OIKOUMENITAS PERSEKUTUAN

Apa arti dari persekutuan ?

Dalam kehidupan orang percaya, kata “persekutuan” adalah suatu hal yang tidak asing. Bahkan sebelum dunia mengenalnya dengan luas kata ini sudah terdengar dengungnya dalam kehidupan kaum kristiani. Tapi apa sebenarnya arti terdalam dari kata persekutuan ini ?

1. Dalam bahasa Indonesia Kata Persekutuan adalah bentukan dari kata sekutu yang mendapatkan imbuhan pe – an sehingga menyatakan keberadaannya sebagai kata benda yang abstrak. Kamus bahasa Indonesia mendefinisikan kata “persekutuan” sebagai : kumpulan dari beberapa unsur atau hal yang berbeda dikarenakan adanya kesamaan yang menyatukan keberbedaan tersebut.
2. Dalam Bahasa Inggris, kata yang digunakan untuk menyatakan persekutuan adalah Fellowship. Kata fellowship sebenarnya adalah frasa yang terbentuk dari dua kata dasar Fellow yang berarti teman dan kata Ship yang berarti Kapal atau wadah. Perpaduan dari dua kata dasar inilah yang membentuk kata Fellowship mempunyai makna : wadah dari orang-orang yang saling berteman.
3. Dalam bahasa aslinya (Yunani) kata persekutuan dituliskan sebagai :Koinonia, yang memiliki arti : Persatuan (union) atau hubungan kerjasama (partnership) di dalam organisasi. NIV Compact Dictionary of the Bible di dalam catatannya tentang hal ini mengatakan : Christian are told not to be unequally yoked together with unbelievers (2 Cor 6:14-18) because such as union, either in marriage, business, or society, is incompatible with fellowship with Christian and with God.

Berdasarkan kepada pengulasan kata “persekutuan” tersebut sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan apa yang dimaksud dengan persekutuan kristiani. Persekutuan kristiani adalah wadah dari orang-orang yang memiliki kesamaan (keyakinan bahwa Kristus adalah Tuhan) yang berkumpul (dengan penuh kasih) untuk membangun sebuah komunitas yang menegakkan relasi yang benar dengan Allah dan sesama.

Mengapa perlu untuk bersekutu ?

Untuk menjawab pertanyaan mengapa, paling tidak ada dua jawaban mendasar yang berupa alasan dan tujuan. Alasan dari pentingnya persekutuan untuk ada adalah :
1. Kehendak Allah (Yoh 17:21). Alkitab mencatat sejak masa perjanjian lama sampai dengan perjanjian baru, bahwa Allah menghendaki persekutuan antara manusia dengan Allah, maupun manusia dengan sesamanya. Dari kisah Henokh yang diangkat, bangsa Israel yang dipanggil untuk menjadi umatNya pada masa Musa sampai dengan Allah turun ke dunia dalam rupa Kristus, Allah terus mengharapkan agar manusia datang kepadaNya untuk bersekutu. Dalam KetritunggalanNya yang Esa Allah juga memberikan teladan tentang persekutuan yang Indah kepada manusia. Tidak ada kesempurnaan persekutuan seperti yang dinampakkan dalam diri Allah Tritunggal sendiri, dalam karyaNya, dan dalam segalanya. Kehadiran Kristus di dunia juga makin memperkuat ikatan persekutuan itu sendiri. Paulus menuliskan : “ ... demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus ; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain ... (Rm 12:5) ... kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (I Kor 12:27)”
2. Sarana pertumbuhan iman (Kis 2:42; 5: 33). Kehidupan orang percaya setelah menerima Kristus adalah seumpama roda yang berjari-jari empat, yang tiap-tiap jarinya merupakan intisari kehidupan kristiani yang bertumbuh. Sedangkan poros rodanya adalah Kristus yang menjadi pusat kehidupan kita. Apa yang terjadi dalam hidup kita apabila salah satu dari jari-jari roda tersebut yaitu persekutuan patah ? bisa dipastikan bahwa akan terjadi ketimpangan dalam pertumbuhan iman kita. Dalam diri anak muda (baca.remaja) persekutuan juga menjadi media yang baik untuk mengaktualisasikan diri. Sebagai makhluk zoon politicon, manusia juga membutuhkan tempat aktualisasi diri yang tepat. Tempat yang tidak tepat akan membawa kehancuran pada sisa hidup kita. Persekutuan dikatakan tempat yang tepat karena, di dalamnya terdapat orang-orang yang bisa menerima orang lain tanpa tuntutan yang menekan (mereka bisa menerima karena telah mengalami penerimaan dari Tuhan).

Sedangkan tujuan dari persekutuan dari tersebut adalah :
1. Saling melengkapi untuk menjadi serupa dengan Kristus. Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus (I Yoh 2:6). Perjuangan ini akan menjadi sesuatu yang berat apabila kita berjuang sendiri, tanpa penguatan, teguran, bahkan didikan dari orang lain yang juga bertumbuh dalam Kristus. Kita mengakui dan menyadari bahwa persekutuan bukanlah tempat dari orang-orang yang sudah sempurna melainkan tempat orang-orang yang berharap untuk mencapai kesempurnaan dalam Kristus. Dalam buku “Membangun dengan pisang”, Derek dan Nancy Copley menceritakan sebuah ilustrasi tentang seorang tukang batu yang sedang berdiri di pinggir tumpukan batu bata yang bermutu jelek. Dia mengeluhkan tentang kesulitan untuk membangun gedung dengan batu bata tersebut, “Bagaimana mungkin saya sanggup membangun dengan batu bata ini ? bentuk mereka seperti pisang saja !” tapi dia tetap bisa membangun gedung tersebut dengan baik sesuai dengan keahliannya. Demikian juga dengan kita, demikian Derek dan Nancy melanjutkan, kita adalah batu bata yang tidak sempurna, dan Allahlah yang membangun. Dengan di dasarkan kepada Kristus sebagai fondasi dan kasih sebagai semen perekat, maka batu bata tersebut akan dapat ditata dengan rapi membangun sebuah gedung yang kuat.
2. Menyatakan budaya kristiani di atas dunia. John RW Stott dalam bukunya kotbah di bukit menyatakan “ ... sebab terlalu sering mereka lihat dalam gereja bukan suatu kebudayaan tandingan, melainkan semata-mata konformisme. Bukan masyarakat baru yang membiaskan apa yang mereka dambakan itu secara dinamis melainkan versi lain dari masyarakat bobrok yang telah mereka tolak. Bukan kehidupan melainkan kematian ... “ keprihatinan ini muncul bukan tanpa alasan. Banyak persekutuan dan gereja kini tidak lagi menampilkan pola hidup yang Kristus kehendaki, mereka cenderung untuk mengikuti pola dunia daripada mempengaruhi dunia itu sendiri. Kita dipanggil untuk menjadi garam dunia bukan madu dunia, kita dipanggil untuk menjadi tandingan dunia bukan sahabat dunia.

Bagaimana bersekutu ?

Ada gambaran yang menarik, bila kita mencoba untuk melihat sejarah perkembangan gereja sebelum kita melihat tentang bagaimana bersekutu dengan berkualitas. Secara garis besar, terjadi beberapa titik utama yang menyebabkan gereja mengalami sejarah yang besar. Titik kelahiran gereja, titik perpecahan awal (gereja timur dan gereja barat), titik reformasi gereja - perpecahan kedua (gereja barat dan gereja protestan), titik munculnya bidat kristen. Pada titik-titik sejarah tersebutlah mungkin kita perlu untuk belajar, khususnya pada titik awal bagaimana gereja dilahirkan.
Tidak ada gambaran yang lebih jelas untuk menjelaskan tentang kelahiran jemaat mula-mula selain bagian dari Kisah Para Rasul 2: 41-47 dan 5: 32-35. Gambaran tersebut merupakan gambaran yang terbaik, tentang bagaimana sebuah persekutuan seharusnya berjalan. Bersama kita akan melihat bagaimana ciri-ciri persekutuan yang sehat.
— Menerima perkataan dan memberi diri dibaptis (2:41)
— Bertekun dalam pengajaran rasul dan persekutuan – selalu berkumpul untuk memecah roti dan berdoa (2:42, 46) dengan tulus dan gembira
— Bersatu, segala kepunyaan adalah kepunyaan bersama (2:44; 5:32, 34-35), harta milik dijual dan dibagikan kepada semua orang sesuai keperluan masing-masing.
— Memuji Allah (2:47)
— Sehati dan sejiwa (5:32)
— Dengan kuasa yang besar Rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus (5:33)
— Hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah (5:33)

Dari ciri-ciri tersebut kita bisa melihat bahwa persekutuan yang sehat memuat beberapa bagian penting yaitu :
1. Kristus yang adalah dasar dari persekutuan. Setiap orang yang bersekutu adalah orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus.
2. Alkitab adalah firman Tuhan. Setiap orang yang ada di persekutuan harus menerima Alkitab sebagai firman Tuhan yang tertulis dengan kebenaran mutlak dan tidak terbantahkan.
3. Ada penyembahan kepada Tuhan. Tujuan dari persekutuan selain berkumpul adalah menyembah Tuhan (doa dan pujian).
4. Ada budaya kristiani yang ditampakkan. Kasih, kesehatian, kerinduan akan kebenaran dan kerbagian akan nampak nyata dalam persekutuan yang sehat.

Bagian-bagian penting ini akan membawa kita kepada konsep oikumenitas di dalam persekutuan orang percaya.

Makna Oikumenitas

Oikumene berasal dari bahasa Yunani yang terbentuk dari dua kata yaitu Oikos dan Mene. Oikos berarti rumah yang dikonotasikan sebagai dunia secara universal sedangkan Mene berarti tinggal. Jadi secara Leksikal Oikumene berarti : dunia yang ditinggal (inhabitted earth). Dalam konteks gereja, kata ini merujuk kepada Universalitas gereja, seperti yang dikatakan oleh Kristus, “dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitu Aku ada ditengah-tengah mereka (Mat 18:20)”. Dengan pemahaman bahwa anggota persekutuan adalah juga anggota gereja, maka konsep oikumene juga berlaku dalam persekutuan, yaitu mencerminkan kesatuan gereja di seluruh dunia.

Prinsip Oikumenitas

Perkembangan sejarah gereja di dunia ternyata tidak menunjukkan keesaan tubuh Kristus yang diharapkan. Saat ini mungkin tersebar ratusan, bahkan mungkin ribuan denominasi gereja di seluruh dunia, hampir setiap saat kita bisa mendengar pecahnya gereja menjadi beberapa bagian. Belum lagi munculnya bidat-bidat dan sekte-sekte yang semakin merongrong keberadaan gereja sendiri. Sudah saatnya para jemaat melihat konsep oikumenitas ini dengan menyeluruh dan menerapkannya. Bagaimana prinsip-prinsip oikumenitas yang sehat ? beberapa prinsip dasar akan dijabarkan di sini.
1. Back to the Bible. Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam memeriksa kebenaran. Pengalaman rohani pribadi, tradisi gereja, bahkan pernyataan tokoh sekalipun selama tidak sesuai dengan pernyataan Alkitab tetap dianggap tidak benar. Alkitab harus ditafsirkan dengan benar, obyektif dan bertanggung jawab (II Pet 1:20-21).
2. Yang mutlak jangan dijadikan tidak mutlak, yang tidak mutlak, jangan dimutlakkan. Jika yang mutlak dijadikan tidak mutlak, maka yang bukan saudara kita jadikan saudara. Sebaliknya, jika yang tidak mutlak dimutlakkan, maka sadara akan kita jadikan musuh (Pdt. Dr. Stephen Tong)
3. Bukan pemaksaan pendapat, karena belum tentu pendapat kita benar dan juga, bukan menerima semua pendapat, karena belum tentu semua pengajaran benar. Setiap pendapat yang ada di diskusikan dengan rendah hati dan dalam terang firman Tuhan. Bila dan diskusi belum ditemukan titik temu sebaiknya di buat kesepakatan bersama yang kompromistik dan sementara untuk ketertiban dan kasih serta tidak menjadi batu sandungan bagi orang yang dilayani.
4. In Essential Unity, In Unessential Charity, In Everything Liberty. Dalam hal ini perlu untuk diketahui apa yang mendasar dan apa yang tidak mendasar berdasarkan kepada Firman Tuhan.

Membangun Pola Hidup Beroikumenitas

Kehidupan beroikumene telah menjadi wacana bagi gereja-gereja yang ada di dunia, sehingga muncul organisasi baik yang bersifat internasional (UEM, DGD) maupun yang bersifat nasional (PGI). Mereka berusaha untuk membangun keesaan gereja, tanpa harus mengabaikan kebenaran Firman Tuhan, seperti yang dikatakan John RW Stott : “ ... keesaan gereja yang memancar keluar adalah sesuatu yang harus kita wujudkan, namun kita tidak boleh memberikan kesaksian yang mulia itu dengan mengorbankan ajaran kristiani yang sejati, sebab ada juga gereja-gereja yang sesat ...” (khotbah di bukit).
Di dalam persekutuan pun kita bisa membangun oikumenitas, tanpa harus melihat perbedaan yang ada. Beberapa hal yang bisa diterapkan di dalam persekutuan berkenaan dengan usaha untuk membangun oikumenitas adalah :
1. Pujian dan lagu yang dinaikkan.
2. Liturgi persekutuan
3. Pemilihan pembicara
4. Pemahaman Alkitab
Selama ada saling penghargaan dan kasih yang tulus keesaan gereja Tuhan akan tetap terpelihara. (SkD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!