INDONESIA : NEGARA PENUH BENCANA

Kalau kita memperhatikan apa yang diinformasikan oleh banyak media massa di Indonesia selama beberapa tahun ini, kita disadarkan akan betapa banyak dan seringnya Indonesia dilanda bencana alam. Mulai dari tsunami di Aceh dan Nias, gempa di Yogya, lumpur panas di Sidoarjo, kebakaran hutan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, tanah longsor di Banjarnegara, banjir bandang di Jakarta, serta kekeringan di berbagai tempat. Indonesia seakan-akan sering di buat menangis sedih karena datangnya bencana yang bertubi-tubi ini.
Ada apa sebenarnya ? Apakah murka Allah belum berakhir, meskipun telah datang banyak bencana di Indonesia ini ?
Eits, ati-ati kalau bicara masalah murka Allah. Jangan sembarangan mengatakan bahwa Allah sedang murka pada negara Indonesia. Nanti kalau sampai Allah benar-benar murka, tahu sendiri akibatnya. Pernahkah kita berpikir bahwa mungkin saja saat ini, Tuhan sedang meratapi bangsa kita, sama seperti ketika Allah menangisi Israel ketika bangsa itu berzinah di hadapan Allah.
Menurut saya banyaknya bencana tersebut memiliki dua makna yang menegur kita secara langsung : pertama, masalah apakah kita hidup bersahabat dengan ciptaan Allah yang lain ?, dan yang kedua, apakah kita sudah hidup sebagaimana orang percaya seharusnya hidup ditengah bangsa ini ?.
Saya teringat ketika masih SD, guru saya yang mengajarkan IPA menceritakan bagaimana siklus air berlangsung di atas bumi, dari proses penguapan air laut sampai dengan hujan turun keatas permukaan bumi. Nah setiap kali, saya mengingat idealnya proses tersebut saya selalu mempertanyakan bagaimana bencana tersebut terjadi. Ya, mungkin pengecualian untuk tsunami dan gempa bumi, dua bencana itu memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesalahan manusia. Tapi lihat bencana alam lainnya, sepertinya bencana tersebut terjadi karena ulah manusia sendiri. Kalau seandainya hutan tidak ditebang sembarangan, lalang tidak dibakar untuk membuka ladang baru tanpa aturan, dan jalanan tidak dikeraskan dengan aspal dan beton, maka berbagai bencana alam tidak perlu ditakutkan. Karena dengan adanya jumlah tanaman yang cukup, maka di musim kemarau kita tidak akan kekurangan air karena bumi menyimpan banyak sumber air tanah, dan saat musim penghujan kita tidak perlu takut kebanjiran karena air tersebut ditahan oleh tanaman yang ada, yang kemudian menyimpannya sebagai air tanah. Dengan demikian bencana : banjir, kekeringan, longsor, kebakaran hutan dan lain-lain tidak perlu terjadi di negara kita.
Ingat apa yang pernah dimandatkan Allah kepada Adam setelah penciptaan selesai ? “beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Tugas itu diberikan bukan untuk menunjukkan betapa berkuasanya kita atas setiap makhluk yang ada di muka bumi, tapi sebaliknya menunjukkan kepada kita bahwa kita harus hidup berdampingan dengan ciptaan lain dalam harmonisasi. Kita ditugaskan untuk bisa bersahabat dengan ciptaan Allah yang lain, memaksimalkan potensi yang ada untuk kebaikan kita bersama. Ingat kebaikan bersama bukan hanya kebaikan kita. Nah sudahkah kita bersahabat baik dengan alam ini ?
Bersahabat dengan alam dapat dilakukan dengan langkah-langkah yang sangat sederhana, seperti misalnya : membuang sampah pada tempatnya, menggunakan air secukupnya sesuai dengan kebutuhan kita, mengadakan penghijauan di sekitar lingkungan kita, dll.
Nah sekarang mari kita bicara masalah keberadaan kita, sebagai orang percaya di tengah bangsa ini. Beberapa bulan yang lalu, salah seorang teman saya pernah menyeletuk, ketika saya mengeluhkan udaranya panas dan gerah. “ Bagaimana udara tidak panas, Semarang kan kebanyakan dosa. Nah karena kebanyakan dosa, Semarang jadi dekat dengan neraka yang katanya super panas itu.” Saya hanya tersenyum mendengar celetukannya itu, tapi hati saya sempat tergelitik ketika membandingkan celetukan teman saya dengan Yeremia 29:7, yang menyuruh kita untuk berdoa bagi tempat dimana kita berada. Apakah kita orang percaya sudah melaksanakan peran kita bagi lingkungan dimana kita berada ? Peran yang memberikan kesejukan dan kedamaian bagi masyarakat ? Atau jangan-jangan polah tingkah kita makin membuat suasana di lingkungan kita yang sudah panas menjadi semakin memanas ?
Sudah seharusnya sebagai orang percaya, kita tidak hanya harus mewujudnyatakan harmonisasi dengan ciptaan Allah yang lain, tapi juga membawa kesejukan dengan perilaku kita di tengah bangsa ini. Melalui persahabatan dengan alam, kita menjaga harmonisasi dengan ciptaan Allah yang lain, sedangkan dengan hidup sebagai orang percaya yang membawa damai dan kesejukan, kita akan menjadi saksi sekaligus teladan di tengah dunia, sehingga pada akhirnya mewujudkan datangnya kerajaan Allah. Karena itu hiduplah sebagai anak-anak terang yang membawa damai bagi dunia. Amin. SkD (02/11/2006)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!