MEMAHAMI PANGGILAN HIDUP ANDA

Pertanyaan berkenaan dengan panggilan hidup telah menjadi sebuah pertanyaan yang seolah terus di pertanyakan oleh setiap orang percaya. Pertanyaan : mengapa aku hidup ? dan apa yang menjadi tujuan hidupku ? terus dimunculkan dalam diri setiap orang. Banyak orang yang tidak dengan baik memahami panggilan hidupnya, menjadi tersesat dan terhilang di dalam rimba kehidupan. Mereka menjadi larut di dalam kegelapan dunia, tidak bisa lagi menegakkan keberbedaan mereka dari dunia.
Dalam sebuah kompetisi lari jarak panjang, terdapat empat orang pelari yang bersiap untuk mengikuti pertandingan di garis pembuka. Ketika letusan pistol terdengar keempat pelari ini segera berlari menuju ke arah garis akhir. Saat pertandingan berlangsung terlihat hal-hal yang menarik dari keempat pelari ini. Pelari pertama berlari dengan santai, sembari membalas salam yang diberikan oleh para penggemarnya, pelari kedua sengaja mengurangi kecepatan karena dia sudah menerima bayaran dari kompetitornya untuk mengalah, pelari ketiga berlari dengan cepat sembari melakukan kecurangan kepada pemain lainnya, selain membayar pelari lain untuk mengalah, dia juga menjegal pelari lain yang sedang berlari, sementara pelari keempat terus berlari dan mengabaikan semua hal yang ada di sekitarnya, dan hanya mengarahkan pandangan ke garis akhir. Dan hasilnya dapat ditebak, si pelari keempatlah yang menjadi juara dari pertandingan lari tersebut.
Itulah gambaran kehidupan, itulah yang dikejar manusia di dalam hidup. Ketiga pelari pertama menggambarkan manusia yang sibuk mencari hal-hal yang bersifat sementara : popularitas, cinta, kekayaan, dan kekuasaan. Mereka menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sedangkan pelari keempat adalah gambaran orang yang sedang berlari mengejar sesuatu yang bernilai kekal dalam hidup, dan dia mengabaikan semuanya demi tujuan kekal tersebut. Pada diri pelari yang manakah, Anda menemukan diri Anda ? Paulus berkata : “ ... aku bukanlah seorang petinju yang sembarangan memukul, dan bukan pelari yang berlari tanpa tujuan ... “
Setiap orang sebenarnya memiliki panggilan hidup mereka masing-masing. Tapi karena kebebalan hati manusia, seringkali banyak dari antara manusia yang tidak memahami apa yang menjadi panggilan hidup mereka. Ketidaktahuan mereka ini berakibat kepada ketidakbisaan mereka menikmati dan menjalani hidup yang sebenarnya. Karena ketidaktahuan panggilan hidup, mereka menjadi buta, karena kebutaan mereka tidak tahu kemana harus melangkah, karena ketidaktahuan kemana harus melangkah mereka menjadi tersesat, dan karena tersesat mereka kehilangan tujuan untuk hidup. Itulah sebabnya mengapa setiap orang perlu untuk menemukan dan menjalani panggilan dan jalan hidupnya.

Apa yang dimaksud dengan panggilan hidup ?
Panggilan berarti seruan yang membuat orang mengarahkan pandangan kepada si penyeru. Dengan demikian panggilan hidup adalah seruan yang membuat seseorang mengarahkan hidupnya kepada suatu titik. Bila dihubungkan dengan panggilan Tuhan, maka panggilan hidup itu sendiri berarti seruan Tuhan kepada setiap orang percaya supaya mengarahkan hidup mereka kepada apa yang menjadi kehendak Tuhan. Pernyataan Allah ini bisa bersifat umum bagi seluruh manusia, tapi juga bersifat khusus untuk setiap individu secara unik.
Sama seperti pernyataan Allah yang lain, panggilan hidup tidak bersifat mengikat. Manusia di beri kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, karena memang manusia memiliki kehendak bebas. Allah sama sekali tidak pernah memaksakan kehendakNya kepada manusia, meskipun Allah sanggup menggunakan segala macam cara untuk membuat manusia melihat kehendakNya dan menaatiNya.
Kisah-kisah yang dicatat dalam Alkitab mungkin akan menolong kita melihat bagaimana proses pemanggilan Allah dalam hidup para hambaNya. Allah memanggil Abraham untuk keluar dari tanah kelahirannya supaya menjadi bangsa yang besar, Allah memanggil Nehemia untuk mendirikan kembali bait Allah yang dihancurkan, Allah memanggil Yunus untuk memberitakan murka Allah atas Niniwe, Allah memanggil nabi-nabi dan hakim-hakim untuk memerintah Israel, dan lain lain.

Bagaimana panggilan hidup yang Allah kehendaki dari kita ?

Setiap manusia di ciptakan bukan karena suatu kebetulan, manusia diciptakan dengan tujuan dari Penciptanya. Pada dasarnya setiap manusia memiliki tugas panggilan yang jelas dari Allah semenjak masa penciptaan. Lihat pada lingkaran yang tergambar diatas. Pada lingkaran tersebut digambarkan adanya lingkaran besar yang semakin mengecil ke tengah, dimana lingkaran terluar adalah seluruh umat manusia sedangkan lingkaran ditengah adalah adalah seluruh orang percaya dan lingkaran terdalam adalah pribadi dari tiap orang percaya secara perorangan.
Seluruh manusia di dunia yang diciptakan oleh Allah memiliki panggilan yang sama di atas dunia. Semenjak manusia diciptakan, tugas mereka sudah ditetapkan : ... beranak cucu dan dan bertambah banyak : penuhilah bumi dan taklukkanlah itu ... Manusia diciptakan dengan mandat untuk beranak cucu dan menaklukan bumi. Kata menaklukkan bagi beberapa orang seringkali dipahami sebagai tindakan mengeksploitasi dengan semena-mena seluruh alam, padahal kata menaklukkan sebenarnya lebih merujuk kepada kata mengelola. Mengelola berarti mengusahakan dan melestarikan apa yang Allah telah ciptakan di atas dunia dengan bijak, tidak saja hanya untuk kepentingan manusia sendiri tapi untuk kebaikan seluruh ciptaan. Manusia di panggil untuk mengolah dan hidup dalam damai dengan ciptaan Allah yang lain.
Tidaklah salah seandainya saya berasumsi bahwa misi yang utama yang Allah berikan kepada tiap manusia hanyalah satu, yaitu : misi pendamaian. Misi pendamaian ini mencakup : pendamaian manusia dengan Allah (melalui Kristus), pendamaian manusia dengan dirinya sendiri (melalui pengenalan dan penerimaan diri), pendamaian manusia dengan manusia lain (melalui kehidupan yang rukun dan sejahtera), dan pendamaian manusia dengan ciptaan Allah yang lain (melalui pengelolaan alam).
Lebih sempit lagi panggilan hidup tersebut ditujukan kepada kumpulan orang-orang percaya. Kumpulan orang percaya ini seringkali disebut dengan nama gereja. Bagaimana panggilan gereja ? kita mengenal istilah : Koinonia (persekutuan), Marturia (pemberitaan firman), dan Diakonia (pelayanan kasih) di dalam gereja sebagai suatu tugas panggilan gereja. Setiap kelompok yang mengaku sebagai kumpulan orang percaya kepada Yesus Kristus haruslah menjalankan perannya dalam hal : bersekutu, memberitakan firman dan menyatakan kasih kepada sesama. Bersekutu berarti membangun hubungan antar anggota kelompok orang percaya, dimana di dalamnya terdapat unsur saling menguatkan dan menopang, sehingga terbangun kesatuan dan pertumbuhan iman. Pemberitaan firman berarti menyebarluaskan kebenaran firman kepada anggota kelompok maupun anggota di luar kelompok serta membangun kehidupan kristiani berdasarkan kepada firman yang telah dinyatakan Tuhan. Sedangkan pelayanan kasih adalah bentuk konkrit dari para pengikut Kristus yang mengungkapkan jatidiri mereka yang telah diperbaharui dalam kasih kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Lingkaran terdalam dari gambar di atas menyingkapkan panggilan Allah yang diberikan kepada masing-masing pribadi yang ada di dalam persekutuan orang percaya. Setiap orang percaya memiliki dua panggilan mendasar yang sama, yaitu : memuliakan Tuhan dengan seluruh bagian hidupnya dan menjadi serupa dengan Kristus dalam hidup. Memuliakan Tuhan dengan seluruh hidup kita dan menjadi serupa dengan Kristus, menurut saya, bukan sekedar tugas panggilan bagi setiap orang percaya. Lebih daripada itu, hal tersebut seharusnya adalah sifat alamiah yang kita miliki setelah kita menjadi milik Kristus. Setiap orang yang mengalami karya keselamatan di dalam Kristus, tidak mungkin tidak akan terdorong menjalani kehidupannya hanya untuk memuliakan Tuhan dan berjuang untuk menjadi gambaran yang menyerupai Juru Selamatnya.
Sedangkan secara lebih spesifik, setiap orang dengan pergumulan masing-masing yang berbeda juga mendapat panggilan yang bersifat pribadi, unik dan khusus. Hal-hal seperti : pasangan hidup, karir, dan pelayanan, adalah beberapa hal yang disebut sebagai titik terdalam dari panggilan hidup manusia secara pribadi. Panggilan yang bersifat spesifik inilah yang paling sering menjadi pertanyaan banyak orang yang berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan, karena panggilan ini bersifat khusus, dan tiap pribadi pasti memiliki perbedaan. Bagian inilah yang akan terus kita coba pahami sepanjang kehidupan kita, bagaimanapun kita harus sadar bahwa Tuhan tidak pernah menyatakan kehendakNya secara langsung dan lengkap di saat yang sama. Dia menyingkapkan kehendakNya secara bertahap, supaya kita semakin dekat denganNya dan memahami indahnya rencana yang sedang dipersiapkanNya.
Dengan demikian dapat kita lihat bersama bahwa pernyataan panggilan Allah ditujukan kepada semua orang secara umum, kemudian menyempit kepada kelompok orang percaya, lebih menyempit lagi kepada tiap-tiap pribadi orang percaya secara khusus.

Mengapa kita perlu untuk memahami panggilan hidup kita ?
Pertanyaan mengapa selalu muncul di dalam benak kita, saat fakta-fakta terpampang di hadapan kita. Demikian juga pertanyaan mengapa kita perlu untuk memahami panggilan hidup kita masing-masing.
Ada beberapa perkara yang membuat kita perlu untuk memahami kehendak Allah di dalam hidup kita :

1. Allah menyingkapkan kehendakNya secara bertahap
Pertama kali saya bergumul untuk menentukan jurusan studi di sekolah menengah, saya memulainya di kelas satu. Bukan hal yang mudah bagi saya untuk memilih jurusan yang sesuai, karena saya sadar bahwa keputusan yang saya ambil akan mempengaruhi masa depan saya. Banyak orang yang menganggap mengambil jurusan sains adalah yang terbaik dibandngkan kelas sosial dan kelas bahasa, karena hampir semua lapangan pekerjaan akan terbuka bagi siapa saja yang berasal dari kelas sains. Pada waktu itu hampir semua teman saya berambisi untuk masuk kelas sains, bahkan beberapa guru yang akrab dengan saya juga mendorong saya untuk mengambil kelas sains. Saya bersyukur orang tua saya tidak mendesak saya untuk memilih kelas tertentu, mereka memberikan kebebasan kepada saya untuk menentukan pilihan saya. Saya berdoa dan terus berdoa untuk memahami kehendak Tuhan, saya sadar apa yang saya pilih akan menentukan pilihan-pilihan lain di dalam kehidupan saya. Pada suatu hari saya menghadiri sebuah kebaktian di gereja yang kebetulan pada hari itu dipimpin oleh seorang pendeta yang berasal dari negara Jerman. Kotbah yang disampaikannya sangatlah menarik, tapi yang paling menarik bagi saya adalah pendeta tersebut berkotbah dengan menggunakan bahasa jawa krama inggil (tingkat tertinggi dalam bahasa tradisional jawa) yang sangat baik. Saat itulah mata saya dibukakan, bahwa seorang yang menguasai bahasa akan bisa berbuat banyak bagi Tuhan dan sesama : saya bisa mempelajari berbagai ilmu yang berasal dari bahasa lain, saya bisa mengenal berbagai budaya ketika berbaur dengan orang dari bahasa lain, dan terutama saya bisa membagikan berita tentang Kristus kepada orang lain. Dengan mempertimbangkan banyak hal termasuk kemampuan diri saya dan pendapat orang tua, saya memutuskan untuk memilih kelas bahasa. Banyak orang, termasuk guru saya menyayangkan pilihan saya karena mereka berharap saya masuk kelas sains, bagi kebanyakan orang kelas bahasa adalah kelas buangan, tapi bagi saya kelas bahasa adalah kelas yang akan menentukan kehidupan saya di masa datang.
Panggilan hidup bukanlah sesuatu yang kasat mata, bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah kita mengerti, dan bukanlah sesuatu yang ditemukan dengan jelas dan detil. Panggilan hidup adalah kehendak yang dinyatakan Allah secara bertahap, dan kita perlu untuk mencari tahu secara terus menerus. Sempat beberapa lama saya bertanya mengapa Allah tidak secara langsung saja menyingkapkan apa yang menjadi kehendakNya kepada manusia, bukankah dengan mengetahui semua rencana Tuhan di saat yang sama, maka manusia lebih pasti dalam menjalani kehidupannya. Tapi akhirnya saya disadarkan bahwa kualitas persekutuan dengan Allah lah yang menjadi sasaran Tuhan. Tuhan bisa saja membuka semua rencanaNya kepada manusia, tapi Dia lebih memilih untuk menyingkapkannya secara bertahap supaya manusia semakin dekat dengan diriNya, mendengar suaraNya dan bersekutu bersama dengan diriNya. Kesadaran bahwa Allah menyingkapkan panggilan dan kehendakNya secara bertahap diserta kesadaran bahwa kita memiliki keterbatasan untuk melihat masa depan kita sendiri, maka langkah untuk duduk diam bersama dengan Allah dan mendengar suaraNya adalah pilihan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Ketika kita semakin mendekat kepada Tuhan, maka kita pun semakin memahami apa yang menjadi kehendakNya, dan secara pasti kita semakin mengenali panggilan yang telah di persiapkanNya.

2. Allah adalah Pencipta kita, Dia tahu segala sesuatu yang terbaik bagi kita.
Pasangan hidup mungkin menjadi hal yang paling ditanyakan oleh para anak muda, tidak terkecuali saya. Ketika memasuki masa puber, saat dimana banyak teman sekolah saya mulai mengenal pacaran. Saya pun mulai menanyakan kepada Tuhan siapa yang akan menjadi pasangan saya. Hari-hari saya, saya habiskan dengan bergumul dan bertanya kepada Tuhan siapakah pasangan hidup saya dan dimana saya harus menemukannya. Memang selama beberapa kali saya pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang gadis, tapi belum pernah sekalipun saya berani menyatakan perasaan cinta saya, sebelum saya tahu bahwa dia adalah orang yang tepat menurut Tuhan. Alhasil sampai saat ini, saya belum pernah sekalipun merasakan hubungan pacaran. Aneh memang, terutama bagi kebanyakan orang, tetapi saya meyakini bahwa ada seorang disana yang telah ditentukan Allah bagi saya, juga menunggu saat yang tepat untuk bertemu dengan saya. Pernah juga suatu kali ketika saya mulai jenuh dengan pergumulan ini, saya mengubah pertanyaan saya kepada Tuhan, dari “ .. siapa Tuhan, orang yang Engkau tetapkan untuk menjadi pasangan hidupku ?” menjadi “ ... Apakah aku memiliki pasangan atau memang Engkau menghendaki agar aku hidup melajang ? “. Saya tidak tahu apakah Anda setuju dengan saya, tapi menurut saya pertanyaan melajang atau tidak perlu untuk ditanyakan kepada Tuhan sebelum kita memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Meskipun sampai hari ini saya tidak pernah memiliki masalah ataupun kekuatiran yang berlebihan berkenaan dengan lawan jenis (meskipun saya belum pernah berhubungan secara khusus dengan lawan jenis) tapi saya tidak berani mengklaim bahwa saya melajang karena masih punya impian tentang pernikahan dan keluarga. Satu hal yang saya yakin dan tahu dengan pasti adalah bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi saya, dan saya memilih untuk menunggu waktu yang tepat menurut Tuhan.
Saya percaya tidak ada satupun dari kita yang menyangkali bahwa Tuhan Allah adalah satu-satunya Pencipta segala sesuatu, Dia ada sebelum dunia ada dan akan tetap ada sampai dengan kekekalan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu baik di bumi maupun di sorga. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan adalah pusat segala sesuatu : Dia yang menciptakan kita, Dia yang merancangkan segala hal bagi hidup kita, dan Dia yang memeliharakan kita, bagaimana kita tidak datang dan berpengharapan kepadaNya. Dia adalah Allah yang Mahatahu, Allah yang mengenali kita bahkan ketika kita belum diciptakan (Maz 22:11 ; Gal 1:15). Mana yang Anda pilih : Peramal dan dukun yang memiliki keterbatasan kuasa serta lebih peduli pada kepentingan diri atau Allah yang tidak terbatas kuasaNya dan mengasihi kita sepenuhnya. Ada satu kalimat yang sangat menarik perhatian saya ketika saya membaca sebuah buku renungan, yaitu : “When all that we have is only God, we have everything”. Alasan yang membuat kita memahami panggilan hidup kita adalah : karena Allah sangat mengasihi kita dan Dia selalu merencanakan segala yang baik bagi kita. Bila kita taat, maka kita akan merasakan keindahan rencana Tuhan, tapi bila kita tidak taat, kita akan berada dalam kondisi yang tersesat dan kehilangan tujuan hidup.

3. Manusia dicipta dengan tujuan
Pernahkah muncul dalam pikiran Anda sebuah pertanyaan, “ Untuk apa saya hidup ?” Banyak orang yang hidup di atas dunia sebenarnya tidak pernah mengalami kehidupan yang sebenarnya. Memang mereka masih bernafas, tapi mereka tidak pernah tahu mengapa mereka hidup. Bagi saya itu sama saja dengan zombie, yang bisa bergerak tapi tidak punya kekuatan untuk mengendalikan diri.
Pada suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang baru saja lulus dari fakultas kedokteran, dan sudah disumpah sebagai seorang dokter. Ketika saya bertanya, kemana dia hendak membuka praktek kedokteran. Dengan mantap dan tanpa keraguan dia menjawab : “ Saya akan mengabdi di Papua.” Untuk beberapa saat saya terheran dengan perkataannya. Dia adalah seorang warga peranakan cina dan anak seorang pengusaha kaya yang sukses di Jakarta, tidaklah sulit bagi dia untuk membuka praktek di Jakarta dan mendapatkan banyak uang di sana. Tapi mengapa dia memilih Papua, sebuah tempat yang terpencil, jauh dari keluarga, dan tidak bisa menjanjikan kekayaan yang melimpah. Saya masih terus teringat dengan perkataannya yang tegas : “ Saya hidup untuk Tuhan dan saya melihat hidup saya ada di Papua”. Tidak lama setelah itu ia berangkat ke Papua dan meninggalkan segala kemapanan yang dia miliki di Jawa. Dia tinggal di Manokwari selama beberapa lama, bekerja sebagai seorang dokter sekaligus sebagai seorang misionaris. Tidak lama berselang dia bertemu dengan pasangan hidupnya, seorang peranakan Ambon yang juga melayani sebagai seorang misionaris di Papua. Mereka berdua kini melayani sebagai misionaris dan mengerjakan pelayanan mereka di Papua. Dia menyadari apa tujuan hidupnya, dia menjalaninya dengan penuh kegembiraan, dan dia mendapatkan setiap janji dan berkat yang Tuhan telah sediakan baginya.
Setiap manusia di atas dunia tidak dilahirkan secara kebetulan. Allah yang mengadakannya memiliki rencana dan tujuan yang khusus dan unik bagi masing-masing pribadi manusia. Hanya Allah yang membentuk dan mengenali setiap pribadi manusialah yang sanggup untuk mengadakan perencanaan tersebut. Manusia bukanlah robot yang diciptakan dengan memiliki prototype yang identik satu sama lain. Manusia memiliki keunikan, dan Allah memiliki rencana yang khusus terhadap keunikan tiap pribadi. Adalah anggapan yang salah bila kita berpendapat bahwa kita lahir tanpa adanya unsur kesengajaan. Kita semua diciptakan dengan tujuan oleh Allah, diciptakan untuk menggenapi rencanaNya. Kondisi ini seharusnya membawa kita semakin terdorong untuk mencari Allah yang mengetahui segala sesuatu tentang kehidupan kita. Adalah suatu kebodohan apabila kita mengetahui kebenaran itu tapi mengabaikannya. Dengan memahami tujuan hidup yang Allah persiapkan, kita akan semakin mantap menjalani kehidupan kita.

4. Manusia dicipta secara unik : memiliki kehendak bebas dan citra Allah
Manusia diciptakan oleh Allah dengan spesifikasi yang tidak ditemukan pada makhluk lain. Manusia adalah makhluk yang dibentuk dengan citra Allah yang sekaligus diberi kebebasan penuh untuk menentukan pilihan hidupnya. Kejadian 1 : 26 menegaskan bahwa manusia dibentuk Allah dengan mengambil citra dari Allah. Hal ini tidak semata berbicara masalah bentukan fisik, tapi juga bentukan spiritual dan mental. Manusia memiliki akal budi untuk berpikir, manusia memiliki daya kreatifitas untuk menciptakan, manusia memiliki kasih sebagai pantulan dari kasih Allah yang sempurna, manusia memiliki citra Allah yang lengkap meskipun tidak sesempurna Allah. Kesegambaran ini membawa manusia perlu untuk belajar meneladani Sang Khalik dalam segala hal. Itulah sebabnya keserupaan dengan Kristus adalah panggilan setiap orang percaya.
Meskipun memiliki rupa Allah, manusia tidak pernah dipaksa untuk mengikuti kehendak Allah. Allah memberikan kehendak bebas bagi manusia untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Dengan demikian meskipun Allah sudah merencanakan apa yang baik bagi manusia, tapi kadang kita temukan bahwa manusia – karena natur mereka yang berdosa – lebih suka mengikuti kehendak mereka sendiri daripada menaati kehendak Allah. Adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia yang berdosa untuk mengatakan tidak terhadap dosa karena memang natur mereka yang berdosa, tapi ketika seseorang sudah diperbaharui di dalam Kristus, dia memiliki pilihan untuk takluk kepada Allah atau takluk kepada dosa, dan pemilihan itu tergantung kepada dirinya sendiri.
Bagaimana dengan kita : apakah kita lebih suka mengikuti kehendak kita sendiri atau kehendak Allah ? Kehendak kita yang penuh dengan keterbatasan dan dosa, atau kehendak Allah yang sempurna ?. Orang percaya yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus memiliki kerinduan untuk menundukkan diri dan mengasihi Allah, kesukaan mereka yang terbesar adalah menyenangkan Allah, dan ini berarti mendengar serta menaati kehendak Allah.

5. Hidup manusia berharga untuk dihidupi
Hidup adalah anugerah Allah. Hidup diberikan kepada manusia, karena Allah menganggap manusia layak untuk menjalani kehidupannya. Tapi kadang kita menemui orang-orang yang merenggut kehidupan yang telah diberikan Allah kepada manusia, baik kehidupan orang lain maupun kehidupan mereka sendiri.
Pada suatu kali saya mendapati seorang teman saya yang sudah bersiap untuk bunuh diri, beberapa kali dia sudah mencoba untuk bunuh diri, baik dengan meminum obat sampai overdosis maupun tindakan-tindakan yang lainnya. Masalah yang dihadapinya memang kompleks : dia berasal dari keluarga yang hancur karena orang tuanya bercerai, pertengkaran kerap terjadi di dalam rumahnya, dia pernah hamil diluar nikah karena berhubungan dengan pacarnya dan kemudian digugurkan, dan tunangannya meninggalkan dia untuk menikah dengan wanita lain. Dia berkata, “ Aku tidak punya alasan untuk hidup, karena aku memang tidak pernah memiliki kehidupan yang sebenarnya”. Pada saat itu saya, yang menyadari bahwa dia bukan orang kristen, hanya bisa diam karena saya tidak bisa secara langsung membuka Alkitab dan menunjukkan apa itu hidup. Tapi Roh Kudus memberikan pengertian baru, saya meminta dia untuk mendengarkan satu buah lagu rohani yang saya nyanyikan. “ ... Hanya dekat kasihMu Bapa Jiwakupun tenang, Engkau menerimaku dengan sepenuhnya. Walau dunia melihat rupa, namun Kau memandangku, sampai kedalaman hatiku ...” . Kemudian saya berkata kepadanya, “ Tuhan masih menerima kamu, meskipun tidak seorangpun di atas dunia ini yang menerimamu. Hidup itu layak untuk dijalani karena hidup itu adalah anugerah Allah, datanglah kepada Tuhan dan percayalah bahwa Tuhan ada di sana untuk kamu”.
Banyak orang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka karena mereka tidak menyadari bahwa hidup mereka berharga, dan bahwa Allah mengasihi mereka serta memiliki rencana indah bagi mereka. Setiap proses hidup yang Allah izinkan terjadi di dalam kehidupan kita diberikan kepada kita sebagai sarana untuk mendidik dan membentuk kita sesuai dengan kehendakNya. Orang yang tidak menemukan tujuan hidup mereka serta alasan mengapa mereka hidup, tidak akan pernah bisa menyadari betapa berharganya hidup yang dipercayakan Tuhan kepada mereka.

Bagaimana kita memahami panggilan hidup kita ?
Pertanyaan terbesar berikutnya setelah mengerti bahwa Allah memiliki rencana bagi setiap kita adalah : bagaimana aku bisa mengerti apa yang menjadi panggilan hidupku, sehingga aku bisa memperjuangkannya ?. Saya sendiri mengakui, memahami panggilan Tuhan bukanlah hal yang mudah, apalagi melakukannya. Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja dengan cara yang kadangkala tidak bisa kita pahami, meskipun kita tahu itu adalah yang terbaik bagi kita. Tapi sebagai permulaan untuk mengetahui kehendak dan panggilanNya bagi kita, saya mengajak kita untuk mempertimbangkan beberapa langkah berikut :
1. Memahami eksistensi manusia dan melakukan pendamaian
Langkah pertama untuk mengenali apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita adalah kesadaran akan siapa diri kita sebenarnya. Alkitab dengan jelas menggambarkan siapa manusia dan bagaimana keadaannya. Pada mulanya manusia diciptakan dengan citra Allah dan memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh ciptaan lain yaitu akal budi dan kehendak bebas. Manusia memiliki hak dan kuasa untuk menentukan bagaimana jalan hidup mereka. Karena ketidakbijakan manusia, mereka memilih untuk menentang Allah dan akibatnya jatuh ke dalam dosa. Dosa ini terus menggerogoti manusia, bahkan diturunkan kepada generasi berikutnya. Sebagai akibatnya tidak ada manusia yang diterima oleh Allah, karena Allah kudus sedangkan manusia berdosa. Dosa dan kekudusan adalah dua hal yang saling bertentangan. Pertentangan ini membuat manusia semakin jauh dari Allah dan semakin tidak mengerti apa yang menjadi kehendak Allah. Meskipun manusia di karuniai dengan begitu banyak berkat, baik hikmat maupun talenta, tapi tanpa ada pengertian dan rasa takut akan Tuhan semuanya itu hanya akan membuat manusia semakin hancur dan tenggelam di dalam dosa.
Tidak ada cara lain yang bisa membuat manusia bisa mengalami panggilan Allah dengan sempurna, selain berdamai terlebih dahulu dengan Allah. Tanpa adanya perdamaian, manusia tidak akan pernah bisa mengenali panggilan hidupnya, keterpisahannya dengan Allah karena dosa menjadi satu-satunya penyebab kenapa manusia tidak bisa mengenal kehendak Allah. Hanya setelah manusia dilahirkan kembali dan mengalami kehidupan baru, maka manusia akan bisa menemukan jatidirinya yang berkenan kepada Allah, sehingga Allah bersedia untuk bersekutu dengannya.
Setelah dipenuhi oleh Roh Kudus, manusia baru tidak hanya semakin peka dengan suara Tuhan tapi juga semakin diperlengkapi dengan karunia rohani untuk melayaniNya dan membangun persekutuan dengan anggota yang lainnya. Selain itu talenta yang sudah dimiliki manusia juga semakin dipertajam dengan karunia tersebut, dan sebagai akibatnya manusia baru semakin mempermuliakan Tuhan dalam hidupnya melalui karunia dan talenta yang Allah anugerahkan.
Hal yang perlu untuk dilakukan setelah berdamai dengan Allah adalah berdamai dengan diri sendiri. Hal ini berarti kita harus belajar untuk menerima keberadaan diri kita, dengan setiap kekurangan dan kelebihan yang ada. Kesadaran akan keberadaan diri kita, akan membuat kita berusaha untuk menaklukkan kelemahan kita dan membangun kelebihan yang ada pada kita. Orang yang bisa mengenali dan menerima dirinya dengan baik adalah orang yang bisa menentukan kemana hidupnya akan dibawa.
Dengan demikian kita bisa melihat bahwa orang yang sudah berdamai dengan Allah dan berdamai dengan dirinya sendiri adalah orang paling peka mendengar suara Allah. Karena dia sudah mengalami pembaharuan hubungan dengan Allah melalui penebusan dalam Kristus sehingga dia bisa mendengar suara Allah dengan lebih jelas, sekaligus menyadari dan menerima keberadaan dirinya dengan penuh syukur, sehingga dia bisa memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya dengan maksimal untuk melaksanakan apa yang menjadi kehendak Allah.

2. Mengenali kehendak Allah
Setelah Anda melakukan pendamaian, maka sekarang adalah saat dimana Anda mulai dengar-dengaran akan suara Tuhan. Lalu bagaimana supaya kita bisa dengan jelas mengenali bahwa yang kita dengar adalah suara Tuhan. Langkah yang paling awal adalah bersekutu secara pribadi dengan Allah dengan teratur dan penuh kesungguhan. Persekutuan di dalam doa dan firman bukanlah suatu keharusan bagi orang percaya tapi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang sudah mengalami pendamaian dengan Allah. Sangat tidak mungkin bagi Anda untuk mempertahankan kehidupan rohani Anda bila Anda tidak pernah bernafas dalam doa dan mengecap makanan rohani berupa firman Allah. Seseorang akan dengan baik mengenali suara sahabatnya, hanya bila mereka sering menyediakan waktu untuk bercakap-cakap secara intens. Sama seperti itu, Anda akan semakin mengenal suara Allah apabila Anda bergaul dekat bersama denganNya. Selain itu, pergaulan yang akrab dengan Allah, atau menjadi sahabat Allah, akan membentuk Anda menjadi pribadi yang akan melakukan apapun yang dikehendakiNya dengan senang hati bukan dengan paksaan. Hal ini muncul karena kasih yang mendalam terhadap sahabat Anda tersebut. Kehendak Allah tidak hanya bersifat universal tapi juga bersifat khusus bagi setiap pribadi manusia. Mulailah untuk mengenali panggilan Allah secara umum bagi seluruh umat manusia dan kemudian barulah Anda belajar untuk mengenali panggilan Allah bagi Anda secara pribadi.
Kadangkala kita tidak bisa melihat dengan baik apa yang Allah kehendaki, karena kita membiarkan sesuatu yang menghalangi ada di depan mata kita, dan selain itu kita tidak bersedia melakukan sesuatu untuk mengatasinya. John Wesley pada suatu hari berjalan-jalan dengan seorang petani di sebuah perkebunan yang luas. Si petani berkeluh kesah kepada John Wesley, bahwa dia merasa jenuh dengan hidupnya karena dia tidak bisa menemukan alasan untuk apa dia hidup, seluruh masa depannya terasa kosong dan tidak jelas. Dengan penuh ketenangan, John Wesley menunjuk kepada seekor sapi yang sedang melongokkan kepalanya melewati tembok yang membatasi perkebunan tersebut dengan jalan dan kemudian bertanya : “ Tahukah kamu mengapa sapi tersebut melongokkan kepalanya melalui tembok ?” Petani tersebut hanya menggelengkan kepalanya. John Wesley melanjutkan : “ Karena dia tidak bisa melihat menembus tembok makanya dia melongokkan kepalanya dari atas tembok. Pada saat Anda tidak bisa melihat apapun di depan mata Anda, cobalah untuk naik ke atas dan melihat dengan cara bagaimana Allah melihat kehidupan Anda.” Memandang dari atas secara menyeluruh dengan menggunakan sudut pandang Allah adalah cara yang tepat untuk mengenali arah kehidupan kita. Memandang dengan cara Allah membuat Anda juga makin mengerti apa yang Allah kehendaki dari hidup Anda, sekaligus memahami bagaimana Allah memandang kehidupan Anda. Jangan menjadi orang yang terkungkung dan tidak bisa berbuat banyak hanya karena Anda membatasi diri Anda dengan apa yang ada pada diri Anda, bukan pada apa yang Allah bisa berikan kepada Anda.
Selain itu seorang manusia juga harus memiliki tujuan hidup yang jelas, bila tidak dia tidak akan tahu kemana dia akan menjalani kehidupannya serta menjawab pertanyaan mengapa dia hidup. Visi hidup inilah yang akan menuntun seseorang menuju kehidupan yang sebenarnya. Seekor burung rajawali yang sudah bertahun-tahun terkurung di dalam sangkar, pada suatu hari hendak dilepaskan oleh si pemilik. Pada saat itu hari mendung sehingga langit terlihat gelap tanpa cahaya. Pada saat sangkar dibuka, burung rajawali tersebut enggan untuk keluar dari sangkar dan terbang meskipun sudah dipaksa keluar dari sangkarnya. Rajawali tersebut tetap tidak bergeming dengan desakan yang ada dari pemiliknya. Tapi tiba-tiba saat selarik sinar menembus kepekatan mendung langsung ke arah matanya, rajawali tersebut tiba-tiba mengembangkan sayapnya dan terbang menuju titik cahaya yang menembus kegelapan mendung tersebut. Sama seperti rajawali tesebut kita juga perlu untuk menemukan titik panggilan hidup kita masing-masing dan terbang menuju kesana. Bagaimana Anda hidup didunia ini ditentukan dari secercah cahaya yang menembus kegelapan dan mengenai mata Anda. Cahaya itulah yang akan menuntun Anda kepada kehidupan.

3. Mengenali cara Allah berbicara
Banyak orang berkata : Allah bekerja dengan cara yang misterius. Dalam satu hal saya setuju bila kita berbicara tentang metode unik yang Allah gunakan bagi tiap pribadi untuk menyatakan kehendakNya. Saya tidak bisa menyangkali bahwa kadangkala Allah bekerja dengan cara yang tidak kita pahami dengan keterbatasan pengertian kita. Alkitab mencatat begitu banyak tokoh yang mengalami bagaimana Allah menyatakan kehendakNya kepada mereka secara khusus dan unik. Meskipun beberapa metode masih bisa digunakan Allah untuk menyatakan kehendakNya kepada manusia, tapi dimasa ini Allah lebih banyak berbicara dengan cara yang berbeda dari para hambaNya di masa lalu.
Allah berbicara melalui firmanNya yang sudah tertulis lengkap di Alkitab ; Allah berbicara melalui hati kita pada saat kita berdoa di hadapanNya ; Allah berbicara melalui orang-orang yang lebih dewasa secara rohani yang bisa menyatakan apa yang menjadi kehendak Allah ; Allah berbicara melalui tanda ; Allah berbicara melalui mimpi dan penglihatan dan Allah juga berbicara dengan cara yang Allah kehendaki.
Apapun cara yang Allah gunakan untuk menyatakan kehendakNya. Hanya ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingn mendengar suara Tuhan : Mendekat kepada Sang Sumber yaitu, Tuhan.

4. Menaklukkan diri dan bergantung kepada Allah
Seorang pria tua bernama Chou terus mengeluh meratapi nasibnya. Ketika seseorang menanyakan apa yang terjadi dengan dirinya, serta merta dia menjawab : “ Saya menyesal saya telah membuang waktu-waktu kehidupan saya dengan sia-sia. Pada saat masih anak-anak saya mendengar bahwa orang yang bekerja keras akan mendapat uang yang banyak dan menjadi kaya, dan karenanya saya mulai bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Tapi ketika saya mulai remaja saya mendengar bahwa orang yang berpendidikan adalah orang yang akan memperoleh kehidupan yang berkelimpahan karena mereka sangat dibutuhkan oleh negara, maka saya belajar dengan sungguh-sungguh supaya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tapi ketika saya lulus dari sekolah saya mendengar bahwa orang tua lebih dibutuhkan oleh negara karena mereka memiliki banyak kebijaksanaan untuk membangun negara. Dan sekarang pada saat saya sudah menjadi tua, saya mendengar bahwa negara ini lebih membutuhkan orang muda untuk membangun negara. Saya merasa tidak berarti, seluruh kehidupan saya menjadi sia-sia.” Apa yang Anda kejar dalam hidup Anda, kepentingan diri atau kepentingan Allah ? Manusia pada dasarnya memiliki sikap rakus, dia terus berusaha memuaskan dirinya yang tidak pernah puas. Dia terus mengejar ambisinya yang tidak pernah habis. Menaklukkan diri berarti mengalahkan segala keinginan diri kita dan menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Allah. Kunci dari penaklukkan diri adalah penyangkalan diri, yaitu menolak setiap keinginan diri dan melaksanakan apa yang menjadi keinginan Allah. Pada saat seseorang mengabaikan keinginannya dan hanya berusaha memuaskan kehendak Allah, maka manusia akan menemukan kehidupan yang sebenarnya.Setiap manusia berhak untuk memiliki ambisi dirinya masing-masing, tapi ambisi yang kudus adalah ambisi yang diserahkan kepada Allah. Hal ini juga berarti : “ KehendakMu yang jadi bukan kehendakku yang terlaksana”
Berbicara masalah kebergantungan kepada Allah bagi saya lebih dari sekedar mengulurkan tangan kita dan menggenggam tangan Allah, tapi ketika kita menggenggam tangan Allah Allah juga mengulurkan tanganNya dan menggenggam kita dengan erat. Jadi ketika kita bergantung kepada kekuatan Allah, tidak pernah sekalipun kita menggunakan kekuatan kita, tapi sebaliknya Allah lah yang menggunakan lengan kasihNya untuk menggenggam kita. Yesus berkata : “ ... Datanglah kepadaKu semua orang yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberikan kelegaan kepadamu ...” , Dia mengundang kita untuk meletakkan beban berat kehidupan kita kepadaNya dan mengikut Dia.
Pada suatu hari ada seorang yang sedang melakukan perjalanan jauh antar kota dengan memikul beban yang sangat berat di punggungnya. Dalam perjalanan dia berpapasan dengan seorang petani yang sedang mengendarai gerobag sapi dengan arah perjalanan yang sama. “ Teman apakah engkau menuju ke arah yang sama dengan aku ? mari bergabunglah bersama denganku “, kata si petani. Dengan senang hati si pejalan kaki menggabungkan diri dengan petani tersebut dan naik ke atas gerobagnya. Ketika sudah duduk dengan nyaman di atas gerobag petani tersebut si pejalan kaki menempatkan bebannya di atas pangkuannya. Melihat hal tersebut si petani bertanya kepada si pejalan kaki, “ Teman, bukankah engkau sudah berada di atas keretaku tapi mengapa engkau masih saja menempatkan beban tersebut diatas pangkuanmu” Apakah kita masih bersikap demikian ? Apakah ketika kita meletakkan setiap ketakutan dan beban kita kepada Allah, kita masih saja memegang beban tersebut dan tidak menyerahkan sepenuhnya kepada Allah ? Seluruh masa depan dan kehidupan kita ada ditangan Allah yang Empunya semesta alam, apa lagi yang kita cari bila kita menyadari bahwa kita berada ditangan yang tepat ?

5. Memperjuangkan panggilan
Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang otoriter, yang tidak memberikan kesempatan kepada manusia untuk menjalani kehidupannya sendiri, Dia memberikan kebebasan bagi kita untuk menjalani kehidupan kita. Meskipun Allah sudah mempersiapkan sesuatu yang indah bagi kita di masa datang, tapi Allah tetap menghendaki agar manusia bersedia melibatkan diri mereka ke dalam rencanaNya. Dia berkeinginan agar manusia bisa menjadi mitra kerjanya, bukan robot yang bisa diatur sesukanya.
Sebagai mitra Allah, manusia yang sudah menangkap apa yang menjadi kehendak Allah atas hidupnya, harus mulai belajar memikirkan dengan baik bagaimana cara menjalani dan mencapai sasaran yang Allah kehendaki. Saya tidak bermaksud untuk merendahkan makna campur tangan Roh Kudus di dalam kehidupan manusia, tapi yang hendak saya coba katakan adalah : Allah memberikan kepada kita hikmat bukan sebagai pelengkap tapi sebagai media yang digunakan bagi kemuliaan Allah. Dia meminta supaya kita berpikir dengan hikmat yang sudah dianugerahkan kepada kita, tentu saja tanpa mengabaikan suara Roh Kudus. Perencanaan pribadi yang melibatkan Allah untuk masa depan kita adalah salah satu cara untuk mempersiapkan kehidupan yang berkelimpahan di dalam ketaatan kepada Tuhan.
Setelah berencana, maka tugas berikutnya adalah menempatkan prioritas dalam kehidupan kita. Jika kita menyadari apa yang menjadi panggilan hidup kita, maka kita harus menempatkannya sebagai hal yang paling utama dalam kehidupan kita. Kita harus belajar mengabaikan segala sesuatu dan mengarahkan mata kita kepada tujuan yang sudah dinyatakan Allah kepada kita.
John Wanamaker, seorang pengusaha dan Kepada Dinas Pos Telekomunikasi di Amerika yang juga seorang guru sekolah minggu ditanya oleh seorang wartawan : “ Bagaimana Anda bisa mengatur waktu Anda untuk mengurus bisnis Anda sekaligus menjadi kepala dinas pos telekomunikasi sementara Anda juga harus mengurus 4000 orang anggota sekolah minggu di gereja Anda ?” Dengan penuh kepastian, John Wanamaker menjawab : “ Saya hanya memiliki satu pekerjaan tetap, yaitu menjadi guru sekolah minggu sedangkan yang lainnya hanyalah sambilan saja bagi saya.” Apa yang Anda tangkap sebagai panggilan hidup Anda itulah yang harus Anda kerjakan, meskipun itu berarti tantangan yang berat. Jangan pernah sekalipun memikirkan apa untung ruginya, bukankah Yesus pernah bersabda : “ Carilah dahulu kerajaan Allah dan segala kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Seorang calon misionaris baru saja menerima pesan untuk menemui pengujinya sebelum dia dianggap layak untuk terlibat di dalam pelayanan ini. Dikatakan bahwa dia harus menemui pengujinya pukul tiga pagi di rumah si penguji. Pagi itu hujan turun sangat lebat sehingga membuat suasana malam yang sunyi semakin terasa beku, tapi pukul tiga tepat si calon misionaris tersebut sudah berada di depan rumah si penguji. Setelah dipersilakan masuk oleh pembantu rumah, dia diminta menunggu kedatangan si penguji.
Jam delapan tepat, si penguji datang ke ruangan dimana si calon misionaris berada. “ Jadi kamu calon misionaris yang akan berangkat melayani ?” tanya si penguji. “ Benar pak !”, jawab calon misionaris. “ Katakan kepadaku apakah engkau bisa mengeja ?”, tanya si penguji. “ Bisa pak !” . “Baiklah, coba kamu eja kata Misionaris”, pinta si penguji. “ m-i-s-i-o-n-a-r-i-s”, jawabnya. “ Bagus, sekarang apakah engkau bisa berhitung ?” , tanya si penguji sekali lagi. “ Bisa pak !”, jawab si calon misionaris. “ Berapa dua ditambah dua ?”, tanya si penguji. “Empat !”. “ Baiklah, saya kira cukup untuk ujiannya, dewan akan memberitahukan kepadamu hasil dari ujianmu.” Kemudian si calon misionaris tersebut pergi meninggalkan si penguji.
Dalam sidang para dewan pengutus misionaris, penguji tersebut mengungkapkan penilaiannya terhadap si calon misionaris. “ Saya kira kita telah menemukan misionaris yang kita cari. Saya telah mengujinya lima hal dan dia bisa melewatinya dengan sangat baik”
“ Yang pertama, saya menguji penyangkalan dirinya, ketika saya meminta dia untuk datang ke rumah saya jam tiga pagi. Dia rela untuk meninggalkan tempat tidur dan selimutnya yang hangat, berjalan menembus hujan dan udara dingin untuk datang ke rumah saya.”
“ Yang kedua, saya menguji ketepatan waktunya, dia datang tepat jam tiga pagi seperti yang saya pinta darinya.”
“ Yang ketiga, saya menguji kesabarannya, saya membiarkan dia menunggu selama lima jam dari jam tiga pagi sampai dengan jam delapan pagi, dan dia tetap bertahan untuk ada di sana.”
“ Yang keempat, saya menguji penguasaan dirinya, ketika saya datang jam delapan pagi. Dia sama sekali tidak mempertanyakan keterlambatan saya apalagi marah. Dia menyambut saya dengan ramah”
“ Yang kelima, saya menguji kerendahanhatinya, ketika saya menanyakan kepadanya pertanyaan-pertanyaan yang bisa dengan mudah dijawab oleh anak kecil, dia menjawabnya dengan senang hati.”
“ Itulah sebabnya, menurut saya kita telah menemukan seorang misionaris yang tepat.”
Ketika Anda menyadari apa yang menjadi panggilan hidup yang Anda, maka Anda harus memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Sama seperti si calon misionaris yang menyadari apa yang menjadi panggilan hidupnya, sehingga dia memperjuangkan panggilannya itu dengan sungguh-sungguh. Dia bersedia untuk menghadapi setiap tantangan yang ada, bahkan bila perlu mengabaikan dirinya sendiri.
Faktor tidak menunda adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan ketika kita menerima panggilan Allah. Allah tidak pernah suka melihat kita menunda dan melarikan diri dari panggilan yang telah diberikanNya kepada kita. Seorang pematung Yunani bernama Lysippus bahkan mencoba mendeskripsikan penundaan adalah suatu tindakan yang sia-sia. Di salah satu kota di Yunani berdiri sebuah patung yang terlihat aneh bagi kebanyakan orang. Di bawah patung tersebut terlihat sebuah tulisan yang menunjukkan suatu dialog antara musafir dan si patung itu sendiri.
“ Hai patung siapakah namamu ?”
“ Namaku adalah kesempatan”
“ Siapakah yang memahat engkau ?”
“ Lysippus”
“ Mengapa engkau dipahat dalam posisi bersiap ?”
“ Karena aku datang pada saat yang tidak pernah terduga “
“ Mengapa rambut depanmu panjang berjuntai ?”
“ Supaya pada saat aku lewat orang bisa dengan segera menangkap aku “
“ Tapi mengapa bagian belakang kepalamu tidak memiliki rambut sama sekali ?”
“ Karena sekali aku lewat, maka tidak seorangpun bisa menangkap aku”
sekali Anda menunda apa yang menjadi panggilan Allah dan mengabaikan apa yang menjadi kehendakNya maka tidak akan pernah bisa lagi benar-benar menikmati persekutuan yang sebenarnya dengan Tuhan.

Hidup menjadi berharga bukan dari berapa lama kita hidup di atas dunia ini tapi dari bagaimana kita menjalani kehidupan kita dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah. Allah memiliki rencana yang terbaik bagi Anda, kehidupan Anda sudah dipersiapkan untuk kebaikan Anda. Pilihan Anda atas hidup Anda untuk hidup dalam ketundukan kepada Allah, atau sekedar memuaskan keinginan kita yang berdosa dan penuh dengan kekosongan akan menentukan hidup Anda yang sebenarnya. (05/12/05) (SkD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!