliki kuasa dan pengaruh yang sama dalam kehidupan manusia yang mendengarkannya.
Sementara itu Profesor George Ladd mendefinisikan Alkitab sebagai Firman Allah yang diberikan di dalam bahasa (manusia) dan dalam sejarah. Hal ini semakin mempertegas bahwa Alkitab benar-benar pernyataan Allah yang dinyatakan kepada manusia dalam bahasa dan sejarah manusia. Ada beberapa alasan mengapa Allah menyatakan firmanNya melalui bahasa manusia dan sejarah manusia.

1. Manusia memiliki keterbatasan untuk memahami bahasa Allah (bdk. Bahasa Roh). Karenanya Allah merendahkan diriNya dan menyatakan kehendakNya dengan bahasa manusia yang memiliki banyak keterbatasan. (bdk. Keterbatasan translasi dari satu bahasa ke bahasa lain). pernyataanNya dinyatakan dalam bahasa manusia bisa benar-benar memahami kehendakNya dengan sempurna.

2. Allah hendak menyatakan bahwa diriNya adalah Allah yang hidup dalam sejarah manusia bukan sesuatu yang fiksi atau hanya dalam alam pikiran manusia (seperti yang diajarkan dalam psikolgi modern oleh Sigmund Freud), karenanya Dia menyatakan kehendakNya melalui sejarah manusia. Dia ada dan bekerja secara nyata dalam kehidupan manusia, itulah sebabnya Alkitab mencatat karya Allah dalam kehidupan manusia dalam rentang waktu tertentu dalam sejarah kehidupan manusia.

Alkitab ditulis oleh orang-orang yang percaya dan mengasihi Allah, selama rentang waktu 1500 tahun, semenjak zaman Musa sampai dengan Rasul Yohanes. Para kontributor Alkitab ini berasal dari latar belakang yang sama sekali berbeda baik kehidupan maupun profesi serta tingkat pendidikan : ada yang gembala, ada yang nelayan, tabib, negarawan, bahkan pemungut cukai serta berbagai profesi lain yang berasal dari budaya dan waktu hidup yang berbeda. Meskipun terpisah ruang dan waktu, dan bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain, ada satu keunikan yang muncul dari tulisan orang-orang ini, yang juga sekaligus menyatakan bahwa Alkitab benar-benar firman Allah yang hidup, yaitu : tulisan orang-orang tersebut sama sekali tidak bertentangan satu sama lain, meskipun mereka berasal dari latar belakang, ruang dan waktu yang berbeda, tapi semuanya merujuk kepada hal yang sama.
Alkitab terdiri dari 66 kitab, yang terbagi dari 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Dimana di dalamnya memuat beberapa tipe literatur yang menunjukkan keunikan dari isi dan penulisnya. Tipikal literatur tersebut antara lain adalah :


· Puisi : Mazmur ; Kidung Agung ; Ratapan
· Hukum / aturan : Keluaran ; Imamat ; Bilangan ; Ulangan
· Sejarah : Yosua – 2 Tawarikh ; Injil dan Kisah Rasul
· Nubuatan : Yesaya – Maleakhi (berlangsung dari masa nabi tersebut sampai dengan Kristus)
· Tulisan akhir zaman : Yesaya ; Daniel ; Yehezkiel ; Zakaria ; Wahyu (literatur nubuatan yang menyingkapkan kejadian politik dan spiritual di masa depan secara rahasia melalui simbol dan penggambaran yang samar)
· Literatur hikmat : Ayub ; Pengkotbah ; Amsal
· Injil : Matius ; Markus ; Lukas ; Yohanes
· Tulisan rasul : Roma - Yudas

BAGAIMANAKAH TERBENTUKNYA ALKITAB ?

Alkitab yang kita kenal sekarang, pada mulanya ditulis dengan menggunakan tiga bahasa yang berbeda, yaitu : bahasa Ibrani (sebagian besar dari Perjanjian Lama), bahasa Aram (sebagian dari Daniel dan Yeremia serta 2 bagian dari Ezra), serta bahasa Yunani (seluruh kitab dalam Perjanjian Baru).
Bila berbicara masalah terbentuknya Alkitab kita berbicara tentang proses kanonisasi dari Alkitab. Kata “kanon” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “hukum” atau “pengukur”, yang mengindikasikan bahwa kitab-kitab yang termasuk ke dalam kanon dianggap sebagai dokumen yang berotoritas, dan karenanya menjadi hukum bagi iman dan kehidupan.
Orang kristen mengakui kanonisasi hanya pada 66 kitab yang terdiri dari 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Sedangkan gereja Katolik Roma dan Ortodoks Timur menambahkan ke dalam kanon beberapa buku lain (dalam sidang dewan gereja di Trent tahun 1546), yang dikenal sebagai apocrypha – terdiri dari 15 kitab - (bdk. Deuterokanonika). Apokrifa atau deuterokanonika diyakini adalah tulisan yang dibuat antara rentang 400 tahun masa kegelapan dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru yang dikenal dengan masa intertestamental, yaitu masa yang memisahkan zaman Nehemia dan masa kelahiran Kristus. Masa tersebut adalah masa transisi dimana orang Israel mengalami masa penjajahan dari beberapa kerajaan (Persia ; Media ; Romawi) serta masuknya budaya Helenisme dan Romano. Meskipun tidak dianggap sejajar dengan kanon tapi apokrifa tetap dimasukkan ke dalam alkitab mereka sebagai kitab sejarah.
Proses kanonisasi sendiri melewati 2 tahap, yaitu proses penentuan kanon untuk Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab, serta penentuan kanon untuk Perjanjian Baru yang terdiri dari 27 kitab. Kanon yang terdiri dari 66 kitab ini mulai diterima secara keseluruhan pada awal abad kedua masehi, karena adanya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa ke 66 kitab tersebut telah digunakan sebagai sumber yang berotoritas pada gereja mula-mula. Sedangkan secara resmi kanon ini diterima dan disahkan pada sidang dewan gereja di Carthage pada tahun 397 masehi.
Bagaimana proses kanonisasi terhadap ke 66 kitab tersebut dapat terjadi ? Siapa yang memiliki hak untuk menentukan keabsahan dari kanonisasi tersebut ? Keabsahan dari kanonisasi ini dapat terjadi karena adanya tiga alasan berikut:

1. Konfirmasi dari Kristus untuk keabsahan Perjanjian Lama (selama Yesus menjalani pelayanan, Dia banyak mengutip ayat dari Perjanjian Lama) serta konfirmasi dari para rasul untuk keabsahan Perjanjian Baru. Para rasul adalah orang-orang yang menerima arahan dan perintah dari Yesus selama Dia menjalani pelayananNya di dunia.

2. Penerimaan universal dari orang-orang kepunyaan Allah – orang Israel untuk Perjanjian Lama dan Gereja untuk Perjanjian Baru.

3. Kesaksian internal dari Roh Kudus. Roh Kudus menyingkapkan kebenaran kepada kita pada saat kita membaca Alkitab. Para bapa gereja yang menyusun kanon inipun melewati proses pergumulan yang panjang dengan pimpinan Roh Kudus untuk menentukan dengan pasti bagian-bagian dari kanon tersebut.

BAGAIMANAKAH SIFAT ALKITAB ITU ?

Bila kita mengamati dari pengertian kita di atas, yang menyatakan bahwa Alkitab terbentuk dari Allah yang berbicara atau menyatakan kebenaran yang kekal dalam keadaan dan peristiwa khusus dalam sejarah kehidupan manusia, maka ada paling tidak dua sifat mendasar dari Alkitab tersebut :

1. Alkitab bersifat relevan di setiap zaman / masa.
Hal ini berarti Alkitab bersifat kekal kebenarannya. Relevansi Alkitab ini berlaku untuk seluruh manusia dalam segala zaman dan dalam semua kebudayaan yang ada. Firman yang dinyatakan Allah pada zaman Musa juga berlaku bagi kita di zaman komputer ini.

2. Alkitab memiliki keistimewaan historis karena ditulis oleh manusia pada masa dan budaya tertentu.
Karenanya, Alkitab dibatasi oleh bahasa, waktu dan budaya dimana dokumen tersebut mula-mula dituliskan. Sebagian besar – bahkan mungkin seluruh bagian – Alkitab dituliskan pada budaya Israel / Yahudi pada masa Musa sampai dengan Rasul Yohanes, yang tentu saja memiliki keberbedaan dengan pemahaman kita orang pada masa kini. Itulah sebabnya Alkitab perlu untuk dipelajari.

Sifat relevan dan historis pada Alkitab bukanlah dikotomi yang bisa dipisahkan, keduanya adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Orang yang hanya menekankan sisi relevansi hanya akan memandang Alkitab sebagai serangkaian dasar pikiran dan perintah kepada manusia untuk ditaati. Sedangkan orang yang hanya menekankan sisi historis hanya akan memandang Alkitab tidak lebih dari sebuah buku sejarah yang memuat mitos dan sejarah orang-orang pada masa dulu tanpa memiliki kuasa untuk merubah manusia. Hanya mencondongkan diri pada sisi relevansi akan membuat seseorang menjadi terikat pada hukum dan aturan, sedangkan mencondongkan diri pada sisi historis akan membuat orang menjadi tidak menghormati otoritas Alkitab.


MENGAPA KITA HARUS MENGHORMATI KEBERADAAN ALKITAB ?

Setelah kita mengetahui kejadian dan kedudukan dari Alkitab, masihkah Anda tidak menghormati keberadaannya ? Menghormati kedudukan Alkitab tidaklah sama dengan mempertuhankan Alkitab (seperti yang dilakukan oleh para bibliolatri). Alkitab adalah firman Allah bukan Allah sendiri, kedudukannya tidak bisa menggantikan kedudukan Allah yang lebih mulia, yang telah memberikan pernyataan tersebut. Menghormati Alkitab berarti menempatkan Alkitab sebagai sebuah surat cinta Allah kepada manusia, menempatkan Alkitab sebagai sebuah pernyataan Allah yang berkuasa menuntun kehidupan manusia. Seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita, biasanya akan menyimpan sebuah foto dari wanita yang dicintainya. Kadangkala pada saat tidak bersama dengan kekasihnya tersebut, dan si pria merasakan kerinduan maka dia akan mengambi foto wanita tersebut dan menciumnya. Tindakan mencium foto tersebut tidak bisa disamakan dengan tindakan mencium wanita yang dicintainya secara langsung. Sama seperti itu kedudukan Alkitab tidaklah sama dengan kedudukan Allah dalam kehidupan manusia. Ada beberapa alasan mengapa kita harus menghormati keberadaan dari Alkitab.

1. Alkitab adalah firman Allah.
Adakah diantara Anda yang tidak menghormati pernyataan pejabat negara ? Bagaimana dengan pernyataan yang dibuat oleh Raja segala Raja, Tuhan dari segala ciptaan ? Bila kita menyadari keberadaan kita serta keberadaan Allah, maka kita akan menghormati Alkitab sebagaimana kita menghormati Pribadi yang menyatakannya. Adalah sesuatu yang luar biasa bila kita menyadari bahwa Allah bersedia untuk menyatakan kehendakNya kepada manusia, yang tidak akan pernah tahu kehendakNya kecuali bila Allah sendiri menyatakannya. Kesadaran bahwa Alkitab adalah firman Allah membuat kita juga harus mengakui bahwa Alkitab tidak memiliki kecacatan dan kebersalahan.
Sekelompok orang di Skotlandia yang menamakan diri “Free Thinker” membuat rencana untuk membukti ketidakakuratan Alkitab sehingga orang-orang akan mengakui bahwa Alkitab bukanlah firman Allah. Mereka mengutus seorang anggota mereka ke Asia Kecil, Eropa Selatan dan kepulauan di Laut Tengah untuk mengunjungi tempat yang disebutkan Lukas yang mencatat perjalanan Paulus. Mereka berharap penelitian tersebut dapat membuktikan ketidakakuratan Lukas dan karenanya membuktikan bahwa kitab Kisah Para Rasul adalah salah. Pemuda tersebut bernama Sir William Ramsay. Dia melakukan investigasi dengan cermat, dan setelah usai melakukan perjalanan dia menyimpulkan bahwa semua yang dituliskan oleh Lukas sangat akurat, dan karenanya dia telah berubah dari seorang pemikir bebas menjadi seorang kristen, bahkan dia telah menuliskan begitu banyak buku yang membela kebenaran Alkitab.
Charles Haddon Spurgeon seorang penginjil dari Inggris mengatakan : “ Saya lebih memilih membela seekor singa daripada membela Alkitab, karena Alkitab lebih dari mampu untuk membela dirinya sendiri.”

2. Alkitab adalah perwakilan pernyataan Allah pada manusia pada zaman ini.
Allah sudah tidak berbicara secara audibel kepada manusia, seperti yang dilakukanNya kepada hamba-hambaNya di masa lalu. Allah berbicara pada saat ini melalui Alkitab. Segala sesuatu yang dianggap sebagai pernyataan Allah harus diuji kebenarannya oleh Alkitab. Itulah sebabnya muncul semboyan di kalangan kristiani : Back to the Bible.

3. Alkitab memberikan tuntunan dalam kehidupan manusia.

Rasul Paulus menyatakan dalam 2 Timotius 3:16 : “ Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Konsep ini sangat menarik, karena menggambarkan bagaimana Alkitab berfungsi dengan baik dalam kehidupan orang percaya.
Semakin kita mengasihi Allah maka tidak bisa dihindari bahwa kita akan semakin mengasihi pernyataanNya kepada manusia. Itu adalah surat cinta Allah kepada kita. Martin Luther mengatakan : “ Alkitab adalah palungan dimana bayi Yesus terbaring, jangan biarkan kita memeriksa palungan itu dan lupa menyembah sang Bayi.”

MENGAPA KITA HARUS MEMPELAJARI ALKITAB ?

Memasuki bagian ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan, karena yang menjadi masalah bukanlah ketidaktahuan tapi ketidakmauan untuk melakukan pembelajaran Alkitab. Banyak dari antara kita yang menyadari pentingnya mempelajari Alkitab, tapi juga tidak sedikit dari antara kita yang tidak melakukannya dengan tekun, teliti dan setia.
Dari eksplorasi kita memahami konsep tentang Alkitab, kita dibawa kepada alasan dan tujuan mengapa kita perlu untuk melakukan pembelajaran Alkitab.

1. Alkitab butuh untuk ditafsirkan dengan benar dan bertanggung jawab.
Seperti yang telah kita lihat, Alkitab ditulis dengan bahasa manusia dan berada dalam sejarah kehidupan manusia pada waktu tertentu. Pemahaman akan hal tersebut membawa kepada kesadaran bahwa Alkitab perlu untuk ditafsirkan dengan benar dan bertanggung jawab sehingga makna dan maksud sebenarnya dapat kita tangkap dengan baik, bukan untuk kepentingan kita tapi untuk kepentingan Allah.

2. Alkitab memberikan kesaksian tentang Kristus, dan Kristus memberikan kesaksian tentang Alkitab.
Seluruh isi Alkitab merujuk kepada Kristus baik perjanjian lama maupun perjanjian baru, karena memang Kristuslah yang menjadi pusat dari berita Alkitab. Sementara itu Kristus juga menyaksikan keabsahan dari Alkitab, karena Dia selalu menggunakan Alkitab sebagai dasar dari setiap pengajaranNya. Jikalau Anda mengaku sebagai orang Kristen (baca. Pengikut Kristus) maka Anda bertanggung jawab untuk meneladani Kristus dalam hidup, Kristus harus menjadi pusat dari seluruh kehidupan kita, dalam hal ini kita juga harus mempelajari Alkitab, sebagaimana Kristus juga mempelajari dan menghidupi Alkitab.
Dua orang misionaris masuk ke sebuah kota di Polandia untuk memberitakan Kristus, tapi tidak seorang Yahudi pun yang bersedia untuk mendengarkan mereka. Maka mereka mengirimkan surat diskusi terbuka kepada seorang rabi Yahudi tentang apakah Yesus benar-benar Kristus. Selama tiga hari sinagoge dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menyaksikan perdebatan itu. Namun hasilnya sungguh menyedihkan, kedua misionaris tersebut diusir, diludahi, dipukuli sampai hampir mati sedangkan rabi tersebut mendapatkan pujian dan tepuk tangan.
Pada sabat berikutnya, rabi tersebut tidak mengadakan ibadah, demikian juga pada sabat kedua, seorang pengkhotbah pengganti muncul menggantikan rabi tersebut. Pada suatu hari sang rabi meminta untuk dapat bertemu dengan anggota sinagoge pada hari sabat ketiga.
Pada sabat ketiga, rabi tersebut muncul dengan muka pucat. Semua orang menahan nafas ketika rabi yang tampak sakit berat tersebut berkata : “ saudara, kalian tentu tahu dengan perdebatan yang saya lakukan dengan dua orang misionaris itu. Kalian cukup baik untuk menganggap saya sebagai pemenang atas perdebatan tersebut. Kini, saat saya bersiap menghadap Hakim di atas segala hakim, saya harus memberitahu kalian dan saya akan menanggung segala konsekuensi pengakuan saya ini. Sebetulnya sayalah yang kalah. Sekarang, saya berdiri di sini untuk mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang dikatakan oleh Musa dan Hukum Taurat.”

3. Alkitab membuat kita bertumbuh dan mengalami pembaharuan hidup.
Alkitab dan Roh Kudus adalah dua hal yang menjamin perubahan hidup dan pertumbuhan iman. Bahkan ilustrasi roda dengan jelas menyatakan bahwa firman adalah salah satu jari-jari penopang kehidupan yang menentukan kesehatan spiritual dari orang percaya. Sejarah juga menyatakan bahwa para bapa gereja serta beberapa tokoh iman kristen juga mengalami pembaharuan hidup karena Alkitab.

· Agustinus, yang pada masa mudanya terikat dengan dosa seksual suatu hari mendengar beberapa anak yang sedang bermain mengucapkan kata “ Tolle Lege” yang berarti ambil dan bacalah. Pada saat itulah Agustinus membaca Alkitab bagian Roma 13:13-14 yang akhirnya mengubahkan seluruh bagian hidupnya. Bahkan pada saat dia bertemu dengan seorang pelacur yang pernah ditidurinya, “ Agustinus ini aku apakah kau melupakan aku ? “ dia berani berkata : “Iya, tapi ini bukan aku “

· Martin Luther dalam pergumulannya menemukan konsep keselamatan dari Allah, dia tersentuh oleh kupasan kitab Roma yang ditulis oleh Agustinus, khususnya Roma 1:17. Dan semenjak itulah tercetus konsep sola gracia, sola fide dan sola scriptura.yang menjadi dasar konsep keselamatan orang kristen.

· John Wesley pendiri gereja Anglican pun mengalami sentuhan Roh Kudus pada saat mendengarkan kotbah dari kitab Roma di Aldersgate, London. Itulah saat dimana dia – menurut pengakuannya – mengalami kelahiran baru dan perubahan hidup yang drastis. Mulai saat itulah dia tergerak untuk memberitakan Injil.

· RC Sproul juga menceritakan kisah pertobatannya, pada saat dia mendengar ayahnya yang menderita stroke mengucapkan satu kalimat dari Alkitab : “ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7) sebelum dia meninggal.

· John Sung membuang semua ijazah pendidikan yang diperolehnya ke laut karena, dia menyadari semuanya itu akan menghalangi dia memberitakan Injil Allah. Dia melewati 193 hari di rumah sakit jiwa untuk membaca Alkitabnya sebanyak 40 kali. Dia menyatakan itulah sekolah teologi yang terbaik yang pernah dia terima.

· John Bunyan, dalam bukunya : Pilgrim’s Progress (perjalanan musafir) menceritakan bagaimana awal perjalanan si kristen mencari kebenaran dan keselamatan dimulai dari pernyataan Alkitab yang menggelisahkan hatinya. Buku ini diyakini sebagai sebagian kisah kehidupan John Bunyan sendiri yang pada saat menulis buku ini berada dalam penjara karena kesaksian Injil yang dia lakukan.

· Seorang tukang kunci di Bohemia mengenal firman Tuhan dengan baik karena 17 tahun sebelumnya, dia bersama dengan ayahnya telah menyelamatkan sebuah Alkitab dari pembakaran massal alkitab, hanya karena terkesan dengan dua lembar kertas alkitab yang terbakar sebagian dan diterbangkan oleh angin yang bertuliskan “ Langit dan bumi akan berlalu tapi perkataanKu tidak akan berlalu (Matius 24:35).”

· Dan masih banyak tokoh Kristen lain yang mengalami pembaharuan iman karena Alkitab.


BAGAIMANA KITA MEMPELAJARI ALKITAB ?

Gordon D Fee dan Douglas Stuart dalam bukunya : How To Read The Bible For All Its Worth : A Guide To Understanding The Bible, menyatakan : “ Sebenarnya kita yakin bahwa satu-satunya masalah yang paling serius dihadapi manusia dengan Alkitab bukanlah kekurangan pengertian, tapi kenyataan bahwa mereka sangat memahami banyak perkara !”
Menurut mereka berdua, kesulitan terbesar manusia dalam memahami Alkitab bukannya ketidaktahuan tapi terlalu banyaknya pengetahuan yang mereka miliki. Apa maksudnya ?
Kedua ahli Alkitab ini menyatakan bahwa seringkali yang membuat orang sukar untuk mempelajari Alkitab adalah : (1) Mereka merasa sudah tahu sehingga menganggap tidak perlu untuk belajar Alkitab (2) Pengetahuan mereka yang luas, termasuk konsep-konsep yang tertanam dalam pikiran mereka membuat mereka terbatasi untuk mempelajari Alkitab yang seringkali memiliki konsep yang berbeda dengan apa yang mereka pahami. Seperti misalnya :

· Ketika orang zaman kita mendengar kata “salib” maka bayangan kita akan terbawa kepada bentuk salib Romawi (+), meskipun kecil kemungkinan bentuk salib Yesus demikian, sebab mungkin sekali bentuk salib Yesus adalah “T”.

· Kebanyakan orang kristen ketika mendengar kata “jemaat beribadah” langsung membayangkan banyak orang yang duduk pada bangku gereja dalam gedung sama seperti di dalam gereja mereka sendiri.

· Demikian juga ketika mendengar kata “tubuh” maka bayangan orang adalah tubuh jasmani, padahal dalam kebanyakan tulisan Paulus, dia lebih merujuk kepada tabiat berdosa manusia.

· Dan lain-lain

Melihat alasan tersebut, penting sekali bagi orang kristen untuk mengetahui bagaimana mempelajari Alkitab. Ada banyak metode pembelajaran Alkitab diajarkan kepada orang kristen. Sebut saja diantaranya : PA swedia, PA Deduksi, PA Induksi, PA Surat, PA Historis, PA Mazmur, PA Injil, PA Perumpamaan, dan lain-lain. Lepas dari bagaimana metode yang digunakan, ada dua tahap penting yang harus dilewati untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

1. Eksegesis
Eksegesis adalah hal mempelajari Alkitab secara sistematis dan teliti untuk menemukan arti asli yang dimaksud oleh penulis pada waktu dan konteks budaya pada masa itu. Dalam hal ini seorang pembelajar Alkitab harus kembali ke zaman itu untuk memahami maksud penulis bagi para pendengar / pembaca pada masa itu. Dan disinilah seorang penafsir harus bisa menempatkan dirinya sebagai pendengar / pembaca pada masa itu yang memiliki pemikiran pada masa itu juga. Setelah memahami apa yang menjadi maksud dari penulis dan mendapatkan inti dari penulisan maka penafsir siap melangkap ke tahap selanjutnya.

2. Hermeneutik
Hermeneutik adalah usaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai arti Alkitab untuk “masa kini”. Ini adalah usaha untuk membawa pemahaman kita terhadap maksud penulis dalam eksegesis, kepada makna yang bisa dipahami dan diterapkan pada masa kini, yang memiliki budaya yang berbeda dengan budaya pada masa penulisan kitab tersebut.

Sebagai misal ketika Yesus berkata : “ Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum darupada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan sorga.” . Ada beberapa orang yang menyatakan bahwa ada sebuah pintu gerbang di Yerusalem yang bernama “lubang jarum”, yang hanya bisa dilewati unta dengan berlutut dengan amat sukar. Maksud dari penafsiran ini adalah bahwa seekor unta sebenarnya bisa melewati lubang jarum. Tapi secara eksegesis hal tersebut sama sekali tidak benar, tidak pernah ditemukan pintu gerbang semacam itu di Yerusalem pada masa apapun dalam sejarah. Pendapat tersebut muncul pertama kali pada abad kesebelas, dari seorang pendeta bernama Theopylact yang mengalami kesulitan untuk memahami konteks tersebut. Tidak mungkin bagi seekor unta untuk melewati lubang jarum, itulah yang dimaksud oleh Yesus. Tidak mungkin bagi seorang kaya yang mengandalkan kekayaannya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah, itulah sebabnya hal tersebut dipertegas pada ayat sesudahnya : “ Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”
Contoh lain dapat ditemukan pada perkataan Paulus : “ Demikain juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal ...” Apakah melalui tulisan ini, Paulus bermaksud untuk melarang jemaat wanita datang dalam kebaktian dengan memakai pakaian yang bagus dan perhiasan yang indah, serta larangan untuk berkepang rambutnya ? Bila kita kembali kepada pemahaman masa itu, wanita yang sopan dan baik diidentikkan dengan pakaian yang sederhana dan berkerudung, sedangkan mereka yang berkepang dan berpakaian tidak sopan adalah para pelacur. Paulus melalui tulisan ini berharap agar jemaat wanit menempatkan dirinya sebagai wanita yang terhormat dan menghormati kekudusan rumah Tuhan, selain itu pakaian dan aksesoris yang berlebihan hanya akan membuat perhatian jemaat terpecah kepada mereka, bukan kepada Allah. Gereja bukan tempat fashion show.

BAGAIMANA POSISI ALKITAB DALAM HIDUP ANDA ?
Setelah mempelajari bahwa Alkitab adalah bagian yang tidak kalah penting dalam kehidupan orang percaya bagaimana sekarang Anda memandang dan menempatkan Alkitab dalam kehidupan Anda ? Alkitab bukanlah buku yang hanya dipajang di rak hingga berdebu, atau pengganjal kepala untuk tidur (atau malah obat tidur). Alkitab adalah surat cinta Allah kepada manusia, jika Anda mencintai Allah maka Anda akan dengan senang hati membaca surat cinta tersebut berulang-ulang untuk memahami apa maksud Allah di dalamnya. (SkD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!