MEMPERSIAPKAN DIRI DALAM BERPUASA

A. Apa itu Puasa ?
Puasa (Yun. Nesteia) berasal dari gabungan dua kata ne yang berarti tidak, dan esthio yang berarti makan. Gabungan dari dua kata ini biasanya sering diartikan sebagai tindakan berpantang makan secara sukarela.
Selain itu ada dua kata Ibrani yang sering dihubungkan dengan puasa, dua kata tersebut mengacu kepada “berpantang semua makanan jasmani untuk tubuh” dan “Penderitaan jiwa”. Dua kata inilah yang kemudian membentuk definisi yang lebih luas dari kata puasa itu sendiri yaitu : menghilangkan kesenangan tubuh secara sukarela dan merendahkan jiwa untuk maksud yang rohani.
Dalam bahasa inggris kata sarapan (breakfast) memiliki hubungan yang dekat dengan kata Puasa, kata breakfast sebenarnya menunjukkan bahwa pribadi yang melakukan tindakan sarapan sebenarnya telah membatalkan puasanya (break our fast) setelah semalaman perutnya tidak terisi makanan.

B. Hal dasar apa yang harus dipahami berkenaan dengan Puasa ?
Puasa adalah salah satu disiplin rohani yang perlu untuk dilakukan oleh setiap orang percaya, karena itu dapat dikatakan bahwa puasa bukanlah suatu kewajiban bagi orang kristen tapi sebuah karunia yang Allah berikan kepada setiap orang yang rindu untuk hidup semakin dekat denganNya. Puasa dilakukan bukan untuk memaksa Allah supaya mendengar doa kita tetapi sebagai bentuk penghormatan kepadaNya.

C. Apakah Puasa hanya berbicara soal tidak makan dan minum ?
Tidak, puasa tidak hanya terbatas soal makanan dan minuman tapi juga termasuk melakukan tindakan penghindaran terhadap hal-hal yang dilakukan setiap hari demi tujuan yang bersifat rohani. Dengan kata lain berpuasa berarti meninggalkan aktifitas rutin dan menahan dorongan diri demi untuk melakukan hal-hal yang rohani.

D. Mengapa Puasa yang benar tidak hanya dibatasi pada soal makan dan minum semata ?
Yesus berkata dalam Matius 4:4 bahwa manusia tidak hanya hidup dari roti saja tetapi juga dari firman yang keluar dari mulut Allah. Hal inilah yang menekankan kepada pribadi yang berpuasa untuk tidak hanya berkutat dalam hal jasmani semata tapi juga memperhatikan akan kehidupan rohaninya.

E. Untuk tujuan apa seseorang melakukan Puasa ?
Seseorang berpuasa haruslah memiliki tujuan yang jelas, dia tidak bisa asal berpuasa, puasa yang dilakukan dengan main-main tanpa tujuan yang jelas hanya akan membuang waktu tanpa memperoleh hasil apapun. Beberapa tujuan dari berpuasa yang bisa jadi bahan pertimbangan sebelum berpuasa adalah :
— Menguatkan doa yang dinaikkan (Ez 8:23 ; Neh 1:4 ; Yoel 2:12 ; Kis 13:3).
— Mencari petunjuk dari Tuhan (Hak 20:26-28 ; Kis 14: 23).
— Mengungkapkan kesedihan (I Sam 31:13 ; II Sam 1:11-12 ; I Sam 20:34).
— Memohon kelepasan atau perlindungan (II Taw 20:3-4 ; Ez 8:21-23 ; Est 4:15-16 ; Mzm 109:24).
— Mengekspresikan pertobatan dan berbalik kepada Tuhan (I Sam 7:6 ; Yoel 2:12 ; Yun 3:5-8).
— Merendahkan diri dihadapan Tuhan (I Raj 21:27-29 ; Mzm 35:13).
— Mengungkapkan kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan (Neh 1:3-4 ; Dan 9:3)
— Untuk melayani kebutuhan orang lain (Yes 58:3-7)
— Mengatasi godaan dan mengabdikan diri kepada Tuhan (Mat 4:1-11)
— Mengungkapkan kasih dan ibadah kepada Tuhan dengan bentuk penyembahan dan penghormatan terhadap keberadaan Tuhan.

F. Metode Puasa yang bagaimanakah yang benar menurut Alkitab ?
Alkitab memaparkan berbagai metode dalam berpuasa, dan jenis-jenis yang dipaparkan oleh Alkitab dapat dipilih dan dilakukan. Metode-metode tersebut adalah :
— Puasa biasa/ normal : yaitu metode puasa tidak makan tapi tetap minum. Metode ini dilakukan oleh Yesus saat Ia berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam di padang (Mat 4:2).
— Puasa total : yaitu metode puasa tidak makan dan tidak minum. Beberapa tokoh Alkitab yang dicatat melakukan jenis puasa ini adalah : Ezra (Ez 10:6) Ester (Est 4:16 dan Paulus (Kis 9:9).
— Puasa sebagian : yaitu metode puasa pantangan/ tidak makan-makanan tertentu. Tokoh Alkitab yang melakukan puasa model ini adalah Daniel (Dan 1:12) dan Yohanes Pembaptis (Mat 3:4).
— Puasa luar biasa : yaitu puasa yang hanya bisa terjadi karena anugerah dari Tuhan atau dengan kata lain merupakan inisiatif dari Allah sendiri, tidak ada seorangpun yang bisa melakukannya dengan kekuatannya sendiri. Dua tokoh Alkitab yang mengalami jenis puasa ini adalah : Musa (Ul 9:9) dan Elia (I Raj 19:8).
— Puasa pribadi : yaitu puasa perorangan yang dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Yesus mengajarkan jenis puasa ini kepada para muridNya (Mat 6:16-18).
— Puasa bersama : yaitu puasa yang dilakukan secara bersama-sama baik dalam kelompok yang besar maupun kelompok yang kecil dengan memiliki tujuan yang sama. Catatan Alkitab yang menunjukkan terjadinya puasa jenis ini ditemukan di Yoel 2: 15-16 ; II Tawarikh 20:3 ; Nehemia 9:1 ; Ester 4:16 dan Yunus 3:5-8.
— Puasa berkala : yaitu puasa yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, bisa komitmen pribadi bisa juga karena perintah Tuhan. (Im 16:29-31 ; Za 8:19 ; Luk 18:12).
— Puasa khusus : yaitu puasa yang dilakukan karena adanya kebutuhan khusus.

G. Berapa lama Puasa itu harus dilakukan ?
Allah tidak pernah memberikan peraturan tentang berapa lama seseorang harus berpuasa, karena puasa bukan suatu hukum yang harus diataati tapi sebuah hak istimewa dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk bertemu dan memohon rahmat dari Allah sesering yang kita kehendaki. Berapa lama kita berpuasa terserah kepada kita dan kepada pimpinan Roh Kudus.
Alkitab mencatat beberapa data tentang berapa lama waktu yang dilalui seseorang dalam berpuasa, yaitu :
— Sehari atau kurang dari sehari (Hak 20:26 ; I Sam 7:6 ; II San 1:12 ; 3:35 ; Neh 9:1).
— Semalam (Dan 6:18-24).
— Tiga hari (Est 4:16 ; Kis 9:9).
— Tujuh hari (I Sam 31:13 ; II Sam 1:16-23).
— Empat belas hari (Kis 27:33-34).
— Dua puluh satu hari (dan 10: 3-13).
— Empat puluh hari (Ul 9:9 ; I Raj 19:8 ; Mat 4:2).
— Tidak ditentukan (Mat 9:14 ; Luk 23:37 ; Kis 13:2 ; 14:2-3).

H. Apa saja yang harus dipersiapkan untuk mulai melakukan Puasa ?
— Kondisi fisik : seseorang yang fisiknya tidak mendukung untuk berpuasa memang disarankan untuk tidak berpuasa, karena itu, periksa terlebih dahulu kondisi fisik sebelum memutuskan untuk melakukan puasa.
— Kesiapan rohani : suasana rohani seseorang mempengaruhi bagaimana orang tersebut berpuasa. Tanpa sikap merendahkan diri kepada Tuhan, tindakan berpuasa menjadi sesuatu yang sia-sia.
— Tujuan dan beban yang jelas : puasa muncul sebagai sebuah reaksi yang jujur tentang suatu kondisi yang timbul dari kehidupan yang sebenarnya, sehingga beban yang muncul bukanlah beban yang dibuat-buat. Tujuan berpuasa juga harus jelas sehingga dalam berpuasa, nantinya seseorang akan tahu apa yang harus dilakukan.
— Motif yang benar : suasana hati yang buruk akan mempengaruhi motivasi seseorang dalam berpuasa. Motif yang benar dalam berpuasa adalah penghormatan kepada Allah, bukan kepentingan diri.
— Sediakan waktu : dari kesemuanya itu, penyediaan waktu untuk melakukan puasa adalah langkah praktis yang harus dilakukan.

I. Bagaimana cara berpuasa yang benar ?
Kita akan melihat bagaimana Yesus mengajarkan murid-muridNya berpuasa berdasarkan Matius 6:16-18.
Ayat 16 :
Bersikap sebagaimana adanya sebagai seorang anak Allah (tidak dibuat-buat untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sedang berpuasa) bukan bersikap sebagaimana biasanya dalam kehidupan kita sehari-hari. Bersikap sebagaimana adanya harus dibedakan dengan bersikap sebagaimana biasanya, karena dalam berpuasa kita harus mengalami perubahan tindakan, yaitu semakin dekat dengan Tuhan.
Ayat 17 :
Melihat diri sendiri dengan jujur. Ketika Yesus berkata “ ... Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu...” Dia tidak bermaksud supaya kita berpindah dari satu kemunafikan kepada kemunafikan yang lain (Kesedihan yang dibuat-buat menjadi sukacita yang dibuat-buat), tetapi Ia menghendaki supaya kita melakukan tindakan pemeriksaan diri, apakah kita sudah melakukan kebiasaan membersihkan diri kita secara rohani.
Ayat 18 :
Pusat perhatian yang terfokus kepada Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan selama berpuasa haruslah terfokus kepada kemuliaan Tuhan. Secara praktis hal ini dapat diterapkan dengan cara :
1. Menyediakan waktu untuk bersama dengan Tuhan : berdoa, belajar firman, berdiam diri mengetahui kehendak Tuhan, dll.
2. Mengerjakan pelayanan : melayani orang lain.
3. Mengendalikan diri dari semua keinginan diri sendiri : Allah adalah yang terutama, bukan diri kita. (SkD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!