MENJADI PRIBADI YANG BERKUALITAS

Pengantar

Berdiskusi tentang topik “Bagaimana Menjadi Pribadi yang berkualitas” mungkin terasa cukup berat bagi kita, apalagi bagi kita yang masih berada pada usia belia. Apabila anda ditanya bagaimana pola hidup anda selama ini ? apa kira-kira yang akan menjadi jawaban anda ? bingung...!?!?!?. berarti anda tidak sendiri. Sebagai seorang mahasiswa kita sudah sama-sama tahu dan sudah tidak menjadi sebuah rahasia lagi kalau kita cenderung untuk memilih hidup santai, daripada hidup spanteng dengan memikirkan segala sesuatu yang berkenaan dengan masa depan kita secara serius dan fokus. Hal itu tidaklah sepenuhnya salah, selama kita masih tetap berjalan dalam jalur yang benar. Tapi masihkah kita berada dalam jalur yang benar ???.
Berbicara tentang kualitas, sadar atau tidak kita mengakui kalau hal itu telah menjadi sebuah kebutuhan dasar yang dicari oleh semua orang, bahkan kita belajar di bangku kuliah juga dalam rangka memperoleh kualitas itu (atau tidak...???). Pada masa sekarang ini, sangatlah sulit bagi kita untuk menemukan sosok pribadi yang berkualitas. Mungkin seandainya kita bisa menghitung, jumlah orang-orang ini tidak lebih dari jari pada sebelah tangan saja. Tetapi tahukan Kita bahwa menjadi pribadi yang berkualitas adalah panggilan orang percaya....?. pertanyaannya sekarang adalah : apakah anda orang percaya ???, kalau jawaban anda adalah ya, maka anda juga menerima panggilan ini.
Sebelum kita melangkah masuk lebih dalam membahas panggilan ini, kita akan bersama-sama melihat bagaimana pandangan orang-orang terhadap sesosok pribadi. Untuk mempermudah pemahaman kita, mari kita bersama menyimak ilustrasi berikut ini : Pendeta Simon adalah seorang Gembala Sidang yang lama tinggal di Seattle, Amerika dalam rangka menyelesaikan studinya di tingkat Doktor. Pada suatu hari is berencana untuk kembali ke Indonesia karena ia perlu untuk bertemu dengan seseorang. Kemudian ia mempersiapkan segala sesuatunya dan bersiap untuk pergi ke Indonesia. Ketika hendak berangkat ke bandara, ia memilih untuk mengenakan pakaian santai, karena ia tidak mau terlihat terlalu formal dalam perjalanannya. Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya ia tiba di bandara Jakarta. Seperti biasa sebagai seorang penumpang pesawat terbang dia harus melewati pemeriksaan visa di departemen Imigrasi. Di sana dia menemukan bahwa proses pemeriksaan visa sangatlah merepotkan dan memakan banyak waktu, bahkan dia tertahan selama beberapa jam di sana.
Setelah menyelesaikan kunjungannya di Indonesia dan dia harus segera kembali ke Amerika untuk melanjutkan studinya, kali ini pendeta Simon berangkat dengan mengenakan pakaian kependetaannya. Dan tahukah Anda apa yang terjadi ??? departemen Emigrasi mengizinkan dia untuk melewati jalur pemeriksaan dengan cepat dan mudah. Luar biasa dan tak dapat dipercaya....!!!
Apa yang membuat departmen Emigrasi di bandara mengizinkan Pendeta Simon melewati pemeriksaan Visa dengan mudah dan cepat ?, ya, kita menemukan jawaban bahwa hal itu dikarenakan pakaian yang dikenakan oleh Pendeta Simon. Lucu bukan ? menyadari bahwa banyak orang cenderung untuk menilai dan menghakimi orang lain berdasarkan kepada apa yang mereka lihat dari penampilan seseorang. Kualitas seseorang sama sekali tidak dipengaruhi oleh penampilan lahiriah, tetapi sebaliknya, penampilan luar sudah seharusnya merupakan pancaran dari kualitas hidup yang dimiliki seseorang. Mari saya mengajak anda sekali lagi untuk merenung dan menjawab pertanyaan berikut ini : bagaimana selama ini kita melihat orang lain di sekitar kita, apakah kita juga menilai kualitas mereka dari penampilan lahiriah saja...??? dan bagaimana dengan kita sendiri...apakah kita juga telah menjadi bagian dari komunitas orang-orang yang berkualitas...???

“Apa yang dimaksud dengan kualitas ?”

Sebelum kita berbicara tentang “Kualitas” mari bersama kita melihat definisi dari kata ini. Berdasarkan dari the Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English yang disusun oleh AS Hornby, Kualitas didefinisikan sebagai : (1) goodness or worth (2) something that is special in, or that distinguishes, a person or thing (3) (archaic) high social position.
Dari definisi di atas, kita bisa msnyimpulkan bahwa kualitas mengacu kepada sesuatu atau seseorang yang memiliki nilai positif dan khusus, yang biasanya ditampilkan dalam bentuk integrasi dari kredibiltas seseorang atau sesuatu tersebut. Nah, dari kesimpulan ini kita akan bergerak kepada pemahaman yang lebih dalam tentang pengertian kualitas. Tapi sebelum kita mendiskusikan hal tersebut lebih dalam, mari bersama kita mengecek keberadaan dari tiap unsur pembentuk kesimpulan tersebut. Dari kesimpulan di atas kita melihat bahwa ada lima unsur yang dapat ditemukan, yaitu : bernilai positif dan khusus; dimiliki oleh; Sesuatu atau Seseorang; penampilan; dan integrasi dari kedibilitas.
Bernilai Positif dan Khusus mengacu kepada kemampuan/ nilai yang berharga yang hanya dapat ditemukan di dalam sesuatu atau seseorang tersebut, dan biasanya mereka akan diterima dan dihargai oleh orang lain oleh karena kemampuan tersebut. Dimiliki oleh menjelaskan bahwa nilai yang ada tersebut berada pada sesuatu atau seseorang secara khusus/ tertentu dan bersifat berkembang secara permanen. Sesuatu atau Seseorang merujuk kepada obyek atau subyek yang memiliki nilai tersebut. Penampilan adalah ekspresi dari nilai-nilai yang ada yang muncul ke permukaan dalam bentuk penampilan dan atau perilaku seseorang. Integrasi dari Kredibilitas adalah bentuk dari ekspresi. Kredibilitas menunjukkan kemampuan, watak, pengetahuan, dan segala sesuatu yang bernilai plus dari seseorang atau sesuatu. Sementara itu, integrasi menggambarkan penggabungan dari semua kemampuan, watak, pengetahuan, dan segala sesuatu yang bernilai plus dari seseorang atau sesuatu.
Sebagai orang percaya – seperti yang telah saya katakan sebelumnya- dipanggil untuk menjadi pribadi yang berkualitas. Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah : kualitas yang seperti apakah yang harus dimiliki oleh orang percaya ? Kita semua mengetahui bahwa setiap manusia yang hidup tidak pernah bisa lepas dari yang namanya relasi, dan kita tahu bahwa relasi yang ada terbagi menjadi dua bagian yang besar yaitu : relasi internal dan relasi eksternal. Relasi internal adalah relasi yang yang terjadi antara seseorang dengan dirinya sendiri, sedangkan relasi eksternal adalah relasi yang terjadi antara seseorang dengan pribadi diluar dirinya sendiri. Sebagai orang percaya, kita memandang ada dua jenis relasi eksternal, yaitu : relasi vertikal dan relasi horizontal. Relasi vertikal adalah relasi yang terbangun antara Allah dan Manusia, sedangkan relasi horizontal adalah relasi yang terjadi antara manusia dengan sesamanya. Lalu kemana hal-hal tersebut mengacu bila kita berbicara mengenai kriteria dari pribadi yang berkualitas ? Saya seringkali menganggap bahwa relasi vertikal adalah relasi yang didasarkan kepada iman, sedangkan relasi horizontal adalah relasi yang terbangun karena adanya pengetahuan dan perilaku. Seorang pribadi yang memiliki relasi vertikal yang kuat akan memiliki sisi spiritual yang matang, sehingga mereka mampu berdiri dengan prinsip-prinsip yang benar berdasarkan Alkitab, dan seorang pribadi yang berpengetahuan dan berperilaku baik akan mampu membangun sesuatu yang bernilai tinggi. Tapi gabungan dari kedua hal itu akan menghasilkan manusia yang berprinsip benar dan mampu mengubah dunia dengan pengetahuannya. Sebagai kesimpulan saya menekankan bahwa kualitas seorang kristen harus diukur dari integrasi dari kredibilitas iman dan ilmunya. Keseimbangan antara sisi fisik, sisi psikis, dan sisi spiritual dari orang percaya adalah bukti dari keberadaan kualitas dalam diri pribadi tersebut.


Siapakah contoh dari pribadi yang memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan ?

Sesuatu yang terlihat konyol kalau kita berbicara tentang kualitas manusia tapi kita tidak menemukan pribadi yang sanggup memenuhi kriteria di atas. Tapi, benarkah kita tidak bisa menemukan sosok yang sanggup memenuhi kriteria tersebut ? Yesus, tentu saja Dia bisa karena memang hanya Dia sosok yang sempurna dalam hal kredibilitas dan integritas yang pernah ada di dunia. Tapi kita bisa menemukan sosok lain yang sanggup memenuhi kriteria yang telah disebutkan diatas, meskipun tidak sesempurna Kristus. Siapa dia ? mari kita bersama membuka kitab Daniel dan menganalisa dia sebagai figur dari topik ini. Daniel sebagai seorang muda yang berasal dari bangsa Israel adalah salah satu dari umat Allah yang ikut dibuang ke Bangsa Babilonia. Dia adalah salah satu dari pemuda yang dapat dianggap sebagai pribadi yang memiliki kualitas. Alkitab menyaksikan banyak contoh kepada kita tentang pemuda yang memiliki kualitas, tapi sangat sedikit dari mereka yang menyerupai keberadaan Daniel. Daniel adalah perwakilan dari keberadaan kita sebagai orang muda pada masa itu, dia adalah seorang muda, seorang pelajar dan seorang yang takut akan Allah. Dari pasal pertama sampai dengan pasal keenam kita dapat melihat kualitas dari Daniel sebagai sosok yang akan kita teladani.
1. Berpengetahuan. Alkitab menyaksikan bahwa Daniel memiliki kualitas berpengetahuan (Ch1.v4), bahkan dalam ayat 17 dan 20 Alkitab berkata bahwa dia dan teman-temannya diberkati Allah dengan berbagai kemampuan : sepuluh kali lebih bijak dan cerdas daripada semua orang yang berpengetahuan dan semua ahli jampi di Babilonia. Pengetahuannya telah terbukti banyak kali (Ch1.v19-20; Ch2; Ch 5).
2. Beriman. Kualitas ini juga menjadi bagian dari diri Daniel. Imannya kepada Allah Israel membuatnya mengerjakan banyak hal yang sebagai manusia kita anggap sebagai sesuatu yang bodoh. Tapi kita tahu bahwa dia melakukan itu karena di sangat mengasihi dan takut akan Tuhannya, sehingga ia memilih untuk mati daripada mengabaikan dan meninggalkan Tuhannya. (Ch1.v12; Ch2:18; Ch6.v22-23).
Kedua hal tersebut bergabung di dalam sosok dari Daniel yang memiliki kualitas hidup yang dapat dipertanggung jawabkan. Kita melihat bahwa kedua kualitas tersebut saling mengisi dan mendukung satu dengan yang lainnya. Daniel bisa menggunakan kemampuannya pada saat yang tepat, dia tahu kapan saat yang tepat menegakkan imannya dan saat yang tepat untuk menggunakan pengetahuannya, tapi keduanya itu berjalan didalam kebergantuang kepada Allah. Penggabungan dari kedua kualitas ini juga membuat Daniel menjadi pribadi yang selalu diperhitungkan dan dipertimbangkan keberadaannya dalam tiga pemerintahan yang secara runtut bergantian, yaitu kerajaan Babilonia, kerajaan Media dan Kerajaan Persia – (Ch6.v29).

Mengapa orang percaya harus menjadi pribadi yang berkualitas ?

Pertanyaan ini sepertinya selalu muncul ke permukaan setiap kali seseorang menekankan pernyataan bahwa semua orang Kristen harus menjadi sosok yang berkualitas. Bermula dari pertanyaan ini, kita akan mendiskusikannya secara lebih dalam. Sebagai orang percaya kita memiliki beberapa alasan yang membuat kita perlu menjadi sosok yang berkualitas, yaitu :
1. Orang percaya dipanggil untuk memancarkan citra dari Kristus. Kristus adalah satu-satunya sosok yang sempurna, tidak ada seorang yang menyerupai dia. Meskipun demikian kita sebagai orang percaya tetap dipanggil untuk menjadi serupa dengan Dia (I John 2 v6). Galatians 2:20 menekankan bahwa kita tidak lagi menjadi milik diri kita sendiri, tapi milik dari Dia yang telah menebus kita dengan darahNya. Dalam rangka memancarkan citra dari Kristus, kita sebagai orang percaya juga harus memiliki kualitas dari Kristus, meskipun kita tidak akan sempurna seperti Dia, tapi kita tahu bahwa kita sedang menuju kepada keserupaan yang sama denganNya. Iman dan Ilmu adalah bagian dari diri Kristus.
2. Orang percaya dipanggil untuk bersaksi kepada dunia. Sebagai garam dan terang dunia (Matthew 5 v13-16), orang kristen harus mampu mempengaruhi dunia, dan bukan justru menjadi bagian dari dunia itu sendiri. Bagaimana kita bisa mempengaruhi dunia jika kita memiliki kualitas yang sama dengan dunia. Kita tidak akan mampu menggarami dunia jika kita menjadi hambar, atau menerangi dunia jika kita dalam keadaan gelap. Itulah sebabnya mengapa orang percaya perlu untuk menjadi pribadi yang berkualitas, pribadi berkualitas yang sanggup membuat kita berbeda dari dunia dan kualitas yang sanggup menyaksikan bahwa Kristus yang ada dalam kita adalah Tuhan dan Juru Selamat.
3. Orang percaya dipanggil untuk menyatakan keberadaan Kerajaan Allah di atas dunia. Hal ini berarti orang kristen harus mampu merubah pola hidup yang ditawarkan oleh dunia. Dunia sering menawarkan pola hidup yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, dan ini membuat Kerajaan Allah tertahan untuk bisa dinyatakan di atas dunia. Kerajaan Allah hanya akan dapat menjadi kenyataan apabila orang percaya dapat membuat sebuah budaya tandingan/ pola hidup yang mempermuliakan Tuhan. Dalam rangka mewujudkan hal itu, setiap orang percaya dituntut untuk menjadi pribadi yang berkualitas.
4. Orang percaya menghadapi tantangan dari dunia, yang menghalangi berkembangnya kualitas. Kita tahu bahwa di atas dunia ini berlaku hukum “ siapa yang kuat dialah yang bertahan”, hal ini berarti bahwa setiap orang yang tidak bisa berdiri tegak dalam kompetisi akan tersingkirkan. Kualitas membuat kita sanggup untuk menghadapi semua jenis tantangan ini. Dengan kata lain, mereka yang memiliki kualitas kan bertahan sedangkan mereka yang tidak memilikinya akan dikalahkan.

Bagaimana saya bisa menjadi pribadi yang berkualitas ?

Menjadi Pribadi yang berkualitas tidaklah semudah yang kita pikirkan, untuk memperolehnya kita membutuhkan sebuah perjuangan yang berat. Dalam makalah ini saya mengutip beberapa ide yang menolong kita untuk menjadi pribadi yang berkualitas. Pdt. Dr. Stephen Tong dalam bukunya yang ditulis bersama Dr. Mary Setiawani menjelaskan bahwa untuk menggali potensi seseorang membutuhkan beberapa tahapan, yaitu : self-discovery; self-respect; self-understanding; self-confidence; self-responsibility; self-development; dan self-fulfilment.
Dalam rangka memperoleh potensi yang terbaik, Pdt. Dr. Stephen Tong menyarankan tahapan-tahapan yang didasarkan kepada pengenalan diri. Self-discovery adalah tahap dimana seseorang berusaha untuk menemukan keberadaan diri mereka yang sebenarnya, bagaimana karakter mereka dan hal-hal apa saja yang ditaruh Allah dalam hidup mereka. Pada tahapan ini seseorang cenderung untuk menyadari bahwa mereka adalah sosok yang unik dihadapan Allah. Self-respect adalah tahap dimana seseorang memiliki kemampuan untuk menghargai diri mereka sendiri, tanpa peduli dengan apapun yang dikatakan orang tentang mereka. Seseorang tidak akan bisa menghargai diri mereka sendiri apabila mereka tidak bisa melihat potensi besar apakah yang Allah telah taruh dalam diri mereka. Langkah selanjutnya dalam menggali potensi diri adalah self-understanding, ini adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan sekaligus kelemahan mereka. Self-understanding menolong seseorang untuk membangun kebijaksanaan diri, karena setelah mereka mengetahui apa yang menjadi kelemahan dan kekuatan diri mereka, mereka akan sanggup untuk membangun diri sendiri. Self-confidence adalah kekuatan untuk melakukan sesuatu, tanpanya semua kebijaksanaan akan tidak berguna. Kebijaksanaan harus di terapkan, dan kita tahu untuk menerapkan kebijaksanaan orang membutuhkan kepercayaan diri. Self-responsibility adalah tahapan dimana seseorang bersedia untuk melihat apa yang telah mereka lakukan dan belajar bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan harus dipertanggungjawabkan. Kejujuran adalah kunci dari keberhasilan tahapan ini. Self-development adalah tahap untuk mengembangkan kemampuan diri. Seseorang hanya menggunakan 60% dari potensinya dan 10% dari kemampuan otaknya, apabila kita mampu mengembangkan sisa dari kemampuan potensi dan otak kita, akan menjadi manusia seperti apakah kita nantinya. Self-fulfilment adalah tahapan dari pengfokusan semua tahapan yang telah dikerjakan kepada masa depan. Tahapan ini menolong seseorang untuk merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu dari kehidupan mereka di masa datang. Apa yang mereka inginkan bergantung kepada apa yang telah mereka rencanakan pada tahapan ini.
Senada dengan apa yang telah diungkapkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, Dr. Mary Setiawani juga menambahkan beberapa konsep tentang masalah ini. Dia menyebutnya sebagai “ Tiga pasang kata berkebalikan yang saling mendukung”. Dalam rangka memperoleh hasil terbaik, dia memberikan tiga pasang kata ini, yaitu : penerimaan dan pengembangan; kasih dan disiplin; proses belajar dan hasil belajar. Dia menjelaskan bahwa kata-kat tersebut tidak seharusnya dipisahkan, apabila kita berharap untuk menjadi sosok yang berkualitas. meskipun terlihat berkebalikan tetapi sebenarnya mereka saling mendukung satu dengan yang lainnya. Tidaklah salah apabila kita menerima keberadaan diri kita apa adanya, tetapi hal tersebut menjadi salah apabila kita hanya menerima diri kita tanpa ada keinginan untuk mengembangkannya. Tidaklah salah apabila kita mengasihi keberadaan diri kita, tetapi kita tidak akan pernah bisa dewasa apabila kita mengasihi diri kita secara berlebihan tanpa mau mendisiplin diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu. Tidaklah salah apabila kita berharap hasil dari belajar kita, tetapi tanpa proses belajar yang baik, kita akan kehilangan makna yang sebenarnya dari sebuah usaha.
Apa yang telah dijelaskan diatas adalah konsep dari pembangunan diri dari seseorang, tetapi sebagai orang kristen kita membutuhkan lebih daripada itu. Hal ini karena kualitas kristiani dinilai berdasarkan kepada iman dan ilmu. Bertram Lim dalam bukunya menjelaskan beberapa langkah untuk menjadi seorang kristen yang beriman. Kelima tahapan tersebut dibagi berdasarkan kepada proses pertumbuhan iman orang kristen. Kelima langkah tersebut adalah : meletakkan dasar yang teguh (hal ini termasuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Pribadi dan menyadari kebutuhan akan pertumbuhan iman); mengenal Allah (ini termasuk bagaimana membangun ibadah pribadi); kemenangan berjalan bersama Allah (ini termasuk proses dan cara untuk mengalahkan dan menang dari ikatan dosa);mengasihi Allah (ini termasuk proses dari pembangunan karakter dan menjadi mitra Allah); mengasihi Allah dan manusia (ini termasuk kesempatan untuk mengekspresikan iman Kristiani ditengah masyarakat). Semua langkah yang telah dijelaskan oleh Bertram Lim sangatlah penting bagi kita, khususnya dalam proses pembangunan iman kepada Allah.
Hal terakhir yang saya anggap sebagai bagian penting dalam pembangunan kualitas adalah kebiasaan untuk belajar mandiri. Ketika kita berbicara tentang belajar mandiri, itu selalu menjadi hal yang menakutkan dan berat untuk dilakukan oleh semua orang. Tapi tahukah Anda bahwa belajar mandiri adalah bagian dari kehidupan kita sejak kita dilahirkan di dunia ini ? bila kita menyadari hal ini, tidaklah menjadi hal yang berat bagi kita. Belajar mandiri adalah pembelajaran pribadi yang dilakukan secara berkelanjutan dengan diterangi oleh Firman Allah. Belajar mandiri ini memiliki dua tujuan, yaitu : mengembangkan kemampuan diri dan untuk memberi keuntungan kepada pembelajar dan kepada orang-orang disekitar pembelajar. Kita memiliki banyak cara untuk menerapkan proses belajar, beberapa cara disebutkan dibawah ini :
o learning by listening. Adalah proses pemebelajaran dengan menggunakan telingansebagai media. Sebagai contoh : mendengarkan radio, kuliah, pelajaran, dll.
o learning by seeing. Adalah proses pembelajaran dengan menggunakan mata sebagai media. Contohnya :membaca buku; melihat televisi; dll.
o learning by discussing. Adalah proses belajar yang dilakukan didalam sebuah kelompok yang berisi lebih dari dua orang. Sebagai conoth : diskusi panel, sharing.
o learning by experiencing/doing. Adalah proses dari pembelajaran yang hanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebut bersedia untuk masuk kedalamm kondisi-kondisi tertentu. Sebagai contoh : berlatih komputer; menggambar, dll.

Jadi apa kesimpulan dari masalah ini ?

Dari penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa kualitas adalah sebuah keharusan bagi orang percaya. Karena kita tahu bahwa Allah menghendaki anak-anakNya memberikan pengaruh yang besar bagi dunia. Menjadi orang kristen berarti menjadi orang berkualitas. bagaimana dengan Anda ...??? sudahkah anda menjadi pribadi yang berkualitas....??? (SkD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!