BUDAYA DEMONSTRASI

“Indonesia lagi demam demo”, itu yang saya rasakan. Ada masalah atau keluhan sedikit maunya demo aja. Saya kadang-kadang bingung harus memahami maksud dari kata “demokrasi” dan “demonstrasi” bagi orang Indonesia. Apa mungkin lebih tepat kalau saya boleh mengasumsikan kata “demo-Crazy” sebagai demo yang gila dan “demons-trasi” sebagai setan yang bau (demons = setan, trasi / belacan = bumbu masak yang baunya audibilleh).
Demonstrasi sendiri, bagi saya bukanlah sesuatu yang menakutkan karena pada dasarnya tiap orang memiliki kebebasan untuk berbicara dan mengungkapkan pendapatnya. Tapi yang paling menyedihkan bagi saya saat ini adalah tindakan demonstrasi yang mulai anarkis dengan mengatasnamakan demokrasi padahal tidak selamanya demikian. Memprihatinkan memang melihat di televisi para korban berjatuhan serta bangunan publik diluluhlantakkan karena aksi demokrasi yang berubah menjadi kekerasan. Tapi sepertinya itu yang menyenangkan orang-orang Indonesia.
Kalau kita menilik dengan jujur budaya demonstrasi di Indonesia, kadang saya bertanya pada diri saya sendiri. Lebih hipokrit mana sih orang Indonesia dengan masyarakat Amerika yang disebut sebagai “People of Paradox”. Kalau dulu kita dikenal sebagai bangsa yang friendly dan peace lover, tapi kenapa sekarang menjadi bangsa yang beringas dan menikmati kekerasan ? Bentuk dari perilaku hipokrisi atau perubahan temperamen yang terjadi pada masyarakat Indonesia ?
Salah satu buku sosiologi yang pernah saya baca (saya lupa judulnya) menyebutkan beberapa karakteristik orang Indonesia yang menurut saya cukup menarik, antara lain : malas, feodalis, dan menikmati konflik. Kenapa bisa demikian ? Menurutnya, kemalasan disebabkan oleh keberadaan orang Indonesia yang selama berabad-abad dibuai dengan kekayaan alam yang melimpah ruah dimana segala kebutuhannya terpenuhi hal ini membuat masyarakat Indonesia enggan untuk bekerja keras. Feodalisme dibentuk oleh budaya monarki yang telah diwariskan secara turun temurun sejak zaman kerajaan, sehingga meskipun bentuk pemerintahan sudah berubah menjadi republik, sikap rakyat kepada pejabat tetap sama seperti zaman kerajaan : asal bapak senang. Sedangkan kesukaan akan konflik dibuktikan dengan seringnya terjadi invasi dan agresi antar kerajaan pada zaman dulu, demi untuk memperluas kekuasaan dan pengaruh.
Sampai hari ini sepertinya asumsi ini masih berlaku, orang Indonesia tetap malas, sehingga sulit untuk maju meskipun negara di sekitarnya sudah menunjukkan kemajuan. Nepotisme yang berimbas ke kolusi dan korupsi juga kian merajalela karena sikap asal bapak senang. Dan yang terakhir yang cukup kentara adalah sukanya orang-orang Indonesia untuk berkonflik alias perang, tidak hanya “perang” dalam arti demo anarkis, tapi perang yang sebenarnya, baik antar suku, maupun antar kepentingan.
Berbicara tentang demonstrasi, saya jadi ingat kebiasaan orang Israel pada zaman perjanjian lama yang suka berdemonstrasi menentang Allah. Ketika dalam perjalanan keluar dari Mesir, orang Israel berdemo menentang Musa karena mereka ketakutan saat dikejar Firaun. Ketika di padang gurun mereka berdemo lagi kepada Musa karena ingin makan daging dan roti. Di gunung Sinai pada saat Musa sedang berdialog dengan Allah, mereka kembali berdemo ingin menyembah Allah yang kelihatan, sehingga mereka membuat patung anak lembu emas, dan di zaman Samuel, orang Israel berdemo karena ingin memiliki raja sebagai pengganti Allah.
Bangsa ini berdemo karena keinginan mereka tidak terpenuhi. Mereka berdemo karena ingin memuaskan hawa nafsu mereka sendiri. Bagaimana dengan budaya berdemonstrasi bangsa ini, apakah sama dengan budaya Israel ?
Berkebalikan dengan demonstrasi yang diwarnai dengan kepentingan diri dan anarki pada bangsa Israel mula-mula, demonstrasi yang dilakukan oleh raja Yosafat, sama sekali tidak menunjukkan tindakan yang menentang Allah tapi malah menunjukkan pengharapan akan Allah. Ketika bangsanya di serang oleh bangsa lain, alih-alih berperang dia malah memerintahkankan bangsanya berpuasa dan berseru kepada Allah. Dan ternyata ini jauh lebih efektif daripada yang dilakukan oleh bangsa Israel pada mulanya. Buktinya, Allah bergerak dan memenuhi apa yang menjadi seruan orang yang berpengharapan kepadaNya.
Saya tidak mengatakan bahwa demonstrasi adalah sesuatu yang buruk, adakalanya demonstrasi bisa menjadi sesuatu yang elegan ketika dilakukan dengan cara dan tujuan yang terhormat. Demonstrasi yang dilakukan dengan tujuan picik dan dirusak dengan tindakan anarkis yang emosional hanya akan menunjukkan betapa bobroknya demonstrasi itu. Tapi bila demonstrasi dilakukan dengan tujuan kebaikan bersama dan penuh kesopanan, maka terciptalah kebersamaan. Demonstrasi bukanlah bentuk gerakan massal yang bertujuan menghancurkan, tapi menyuarakan kebenaran.
Kolektifitas yang berseru kepada Tuhan dengan penuh pengharapan dan penyerahan diri ternyata lebih efektif daripada kolektifitas yang berseru dengan penuh emosi kepada sesamanya. Jikalau hanya Allah yang sanggup dan bisa memenuhi segala kebutuhan kita, mengapa kita harus berseru kepada manusia. Ber “Demonstrasi kepada Allah” dengan elegan, Dia pasti mau mendengarkan kita. Maukah kita berdemonstrasi dengan cara yang elegan ? SkD (27/11/06)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!