UCAPAN BAHAGIA YESUS



Matius 5 : 3 – 12
3. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
4. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
6. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
7. Berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan.
8. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
9. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
10. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga.
11. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
12. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

Saya pernah ditanya seorang teman yang berkata : “Apa yang Anda cari dalam hidup ?”. Pertanyaan yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terpikir oleh saya tiba-tiba muncul dari seorang teman. Sejenak saya terdiam dan berpkir, “ Iya ... Apa sih yang sebenarnya saya cari dalam hidup ? Untuk apa saya hidup ? Mengapa Allah menempatkan saya dalam kondisi seperti ini”. Bagaimanapun saya adalah orang yang sangat meyakini bahwa Allah menciptakan dan menempatkan saya di dunia ini bukan karena sebuah kebetulan belaka, Dia yang menciptakan segala sesuatu selalu memiliki rencana yang terbaik bagi setiap pribadi manusia, termasuk saya dan Anda. Tapi untuk sesaat mendengar pertanyaan dari teman saya, saya hanya bisa termangu “Mengapa saya ada di sini ? Mengapa saya hidup ?”. Bagaimana dengan Anda ? Apabila Anda diperhadapkan pada pertanyaan yang sama seperti saya pada saat ini, apa yang akan menjadi jawaban Anda atas pertanyaan tersebut ?
Pernah suatu kali saya mencoba memunculkan jawaban saya sendiri : Bahagia, “ya ... saya hidup, mau cari bahagia !”. Tapi sebentar, kebahagiaan seperti apa yang mau saya cari, apakah itu bukan hanya sebuah keinginan yang egois, keinginan yang menunjukkan betapa tamaknya saya ? Betapa saya hanya ingin mengejar kepentingan saya sendiri ? Lagipula kalau seandainya saya sudah menemukan kebahagiaan itu – lalu untuk apalagi saya hidup ?.
Waktu terus berlalu, dan saya masih terus mencoba untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini, tapi semakin saya mencari semakin saya disadarkan bahwa saya hidup bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk Tuhan ... Ah, jawaban klasik ... mungkin itu yang ada dalam pikiran Anda ... hanya seorang kristen yang rohani saja yang akan berkata seperti itu.
Tidak ! – saya serius – jawaban ini tidak hanya berlaku untuk orang kristen yang rohani saja tapi untuk semua orang yang mengaku percaya dengan mulut dan hatinya bahwa Kristus adalah Tuhan, serta telah menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Bukankah Dia telah menyerahkan hidupNya untuk kita umatNya, maka sudah seharusnyalah kita pun mulai menyerahkan hidup kita kepadaNya, bukankah kita adalah milikNya sejak kita ditebusNya. Rasul Paulus menggambarkannya dengan jelas ketika dia menulis Suratnya kepada Jemaat di Galatia : “ Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup tetapi bukan aku lagi sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidup yang kuhidupi sekarang di dalam daging ialah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan hidupNya untuk aku. “ (Galatia 2:20)

Nah sekarang ketika kita menjadi milik Allah, apalagi yang harus kita lakukan ?
Hanya ada satu jawaban : hiduplah bagi Dia dan hanya untuk Dia, karena Anda adalah milikNya, Anda sama sekali tidak memiliki hak atas diri Anda lagi ketika Anda menyerahkan hidup Anda untuk Kristus, segala sesuatu yang akan Anda lakukan haruslah sejalan dengan perkenaanNya. Dengan kata lain : “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan segala kebenaranNya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu “(Matius 6:33). Ketika Anda mencari Kerajaan Allah dan segala kebenaranNya, maka Anda akan segera menemukan apa yang Anda cari dalam hidup, karena di dalam Allah sajalah terletak kebahagiaan yang sejati.

Berbicara masalah kebahagiaan, Tuhan Yesus ketika sedang menyampaikan kotbah di bukit juga berbicara tentang pokok-pokok kebahagiaan sejati yang diperkenan oleh Allah, kebahagiaan yang bernilai kekal, kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh apapun tapi sekaligus kebahagiaan yang berkebalikan dengan standar nilai “bahagia” yang ditawarkan oleh dunia. Satu-persatu kita akan mencoba untuk melihat nilai kebahagiaan menurut Yesus, dan mencoba untuk melihat diri kita dengan jujur, apakah kebahagiaan itu telah menjadi milik kita.

Kata Yunani yang digunakan untuk kata “bahagia” dalam ucapan Yesus ini adalah Makarios, Kata ini tidak berbicara tentang perasaan bahagia yang dirasakan oleh seseorang tapi tentang pendapat Tuhan tentang makna kebahagiaan bagi orang tersebut. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kebahagiaan menurut pandangan manusia adalah berbeda dengan pandangan Allah. Bagaimana dengan Anda ketika Anda melihat diri Anda sendiri, kebahagiaan yang seperti apakah yang Anda kejar ?

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Dua orang wanita di Shanghai, Cina, suatu kali berbicara tentang Hudson Taylor, seorang misionaris yang melayani Allah di Cina. Mereka bertanya-tanya apakah dia pernah tergoda untuk menjadi sombong. Salah satu dari wanita itu datang menemui Ny. Taylor dan menanyakan pertanyaan yang mereka bicarakan. Dari hasil pembicaraan tersebut ternyata Ny Taylor tidak tahu jawabannya, meskipun demikian dia bersedia untuk menanyakan jawabannya kepada suaminya. Hudson Taylor begitu mendengar pertanyaan dari istrinya menjadi terkejut dan bertanya : “Sombong terhadap apa ?”
Ny Taylor menjawab, “ Ya, tentang hal-hal yang telah engkau kerjakan selama ini.”
Kemudian muncullah jawaban yang indah dari mulut seorang Hudson Taylor, “ Saya tidak pernah tahu apa yang telah saya kerjakan.”
Hudson Taylor benar. Hamba Tuhan yang setia ini tidak pernah melakukan sesuatu, karena Allah lah yang membentuknya dan melakukan sesuatu melaluinya.

Menjadi miskin – jikalau kita mencoba untuk memeriksa diri kita dengan jujur – bukanlah hal yang diimpikan oleh setiap manusia. Setiap dari kita bekerja dengan keras hanya supaya dapat hidup dengan layak, meskipun masih ada juga banyak orang yang berusaha untuk menimbun harta (hidup berlebihan bukan berkecukupan). Tapi di sini Yesus berkata, berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah ... Yesus sama sekali tidak berbicara tentang kekayaan ataupun kemiskinan harta duniawi, tapi Yesus berbicara tentang kemiskinan kita di hadapan Allah. Orang miskin di setiap zaman adalah orang yang identik dengan ketidakberdayaan, identik dengan ketiadaan tempat untuk bergantung selain daripada Allah, meskipun dia menyadari bahwa dia tidak layak untuk menerima belas kasihan Allah itu.
Yesus berkata bahwa yang berbahagia adalah orang yang miskin di hadapan Allah. Lalu bagaimana kita bisa menjadi miskin di hadapan Allah ?. Untuk menjadi miskin di hadapan Allah kita harus mengakui segala kemiskinan dan ketidakberdayaan spiritual kita, bahkan kebangkrutan kita di hadapan Allah, sebab kita semua sesungguhnya adalah orang berdosa yang hidup di bawah amarah Allah yang suci, yang hanya layak untuk menerima hukuman Allah dan bukan kemurahanNya. Tak ada sesuatu yang dapat kita tawarkan, tak ada sesuatu yang dapat kita pohonkan, tak ada sesuatu kita lakukan untuk dapat membeli perkenanan Allah, karena Dia kudus dan kita berdosa. Datang kepada Allah dan mengakui kemiskinan rohani kita di hadapan Allah adalah satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan yang sejati. Apakah Anda termasuk orang yang menyadari ketidakberdayaan Anda tanpa Allah sehingga Anda datang kepadaNya ?.
Lebih jauh lagi, Yesus berkata bahwa upah dari orang yang miskin dihadapan Allah adalah kepemilikan atas kerajaan Sorga. Hanya orang yang menyadari betapa dia tidak berdaya tanpa Allah dan bergantung kepada Allah, adalah orang yang memiliki kerajaan Sorga, karena Allah lah yang berkuasa atas kerajaan sorga ini. Hanya orang yang menjadi milikNya yang juga berhak atas milikNya. Kerajaan Allah diberikan kepada orang yang miskin, bukan yang kaya ; kepada yang lemah bukan yang berkuasa ; kepada anak kecil yang berharap kepada bapanya dan bukan kepada tentara yang sesumbar bisa menaklukkan dunia dengan pedang. Kalau Yesus datang kedua kalinya dalam segala kemuliaanNya, maka yang akan masuk ke dalam kerajaanNya bukanlah orang farisi yang menyangka dirinya begitu kaya akan jasa-jasa baik, bukan orang zelot yang memimpikan suatu kerajaan yang didirikan melalui darah dan pedang, melainkan pemungut cukai, dan pelacur, sampah masyarakat yang tahu dirinya demikian papa sehingga tidak dapat memberikan sesuatu atau mencapai sesuatu dengan kekuatan mereka. Satu-satunya yang dapat mereka lakukan adalah berseru kepada Allah dan memohon supaya dikasihani.
Terlalu banyak orang yang meyakini bahwa dia bisa melakukan segala sesuatu dengan kekuatannya sendiri, apalagi di zaman dimana individualisme berkuasa. Tapi Alkitab mencatat bahwa hanya orang yang bergantung kepada Allah yang akan dibuat berhasil pekerjaannya. Mari kita lihat ke dalam diri kita, apakah kita termasuk orang yang berpengharapan kepada Allah ?. Di dalam kehidupan berkeluarga, seberapa sering kita menyebut nama Tuhan di dalamnya ; Di dalam tugas pekerjaan dan belajar, seberapa sering kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah ; Di dalam pelayanan, seberapa sering kita melibatkan Allah ketika mengerjakannya ; Dan di dalam segala sesuatu yang kita lakukan, apakah kita melangkah bersama dengan Tuhan ? Menjadi miskin di hadapan Allah berarti merendahkan diri dan meletakkan pengharapan kita hanya kepada Allah.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Jim adalah seorang tukang cukur di desa kami. Dia, istrinya dan tiga orang anak mereka adalah anggota gereja yang setia.
Tidak lama kemudian, dia ditawari pekerjaan yang lebih baik di kota lain. Sebelum mereka meninggalkan desa kami, umat gereja kami yang kecil mengadakan pesta perpisahan bagi keluarga itu. Saat pesta usai, kami berpeluk-pelukan sambil berurai air mata, karena hubungan kekeluargaan di gereja kami yang kecil itu begitu erat. Kami mengiringi kepergian mereka dengan doa dan harapan agar mereka sukses di tempat yang baru.
Akan tetapi tidak lama kemudian, kami terkejut bercampur senang ketika keluarga Jim kembali ke desa kami. Dia kembali menjadi tukang cukur. Kami semua bertanya-tanya, apakah dia dipecat dari pekerjaan barunya ? Ternyata tidak.
Tanpa ada nada penyesalan dalam suaranya. Jim bercerita : “Sebenarnya, pekerjaan saya baik-baik saja. Penghasilan saya pun meningkat pesat, tetapi ada satu hal yang hilang. Orang-orang di kota itu begitu sibuk mencari uang, berjudi dan mabuk-mabukan, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk membangun sebuah gereja. Hari minggu menjadi hari yang membosankan bagi kami. Anak-anak merengek-rengek minta pergi ke sekolah minggu. Saya merasa tidak sanggup membesarkan anak saya di kota yang semacam itu. Istri saya Jennie pun merasakan hal yang sama. Jadi, kami memutuskan untuk kembali ke desa dan menjadi jemaat di gereja ini.”

Ketika membahas ayat ini, beberapa teolog berpendapat bahwa perkataan ini saling bertentangan. Bagaimana mungkin seseorang menjadi bahagia ketika dia harus berduka. Tapi Matius menulisnya dengan benar dan gamblang ketika dia menyatakan apa yang dimaksud oleh Yesus tentang keberdukaan ini.
Ketika seseorang yang menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Allah (miskin di hadapan Allah), dia akan menjadi semakin dekat dengan Allah. Dan ketika dia semakin dekat dengan Allah Yang Maha Kudus, maka dia akan semakin menyadari betapa Allah kudus dan manusia berdosa. Hal ini juga yang menuntun dia untuk menyadari bahwa dia orang berdosa dan harus meratapi dosanya dihadapan Allah.
Ketika Yesus menyatakan kalimat ini, sebenarnya Dia merujuk kepada orang – orang yang meratap karena telah kehilangan perasaan tidak bersalah karena dosa, meratap karena kehilangan kebenaran mereka, dan meratap karena kehilangan harga diri mereka sebagai orang percaya. Dan di saat dia semakin menyadari kebobrokannya, dia akan semakin bersimpati kepada manusia dan dunia yang sama berdosanya dengan dirinya, yang sama-sama membutuhkan Tuhan. Jadi dukacita yang muncul dalam diri orang percaya adalah dukacita terhadap para manusia, termasuk dirinya, yang sedang berbondong-bondong menuju kebinasaan karena dosa mereka. Orang-orang yang berdukacita seperti itu, yang menangisi dosa-dosa dan kejahatan mereka, akan dihibur dengan hiburan satu-satunya yang dapat melepaskan mereka dari sengsara yang kekal, yaitu pengampunan Allah yang tidak menuntut imbalan. Pada tahap kemuliaan terakhir penghiburan Kristus akan lengkap, sebab baru pada saat itulah dosa akan tiada dan Allah akan menghapuskan air mata mereka.
Sudahkah Anda meratapi dosa yang Anda perbuat ? Sudahkan Anda – dalam kedukaan Anda – meninggalkan dosa Anda dan kembali kepada Tuhan, yang menunggu dengan penuh harap diri Anda ?
Lihat di sekeliling Anda : Perjudian, Kemabukan, Kemalasan, Perzinahan, Kecurangan dan segala macam dosa mulai menggerogoti dunia. Apakah Anda orang yang berduka atas kondisi itu dan meratapinya di hadapan Allah ? Atau apakah Anda termasuk orang yang tidak peduli dengan keadaan itu ? Atau apakah Anda malah termasuk orang yang ikut-ikutan melakukan dosa-dosa itu ?
Bayangkan bangsa dan dunia ini yang sedang menuju kehancuran, bayangkan anak-cucu kita yang akan hidup di masa yang akan datang, kadang saya berpikir bahwa kehancuran bangsa kita karena kesalahan orang percaya yang enggan untuk peduli dan berdoa bagi bangsa ini di hadapan Tuhan. Seandainya ada orang-orang percaya yang mau berdoa dan mau untuk merubah masyarakat di sekitarnya maka pemulihan akan segera terjadi di atas bangsa kita. Karena Allah menjanjikan bahwa setiap orang yang berdukacita akan dihiburkan pada masanya.
Mari bersama kita sadari bahwa kebahagiaan itu datang pada saat kita menyadari bahwa kita perlu meratapi dosa kita dan kemudian meratapi dosa yang ada disekitar kita di hadapan Tuhan.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Seorang perwira angkatan laut menceritakan sebuah kisah yang luar biasa tentang bagaimana dia ditolong dan diselamatkan dari rasa malu saat pertama kali ikut berperang,
Dia adalah seorang taruna angkatan laut yang berusia empat belas tahun. Tembakan serentak dari serdadu musuh begitu menakutkan baginya sehingga dia hampir pingsan. Perwira yang menjadi atasannya melihat kondisinya. Sambil terus menatap ke arah musuh, atasannya berkata dengan tenang dan penuh kasih, “ Jangan takut, anakku. Engkau akan berani setelah satu atau dua menit. Saya pun dulu seperti itu ketika pergi berperang untuk pertama kalinya.”
Taruna muda itu belakangan berkata bahwa atasannya itu muncul seperti malaikat yang datang dan memberikan kekuatan kepadanya. Seluruh bebannya hilang dan sejak saat itu dia menjadi seorang pemberani persis seperti atasannya. Jika perwira tersebut menanggapinya dengan kasar dia mungkin akan pulang sebagai pecundang. Rasa empati yang besarlah yang membuat taruna muda itu menjadi pemenang dan seorang yang berani berperang.

Kata Yunani Praus yang adalah kata asli dari lemah lembut, memiliki makna yang berkenaan dengan lembut, rendah hati, baik budi, sopan, dan dalamnya terkandung pengertian penguasaan diri. Akar kelemahlembutan sebenarnya adalah pendapat yang jujur dan ikhlas dari seseorang mengenai dirinya sendiri, karena orang yang benar-benar lemah lembut adalah orang yang sungguh-sungguh malu sekaligus terpesona oleh kebaikan, tanggapan dan perlakuan Allah serta manusia terhadap dia, padahal dia tahu bahwa dia tidak layak menerimanya.
Kelemahlembutan ini terungkap dalam sikap rendah hati dan sabar terhadap orang lain, karena menyadari serta mengakui keberadaan dan kebagaimanaan dirinya sendiri yang tidak layak tapi dilayakkan oleh Tuhan. Menjadi lemah lembut dengan mengakui keberadaan diri kita dengan segala kelemahan kita, kepada orang lain tidaklah mudah. Kadangkala kita mendapati betapa mudahnya bagi seseorang untuk jujur tentang dirinya di depan Allah serta mengakui dirinya sebagai orang berdosa di mata Allah, namun alangkah sukarnya mengizinkan orang lain berbicara seperti itu tentang kita. Semua orang lebih suka mengadili diri sendiri daripada membiarkan orang lain mengadili kita.
Lemah lembut tidaklah sama dengan lemah lunglai, lemah lembut berarti kekuatan yang besar dibalik kelembutan di luarnya. Seseorang yang mampu meratapi atau berdukacita terhadap kebobrokan masyarakat yang ada di sekitarnya, akan semakin memiliki hati yang lemah lembut pada masyarakat sekitarnya. Hanya karena tekanan kedukaan yang begitu mendalam, yang mampu membuat seseorang tidak hanya bersimpati tapi juga berempati kepada orang lain. Perwujudan kasih simpati dan empati itulah yang membuat seseorang bertindak untuk melakukan sesuatu dan tidak hanya berdiam diri saja. Orang yang tidak berTuhan bisa saja menepuk dada membual tentang segala kelebihannya, namun kepemilikan yang sesungguhnya luput tidak akan pernah mereka dapatkan. Di lain pihak, orang yang lemah lembut, meskipun tersisih dan dikucilkan oleh manusia, namun karena mereka tahu apa artinya hidup dan memerintah bersama dengan Kristus, mereka menikmati dan bahkan memiliki bumi yang adalah milik Kristus ini. Dan kelak pada penciptaan kembali, mereka akan mewarisi langit yang baru dan bumi yang baru bersama dengan Kristus.
Seberapa dalam Anda menyadari tentang keberadaan dan kebagaimanaan diri Anda, sehingga membuat Anda bisa menerima diri Anda sendiri dan juga orang lain ? Seberapa peduli Anda terhadap keadaan bangsa, gereja dan lingkungan disekitar Anda sehingga Anda bertindak untuk melakukan sesuatu ? Seberapa dalam Anda memahami bahwa dunia ini membutuhkan Anda untuk merubahnya, sehingga Anda mau merubahnya ?

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Seorang pendeta muda pergi ke sebuah gereja di kota yang beranggotakan 25.000 jemaat. Segera para pemimpin gereja tersebut memberitahukan bahwa dia harus mengoreksi pemerintahan kota, karena walikota, kantor polisi dan anggota dewan begitu korup sehingga kota itu menjadi bobrok. Setelah minta waktu beberapa saat, pendeta itu berdoa mohon petunjuk Tuhan apa yang harus dilakukannya. Kemudian dia membuat janji ketemu dengan walikota.
Ketika bertemu dengan walikota pada saat yang ditentukan, dia berkata :” Saya ingin mengucapkan selamat kepada Bapak atas kehormatan dan tanggung jawab yang dibebankan ke pundak Bapak ketika Bapak terpilih sebagai walikota. Tetapi saya ingin memberitahu Bapak bahwa ada kehormatan yang lebih besar yang menunggu Bapak, sesuatu yang jauh lebih besar ketimbang kantor walikota.”
Karena mengira orang asing ini akan memberikan jabatan politik yang lebih tinggi kepadanya, walikota itu mendengarkan dengan bersemangat kabar baik itu.
“Engkau harus menjadi hamba Yesus Kristus, “, Ujar pendeta muda itu.
Dengan keheranan walikota itu berkata, “Tidak seorangpun pernah berkata seperti itu kepada saya sebelumnya.”
Pertemuan usai, walikota tu pulang ke rumah, tetapi keesokan harinya walikota menelepon pendeta muda itu. “ Maukah Bapak datang ke kantor saya dan berbicara dengan saya ? Saya telah merenungkan apa yang telah Bapak katakan, saya harus menemui Bapak.”
Dua minggu kemudian, tidak hanya walikota yang datang ke gereja pendeta itu, tetapi juga kepala polisi, kepala pemadam kebakaran, dan lima anggota dewan. Mereka menyerahkan diri mereka kepada Yesus Kristus karena kabar baik yang disampaikan pak pendeta muda. Kota itu dibersihkan dari korupsi karena pendeta itu mau digerakkan Kristus untuk menjangkau mereka.

Setiap orang percaya adalah orang-orang yang hidup oleh karena kebenaran dan hanya bagi kebenaran. Reputasi Yesus sebagai Jalan Kebenaran dan Hidup membuat setiap pengikutNya juga menghargai setiap kebenaran. Kelaparan dan kehausan akan kebenaran merupakan ciri khas semua anak Allah, yang ambisi utamanya adalah sesuatu yang spiritual dan bukan material. Kelaparan dan kehausan akan kebenaran tidak hanya diwujudkan dengan kelaparan dan kehausan akan Firman Allah tetapi juga kelaparan dan kehausan untuk menyatakan kebenaran Allah di atas dunia.
Setiap orang yang lapar dan haus akan kebenaran memiliki kerinduan untuk menyatakan karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus kepada umat manusia, yaitu dengan melakukan pemulihan hubungan antara Allah dan manusia yang rusak ; menyatakan watak dan perilaku kristiani yang berkenan kepada Allah di tengah dunia yang semakin terpuruk ; dan menyatakan pembebasan manusia dari segala penindasan dalam setiap aspek hidup.
Martin Luther ketika diperhadapan kepada kebobrokan dunia, menyatakan : “yang diperlukan adalah suatu kelaparan dan kehausan akan kebenaran yang tak kunjung dapat dibendung, dihentikan atau dilenyapkan ; suatu kelaparan dan kehausan yang tidak menginginkan dan tidak mengindahkan apapun kecuali mewujudkan serta mempertahankan apa yang benar, sembari menganggap sepele segala sesuatu yang bisa menghalang-halangi tercapainya tujuan ini.”
Kelaparan dan kehausan kita akan kebenaran tidak akan kunjung terpuaskan sepenuhnya selama kita hidup di dunia ini. Memang kepuasan yang dijanjikan akan kita dapatkan juga, tapi kelaparan dan kehausan tersebut dipuaskan hanya untuk kemudian kambuh lagi. Hanya pada saat kita mencapai surga segala kelaparan dan kehausan kita akan lenyap sama sekali. Karena di surga kita akan mendapatkan kebenaran yang sejati dari sumber yang utama, yaitu Kristus Yesus.
Bagaimana dengan kita, kebenaran apa yang kita perjuangkan : kebenaran kita atau kebenaran Allah ?
Bagaimana dengan jiwa-jiwa yang belum mengenal Allah : pedulikah kita terhadap keselamatan mereka ?
Bagaimana dengan kebobrokan perilaku orang yang mengaku orang percaya : meratapkah kita karena mereka ?
Bagaimana dengan orang-orang tertindas yang tidak mendapatkan pembelaan : anak jalanan, gelandangan, penderita cacat, kasihkah yang kita bagikan kepada mereka atau malah ketidak pedulian?
Setiap orang percaya adalah gambaran orang yang peduli akan kebenaran, dan yang juga orang yang memperjuangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya sekedar berbicara tapi juga menyatakannya dalam hidup.

Berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan.

Suatu kali, ketika LaGuardia, seorang mantan Walikota New York yang terkenal, memimpin pengadilan di kantor polisi, petugas membawa seorang yang didakwa mencuri sepotong roti. Orang itu berkata bahwa keluarganya kelaparan.
“Baik saya harus menghukummu,” Ujar LaGuardia. “Hukum tidak mengenal pengecualian, dan saya mau tidak mau harus menghukummu dengan mendendamu sepuluh dolar.”
Sebelum pencuri itu menjawab, LaGuardia merogoh kantong dan berkata, “Ini uang sepuluh dolar untuk membayar dendamu.”
Kemudian sambil memasukkan uang itu ke dalam topi ukuran besarnya yang di balikkan, dia berkata, “Sekarang saya juga akan mendenda setiap orang yang hadir di pengadilan ini masing-masing lima puluh sen karena mereka hidup di sebuah kota dimana ada seorang pria yang mencuri roti hanya untuk makan. Tuan Baillif, kumpulkan denda itu dan berikan kepada terdakwa.
Topi LaGuardia yang super besar itu diedarkan. Pencuri itu menatap La Guardia dengan takjub. Dari matanya keluar ucapan syukur. Dia meninggalkan ruang pengadilan dengan membawa uang empat puluh tujuh dolar, lima puluh sen.

Kemurahan hati bermuara dalam dua sikap yang saling berbeda, yaitu dalam hal mengasihi dan mengampuni orang lain. Kedua hal ini meskipun saling berbeda tapi tidak bisa terpisahkan satu dengan yang lain. Orang yang murah hati tidak hanya menyatakan kasihnya kepada orang-orang yang baik dan mengasihinya saja, tapi juga kepada orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya atau malah orang-orang yang membencinya. Di dalam diri orang yang murah hati, mereka memiliki dorongan untuk memberi pertolongan kepada orang yang di kasihani, tapi juga sekaligus memberikan pengampunan kepada orang yang berlaku jahat terhadap dirinya.
Allah kita adalah Allah yang menyatakan kemurahan hatiNya secara tak henti-henti, karena itu sepatutnyalah kita, warga kerajaanNya menyatakan kemurahan yang sama kepada orang lain. Bagaimana mungkin kita mengaku bahwa kita adalah anak-anakNya apabila kita tidak menunjukkan kesamaan kita dengan Bapa kita.
Tidak ada fakta yang dapat lebih nyata menunjukkan, bahwa diri kita telah diampuni oleh Allah, selain daripada kesediaan kita mengampuni orang lain, dengan kata lain hanya orang yang telah menerima kemurahan Allah sajalah yang bisa menyatakan kemurahan Allah dengan tulus kepada orang lain.
Orang lemah lembut yang mengakui bahwa ia adalah orang berdosa akan menjadi semakin murah hati terhadap orang lain, karena ia tahu bahwa mereka juga berdosa sama seperti dia. Ketika setiap orang beroleh kasih yang tulus, yang adalah pancaran bias kasih Allah, maka setiap orang yang memancarkannya akan memiliki bumi, dimana pun dia berada, setiap orang akan membuka tangan untuknya.
Bagaimana dengan kita ?, Allah menyelamatkan dan memberikan pengampunan kepada kita bukan supaya kita dapat hidup dengan murahan dan sembarangan tapi untuk hidup dengan bertanggung jawab dan menyatakan kemurahan dari Allah. Allah menyatakan kemurahanNya kepada kita supaya Anda pun belajar untuk menyatakan kemurahan Anda kepada orang lain.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Di dalam bukunya Floods on Dry Ground, Eva Stuart Watt menggambarkan tugas seorang misionaris di Belgian Congo, sebagai berikut : “Bahkan di kalangan musuh Injil sekalipun, ada kekaguman diam-diam bagi mereka yang hidupnya benar-benar diabdikan kepada Allah. Istilah Bakrustu ya Kweli, yang berarti “ Orang Kristen Sejati” sering terdengar dari mulut orang yang tidak mengenal Allah itu. Di segala penjuru orang-orang kristen dikenal sebagai manusia kebenaran dan manusia yang doanya selalu terjawab.
Suatu hari pimpinan tertinggi sedang mengadili seorang kristen yang dituduh menyembunyikan seorang tahanan Mabudu. Di pengadilan, pimpinan itu berkata kepada terdakwa. “Katakan kepada saya, apakah engkau menyembunyikan orang itu ?”
“Tidak tuan, saya tidak menyembunyikan.”
Sambil menoleh ke prajuritnya, pimpinan itu berkata : “ Engkau bohong ! Orang ini adalah Bakrustu ya kweli ! dia tidak mungkin berbohong.”

Dalam pandangan banyak orang, pribadi yang suci hatinya adalah pribadi yang hidupnya kudus dan tak bercela di hadapan Allah dan manusia. Ketidakbercelaan mereka ini muncul dari sisi batiniah mereka yang telah mengalami penyucian kualitas hidup dari kotoran-kotoran moral yang ditawarkan oleh dunia. Kualitas ini muncul sebagai kebalikan dari kesucian yang dituntut secara ritual. Dengan kata lain, kesucian hati tidak muncul dari ritual ibadah, tapi dari kehidupan yang diperbaharui oleh kuasa Allah.
Kotbah dibukit menuntut setiap pengikut Kristus untuk menunjukkan keikhlasan hati ketimbang ketaatan secara harafiah kepada hukum. Orang yang suci hatinya adalah orang yang amat bersungguh-sungguh melakukan kehendakNya dan kebenaranNya dengan penuh keikhlasan dan tanpa paksaan. Ketika seseorang bersedia untuk melakukan kehendak Allah dengan penuh keikhlasan maka secara otomatis seluruh kehidupan mereka baik yang pribadi maupun yang terbuka bagi orang lain adalah transparan di hadapan Allah dan sesama manusia. Transparansi mereka ini adalah akibat ketulusan mereka yang muncul karena hati mereka yang disucikan oleh Allah, mereka tidak bisa menunjukkan kepura-puraan di dalam hidupnya karena mereka telah mengalami penyucian hati.
Yesus menjanjikan bahwa hanya orang yang suci hatinya yang akan melihat Allah, melihat Dia sekarang dengan mata iman saat ini dan melihat kemuliaanNya di sorga kelak. Hanya orang yang suci hatinya yang tahan memandang segala kesucian Allah, yang sanggup untuk menghancurkan setiap kegelapan dan kejahatan.
Bagaimana dengan kita ? sudahkah hidup kita menampakkan kejujuran yang benar-benar transparan, tidak ada lagi yang disembunyikan, sehingga baik Tuhan maupun manusia dapat melihat dengan utuh kehidupan kita yang sebenarnya.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Dua orang anggota gereja bertengkar atas masalah yang sepele pertengkaran itu memanas dan menimbulkan kebencian.
Ada seorang yang sedih dengan situasi itu. “Saya ingin menjadi pembawa damai dan apa yang bisa saya lakukan untuk mendamaikan mereka berdua.” Tanyanya kepada dirinya sendiri.
Dia mengunjungi temannya Brown dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Thompson ?”
“Pendapat saya tentang Thompson ?”, sergah Brown. “Menurut saya dia orang yang tercela.”
“Tetapi,” Ujar si pembawa damai, “Engkau mengakui bukan kalau dia baik terhadap keluarganya ?”
“ Ya, itu benar. Dia baik terhadap keluarganya”
keesokan harinya, pembawa damai mengunjungi temannya, Thompson. “Tahukah engkau apa yang temanmu Brown katakan tentang engkau ?”
“Tidak, tetapi saya dapat membayangkan bahwa dia mengata-ngataiku dengan hal-hal yang kotor dan tidak baik !”
“Ah,” Ujar si pembawa damai, “Dia berkata bahwa engkau baik terhadap keluargamu!”
“Apa ? Apakah dia berkata demikian ?”, teriak Thompson.
“Ya, sekarang apa pendapatmu tentang Brown ?”
“Saya kira dia seorang bajingan dan jahat sekali.” Ujar Thompson.
“Tetapi,” Ujar si pembawa damai,” Engkau tentu mengakui bahwa dia orang yang jujur.”
“Ya, dia memang jujur, tetapi apa hubungannya ?”
keesokan harinya, pembawa damai mengunjungi Brown lagi dan berkata, “ Tahukah engkau, Thompson berkata bahwa engkau orang yang jujur.”
“Ah yang benar ?”, ujar Brown
“Betul, saya mendengarnya berkata demikian dengan telinga saya sendiri !”
Minggu berikutnya Brown dan Thompson duduk bersama di gereja dan bersekutu dengan indahnya.

Jalan pemikiran yang bergerak dari hati yang suci ke membawa damai adalah urutan yang wajar sekali karena keterbukaan dan kesungguhan hati merupakan unsur yang paling hakiki dalam setiap rekonsiliasi sejati. Kata yang sama dipakai dalam ucapan bahagia ini dipakai juga oleh rasul Paulus untuk menunjukkan apa yang telah Allah lakukan melalui Kristus yaitu mendamaikan Allah dan manusia. Itulah sebabnya berkat khusus yang diperuntukkan bagi pembawa damai adalah bahwa mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah, sebab mereka berusaha melakukan apa yang telah dilakukan Bapa, yaitu mengasihi manusia dengan kasih Allah.
Damai yang dimaksud di sini tidaklah berpengertian meredakan konflik, sebab damai Allah bukanlah damai yang murahan. Demi perdamaian manusia Allah mengorbankan AnakNya yang tunggal sebagai bayarnya. Memproklamirkan damai padahal tidak ada damai adalah pekerjaan nabi palsu, bukan kesaksian orang kristen.
Berbicara masalah damai, misi Allah yang paling utama di dunia ini sebenarnya adalah pendamaian. Saya sendiri mendapati bahwa setiap orang percaya di dunia dipanggil untuk melaksanakan karya pendamaian Allah atas dunia. Empat pekerjaan pendamaian yang Allah kerjakan bagi dunia, yang juga harus dikerjakan oleh orang percaya, adalah : Mendamaikan Manusia dengan Allah melalui Kristus (memberitakan keselamatan) ; mendamaikan manusia dengan dirinya sendiri (membangun citra diri yang benar) ; mendamaikan manusia dengan sesamanya (menghilangkan permusuhan antar manusia) ; dan mendamaikan manusia dengan ciptaan Allah yang lain (mandat Allah untuk menjadi pemelihara dan pengolah alam semesta).
Seringkali di dalam kehidupan ini, kita bukanlah menjadi orang yang membawa damai, tapi orang yang malah menjadi sumber dari konflik, lebih jauh lagi malah kadangkala kita menjadi orang yang enggan untuk di damaikan karena kekerasan hati kita. Menjadi orang kristen berarti membawa citra Kristus Sang Pendamai.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.

Beberapa tahun yang lalu, dua orang misionaris memasuki sebuah kota di Polandia. Tidak ada seorang Yahudi pun yang mau mendengarkan mereka. Akhirnya mereka mengirimkan tantangan kepada seorang rabi Yahudi untuk mengadakan debat publik apakah Yesus benar-benar Kristus.
Selama tiga hari Sinagoge itu dipenuhi massa yang ingin menyaksikan perdebatan itu. Akhir debat itu sungguh menyedihkan. Mereka berdua diusir, diludahi, dipukuli sampai hampir mati. Rabi Yahudi itu mendapat tepukan tangan atas kemenangannya.
Pada hari sabat berikutnya, rabi itu tidak mengadakan ibadah. Pada ibadah sabat berikutnya, rabi itu tidak muncul juga dan digantikan oleh pengkotbah pengganti. Kemudian sebuah pengumuman dibacakan bahwa rabi tersebut ingin bertemu dengan seluruh anggota sinagoge pada hari sabat ketiga.
Pada hari sabat ketiga, rabi itu keluar dengan muka pucat, semua orang menahan nafas ketika rabi yang tampak sakit berat itu berkata, “ Saudara, kalian tentu tahu dengan perdebatan yang saya lakukan dengan dua orang misionaris itu. Kalian cukup baik untuk menganggap saya sebagai pemenang perdebatan itu. Kini saat saya bersiap menghadap Hakim di atas segala hakim, saya harus memberitahu kalian dan saya akan menanggung segala konsekuensi pengakuan saya ini. Sebetulnya, sayalah yang kalah. Sekarang saya berdiri di sini untuk mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang dikatakan oleh Musa dan Hukum Taurat.

Betapa keras pun kita berusaha untuk mengadakan perdamaian dengan orang-orang tertentu, namun seringkali mereka akan tetap menolak untuk hidup dalam damai dengan kita. Tidak semua usaha rekonsiliasi yang kita lakukan akan berhasil. Bahkan dalam kenyataannya, banyak orang yang berusaha untuk mendamaikan malah mengalami penganiayaan dari orang-orang yang mau didamaikan.
Tidak terhingga lagi banyaknya gereja dan tempat perkumpulan orang percaya yang telah dihancurkan. Tidak terhitung lagi jumlah orang martir yang telah dianiaya dan mati bagi Yesus. Namun demikian reaksi yang diharapkan oleh Yesus pada saat kita dianiaya adalah bersukacita dan bergembira. Kita tidak boleh balas dendam, seperti dilakukan dan dianggap wajar oleh orang pada umumnya, atau merajuk seperti anak-anak, atau dengan rasa kasihan terhadap diri sendiri menjilat luka kita seperti seekor anjing, atau tersenyum acuh, apalagi berpretensi menikmatinya seperti seorang masochist.
Yesus menjanjikan upah yang besar di sorga bagi orang-orang yang telah dianiaya karena nama Tuhan Yesus, kita mungkin akan kehilangan segala-galanya di dunia tapi kita akan mewarisi segala-galanya di sorga bersama dengan Allah. Namun demikian alasan utama mengapa kita harus bersukacita dalam penderitaan adalah, karena kita menderita sama seperti Yesus yang menderita demi melaksanakan kehendak BapaNya.

John RW. Stott dalam bukunya “Kotbah di Bukit” dengan indah merangkumkan ucapan bahagia Yesus ini dengan kata-kata :

Maklumat bahagia melukiskan potret seutuhnya dari seorang murid Kristus. Pertama kita melihat dia sendirian berlutut di hadapan Allah mengakui dan menangisi kebangkrutan spritualnya, ini membuat dia lemah lembut dalam semua hubungannya dengan pihak lain, sebab kejujuran memaksa dia mengizinkan orang lain berpikir tentang dirinya di hadapan Allah. Namun, ia bukannya bertahan dengan membungkam dalam kebangkrutannya, sebab ia lapar dan haus akan kebenaran serta rindu untuk bertumbuh dalam rahmat dan kebajikan.
Kemudian kita lihat dia bersama orang lain, di tengah-tengah masyarakat manusia. Hubungannya dengan Allah tidak menyebabkan dia menyendiri atau terisolasi dari duka nestapa dunia. Sebaliknya ia berdiri di tengah-tengahnya, menumpahkan murah hati kepada mereka yang remuk oleh kejahatan dunia dan dosa. Kesungguhan hatinya terbaca bagi semua orang dalam segala perilakunya, dan ia berusaha memainkan peranan membangun sebagai pembawa damai. Namun orang tidak berterima kasih pada dia atas usaha-usahanya, malahan memusuhi, memfitnah, menghina serta memburu dia oleh sebab kebenaran yang dibelanya dan Kristus yang ia serupai.

Ketika kita menyadari bahwa kebahagiaan yang sejati itu ada di dalam Tuhan dan kebahagiaan itu terjadi hanyalah dengan melakukan kehendakNya, apa lagi yang kita cari ?
Saya bermimpi, gereja-gereja di dunia akan menghasilkan penginjil-penginjil dan orang-orang yang akan merubah dunia. Dunia ini butuh lebih banyak Paulus yang menjangkau banyak orang bagi Tuhan dan dunia ini juga butuh lebih banyak Daniel yang mampu merubah bangsa dengan pikiran dan imannya. Dan Anda adalah para Paulus dan Daniel yang akan mengubah dunia ini. Nasib bangsa ini, nasib gereja ini, bahkan nasib dunia ini di masa yang akan datang bergantung kepada Anda. Apakah Anda mau berubah dan mengubah dunia, atau hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa. Sudah saatnya gereja menyuarakan suara kenabiannya di tengah dunia, sudah saatnya nama Tuhan diperhitungkan oleh dunia, dan sudah saatnya Anda menyadari arti hidup Anda, yaitu membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Amin (suko – 18/12/2004) SkD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!