GEREJA YANG HILANG


Setiap kali berbicara atau memikirkan tentang gereja, saya selalu teringat mimpi saya tentang gereja yang ideal. Semenjak saya dilahirkan 24 tahun yang lalu sampai dengan hari ini saya telah dibesarkan di sebuah gereja tradisional yang merujuk kepada pengajaran salah satu aliran “Main Stream” Bapa Gereja, yaitu GKJTU. Sebagai seorang jemaat, saya merasa bangga dengan gereja saya, bisa dikatakan rasa “nasionalisme” saya mengakar dalam dan kuat di gereja saya ini. Bahkan ketika seseorang bertanya kepada saya, “Mas jemaat gereja mana ?” , dengan bangga, mantap dan tanpa rasa malu saya menjawab, “Saya jemaat gereja GKJTU”. Biasanya mendengar jawaban saya mereka mengernyitkan dahi mereka dan mulai bertanya lagi kepada saya apa itu GKJTU. Saya bukanlah orang yang berpandangan bahwa gereja saya yang paling baik dan paling benar, karena saya meyakini gereja yang benar adalah gereja yang hanya di dasarkan kepada Kristus – entah apakah gereja saya termasuk di dalamnya, tapi saya berharap demikian - , apalagi saya seorang yang meyakini keesaan gereja, sehingga kebenaran gereja, di mata saya, lebih bersifat universal. Rasa bangga yang ingin saya tunjukkan di sini adalah, rasa bangga yang muncul sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di gereja tersebut, jadi kebanggaan pada diri saya lebih terlihat seperti perasaan “Handarbeni” yang kuat pada gereja saya.
Tapi selain perasaan bangga, di dalam beberapa hal ada juga kekecewaan yang muncul di dalam diri saya. Kekecewaan ini, bagi saya hampir bukan tanpa alasan, meskipun saya pribadi menganggap bahwa kelemahan ini tidak hanya muncul di gereja saya tapi juga hampir di seluruh gereja di dunia. Saya kecewa dengan keadaan gereja yang tidak lagi menunjukkan ciri kegerejaannya yang sejati, yaitu gereja yang memancarkan citra Tuhan. Anda mungkin bertanya, kepada saya, “ Anda bicara gereja yang mana ... ?”. Dengan tegas saya katakan bahwa saya berbicara tentang “Gereja” sebagai sebuah institusi, dimana orang-orang percaya dipanggil keluar dari dosa dunia (Ekklesia) dan dikumpulkan untuk menjadi komunitas yang sama sekali berbeda dengan dunia, sekaligus berbicara tentang gereja sebagai sosok pribadi orang percaya dimana Roh Kudus tinggal di dalamnya.
Saya masih teringat angan-angan saya, delapan tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk mengikut Kristus. Saya selalu membayangkan bahwa gereja adalah tempat yang begitu indah dan nyaman, dimana orang-orang yang mengasihi Kristus tinggal bersama dan bersekutu dalam kasih. Saya membayangkan, di dalamnya saya bisa mengalami pertumbuhan menjadi serupa dengan Kristus. Tapi sepertinya saya harus bisa menerima kenyataan, bahwa keberadaan gereja yang sebenarnya, tidak seindah harapan saya. Kemana pun saya pergi dan terlibat dalam sebuah gereja, saya tidak pernah menemukan apa yang saya cari – mungkin iya untuk sesaat pada awalnya, tapi tidak selanjutnya -. Tapi itu belum menjadi titik akhir dari semuanya, dua tahun yang lalu ketika saya memasuki lingkungan dunia kerja, kembali saya membangun harapan tentang indahnya persekutuan bersama saudara seiman. Saya bekerja disebuah instansi dimana mayoritas pekerjanya “mengaku” orang kristen. Saya bermimpi bahwa saya akan mengalami pertumbuhan dan bentukan yang makin memperkuat iman saya. Tapi, sekali lagi, kembali saya harus menelan pil pahit kekecewaan, karena tempat dimana saya bekerja ternyata lebih buruk daripada apa yang ditawarkan oleh dunia : perselingkuhan, korupsi, gosip, dan segala bentuk kecurangan berkembang dengan subur di tempat dimana saya bekerja. Ingin rasanya saya berteriak, “ Dimana orang Kristen, saat dunia membutuhkannya ... ? ”. Saya prihatin dengan kondisi tersebut, mungkin itu juga yang menjadi penyebab mengapa Derek & Nancy Coupley menuliskan buku “Membangun Dengan Pisang” dan Mang Ucup menuliskan buku “Gereja Tuhan vs Gereja Duit”, yang membahas tentang permasalahan di dalam gereja dan diantara orang percaya, kadangkala saya merasa tidak berada diantara orang percaya tapi diantara orang – orang Farisi yang merasa diri rohani dan diselamatkan oleh Allah, tapi sebenarnya tidak– ehmm ... tapi mungkin saya perlu bertanya kepada diri saya sendiri tentang hal ini, saya takut jangan-jangan saya juga salah satu dari orang Farisi yang saya sebutkan tadi.
Saya pernah bermimpi, kelak akan datang masanya dimana gereja akan kembali menunjukkan citranya sebagai gereja, dan hal ini akan membuat gereja mampu menunjukkan kepada dunia siapa Tuhan yang berkuasa di atasnya, tapi saya tidak tahu apakah mimpi saya tersebut akan menjadi nyata – meskipun saya sungguh berharap demikian -. Ketika saya ditanya seorang teman yang mendengar keluh kesah saya, “Kamu ini sebenarnya mau gereja yang seperti apa to ?”. Saya hanya berkata, “Coba kamu baca Kisah Para Rasul 2 dan 4, kamu akan menemukan apa itu gereja, dan itulah gereja yang ideal menurut saya...”. Teman saya hanya terdiam – entah paham atau tidak maksud saya, tapi paling tidak, saya berharap, sepulang dari pembicaraan dengan saya tersebut, dia bersedia untuk membuka Alkitab dan membaca bagian yang saya katakan. Bagaimana dengan Anda ? Kalau Anda berminat, saya bersedia untuk mengupasnya bersama dengan Anda apa yang saya maksudkan.
Seperti yang kita ketahui bersama, revivalisme para pengikut Kristus di mulai pada hari yang kelimapuluh setelah kenaikan Yesus ke Sorga, yaitu pada hari Pentakosta, hari dimana Roh Kudus dicurahkan. Pada saat itu terjadi perubahan dahsyat dari para rasul, mereka yang semula ketakutan dan bersembunyi dari orang banyak, tiba-tiba menjadi berani dan menggebrak dunia dengan kesaksiannya tentang Kristus yang bangkit dari antara orang mati, di hadapan ribuan orang. Dan kuasa Allah terus berlanjut, ribuan orang yang semula bertanya-tanya tentang tindakan para murid, tiba-tiba menjadi percaya kepada Kristus karena Roh Kudus bekerja melalui perkataan para rasul. Dan ternyata itu belum cukup bagi Allah, Allah masih membuat ribuan orang yang memutuskan untuk mengaku percaya itu, tiba-tiba sanggup membuat gerakan yang mengguncangkan kekaisaran Romawi bahkan dunia dengan imannya. Beberapa abad kemudian, Napoleon Bonaparte, seorang panglima tentara Perancis membuat pengakuan di ujung usianya, “ Sebentar lagi aku mati, dan orang-orang yang mengikut aku akan segera meninggalkan aku. Tapi Yesus Kristus, setelah Dia meninggal, para pengikutNya tidak meninggalkan Dia, tapi malah semakin bertambah banyak dan sanggup mengguncangkan dunia.”
Sejujurnya, saya terpesona dengan apa yang Allah kerjakan di awal berdirinya perkumpulan orang percaya, tapi yang jadi pertanyaan saya sekarang adalah, apakah kedahsyatan orang percaya yang mengguncangkan dunia tersebut masih bisa kita rasakan saat ini. Semua kunci jawaban dari pertanyaan tersebut ada pada kedua pasal di atas. Saya mencoba untuk menggolongkan tulisan Lukas dalam Kisah Para Rasul 2 dan 4 di dalam beberapa kupasan lepas tapi berhubungan, yang penjabarannya akan ditujukan kepada dua sasaran dari penulisan ini yaitu gereja sebagai sebuah institusi dan jemaat secara pribadi sebagai bagian dari gereja Tuhan.

1. Penginjilan
Kis 2 : 38- 41
Jawab Petrus kepada mereka :”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. (38) Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu , dan bagi orang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” (39)
Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya :”Berilah dirimu di selamatkan dari angkatan yang jahat ini.”(40)
Orang-orang menerima perkataannya itu dan memberi diri dibaptis, dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (41)

Setelah Anda membaca ayat tadi, apakah anda sempat terpikir sebuah pertanyaan, yang keluar dari benak saya : “Berapa banyak ya ... orang-orang baru yang bergabung dengan gerejaku ? baik mereka orang belum percaya yang kemudian bertobat, maupun orang percaya yang memperbaharui iman mereka ... ?” atau : “ Berapa orang yang sudah mendengar berita Injil dariku minggu ini ?”
Kalau memikirkan pertanyaan tersebut, rasanya sudah saatnya bagi kita untuk mulai membuat pengakuan bahwa penginjilan telah menjadi hal yang mulai diabaikan oleh gereja, memang hal ini tidak terjadi pada semua gereja, masih ada beberapa gereja yang berpikir untuk menjangkau jiwa-jiwa atau mengirimkan misionaris untuk memberitakan Injil. Tapi tidak sedikit juga gereja yang mulai sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga tidak menyempatkan diri untuk membagi berita kesukaan ini. Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri : “Mengapa gereja kok mulai melupakan Amanat Agung Yesus untuk : “... pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya ... “ (Mat 28:19) ? Sudah terlalu sibukkah gereja sehingga tidak sempat melakukan panggilan itu lagi ? Atau terlalu nyamankah gereja dengan keadaannya sekarang, sehingga mulai malas mengerjakan penginjilan ? Atau jangan-jangan yang lebih buruk lagi, yaitu gereja menganggap bahwa hal tersebut tidak lagi penting untuk dilakukan ? Tegakah gereja melihat jutaan orang sedang berjalan berbondong-bondong menuju kepada kematian kekal di neraka tanpa pernah mendengar berita keselamatan dalam Kristus (seperti ratusan ribu orang yang meninggal karena bencana Tsunami di Aceh, Sumut dan sekitarnya) ? Terus bagaimana dengan Marturia , tugas panggilan gereja untuk memberitakan Injil ? Apakah itu hanya slogan belaka ? Rasanya kita semua sebagai bagian dari gereja layak untuk memikirkan hal ini.
Saya sama sekali tidak mencoba untuk mengkambinghitamkan gereja sebagai sebuah institusi, tapi sebaliknya saya mencoba untuk membuka mata kita, orang percaya sebagai gereja yang hidup, bahwa pemberitaan Injil adalah tanggung jawab kita bersama. Gereja tidak akan bergerak bila orang-orang yang ada di dalamnya tidak bergerak. Sejujurnya, saya pun sering merasa malu, karena sebagai seorang anggota gereja, saya hampir tidak pernah memberitakan kabar kesukaan tersebut kepada banyak orang, memang ada beberapa orang yang Allah izinkan mendengar berita Injil dari saya. Tapi itu tidak seberapa banyak. Ada kalanya juga, saya rindu merasakan sensasi melihat orang-orang yang mendengar berita Injil dari saya, datang kepada Allah dan bertobat. Memang itu kasih karunia, tapi saya masih berharap beroleh kesempatan itu.
Beberapa waktu ini, ada gejala baru yang muncul di banyak daerah, tidak hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara. Cobalah untuk sesekali berjalan-jalan di tengah atau di pinggiran kota, anda akan melihat begitu banyak gereja yang bermunculan bak cendawan tumbuh di musim hujan tidak peduli itu di ruko-ruko atau di hotel-hotel tapi yang pasti mereka adalah gereja, dan mereka memiliki banyak jemaat di dalamnya. Tapi anehnya, yang membuat saya bingung adalah, jumlah orang percaya di bumi ini tidak bertambah ... lha terus jumlah jemaat yang banyak itu dari mana datangnya ?. Saya tidak mencoba untuk memancing ikan di air keruh, tapi ini adalah fakta yang ada : semua jemaat itu berasal dari jemaat gereja lain yang berpindah “kewarganegaraan”. Saya kira, bukan ini yang dimaksud Tuhan Yesus dengan penginjilan. Bagi saya ini hanya transmigrasi antar gereja, bukan penambahan jumlah orang percaya ke dalam bilangan yang sudah ada, karena kenyataan yang terlihat adalah : jumlah orang percaya tidak bertambah, sedangkan jumlah gereja semakin meningkat.
Lukas, dengan jelas menggambarkan 3000 orang bertobat karena kesaksian Petrus (ay. 41). Mereka bertobat, mereka menerima karunia Roh Kudus, mereka dibaptis dan mereka diperhitungkan sebagai kumpulan orang percaya. Itulah penginjilan yang sebenarnya !. Memberitakan Injil berarti membukakan visi penyelamatan Allah melalui Kristus di kayu salib, hal ini tidak semata-mata memberitahukan siapa Kristus, tapi lebih jauh lagi yaitu untuk membuat seseorang secara pribadi melihat dan megalami Kristus serta karya penyelamatanNya. Bukan saling berebut domba yang sudah bertuan, tapi membawa domba-domba baru kepada Gembala yang Agung yaitu Kristus. Perhatikan bagaimana Petrus dengan banyak perkataan memberi kesaksian yang sungguh-sungguh dan mengecam dan menasihati (40) hanya untuk membuat mereka melihat Kristus yang adalah Tuhan dan Juru Selamat.
Sudahkah gereja mulai berpikir, untuk tidak hanya berebut wilayah ? Kedudukan ? Aset ? Atau malah lebih buruknya, berebut jemaat yang sebenarnya sudah mengaku percaya kepada Kristus ?. Allah tidak menghendaki gereja yang penuh sesak, tapi Allah menghendaki jiwa-jiwa diselamatkan dan bersekutu denganNya. Sudahkah gereja mulai melihat orang-orang yang membutuhkan berita Injil di atas dunia ini sama seperti Allah melihat ? Dan sudahkah gereja mulai bertindak menjadi perpanjangan tangan Allah untuk memberitakan keselamatan ? Mungkin, kalau seandainya Yesus berada bersama dengan kita saat ini Dia akan berkata kepada kita: ”Keselamatan manusia lebih penting daripada jumlah orang di dalam gereja”.
Saya tidak tahu apakah Anda setuju dengan saya, tapi menurut saya, membuat orang mengenal berita Injil dan kemudian menghidupi berita Injil tersebut adalah panggilan gereja dan setiap orang yang ada di dalamnya. Suka atau pun tidak suka.

2. Firman
Kis 2 : 42
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul ...
Kis 4 : 33
Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

Tuhan Yesus ketika dicobai oleh Iblis untuk mengubah batu menjadi roti menjawab dengan tegas, “ Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4). Sama seperti manusia jasmani kita yang membutuhkan makanan jasmani, demikian juga tubuh rohani kita membutuhkan makanan rohani. Dan alkitab mencatat bahwa Firman Tuhan adalah makanan rohani bagi tubuh rohani kita. Matius, dalam Injilnya menuliskan ucapan bahagia Yesus, : “ Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Mat 5:6). Lapar dan haus akan kebenaran hanya akan di puaskan apabila orang itu datang kepada Tuhan, dan mengunyah setiap pengajaran Tuhan melalui firmanNya. Lebih jauh lagi John RW Stott dalam bukunya Kotbah Di Bukit, menegaskan bahwa setiap orang percaya dituntut untuk memiliki nafsu makan yang sehat terhadap kebenaran, dengan kata lain penelaahan dan perenungan Alkitab adalah kebutuhan dasar harian orang percaya. Dikatakan kebutuhan dasar dan bukan sebuah kewajiban orang percaya, karena pertumbuhan dan kesehatan tubuh rohani kita tergantung dari kelaparan dan kehausan kita akan kebenaran itu sendiri. Dalam perjalanan iman saya, saya terus menerus diperhadapkan kepada kenyataan sulitnya memelihara kelaparan dan kehausan akan firman Tuhan secara terus menerus, ada kalanya saya merasa enggan untuk membaca dan mempelajari Firman Tuhan. Tetapi keengganan ini bukanlah sebuah penghalang bagi kita, jika kita menyadari pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan Allah sebagai sarana memelihara kesehatan rohani kita, yaitu dengan mengunyah dan meneguk kebenaran firman Allah secara teratur, maka kita akan memperjuangkan hal tersebut secara terus menerus. Pertumbuhan iman adalah tanggung jawab masing-masing dari pribadi orang percaya dan bukan tanggung jawab siapa-siapa di luar dirinya.
Lukas dalam catatannya tentang jemaat mula-mula, menyatakan bahwa kumpulan orang percaya tersebut bertekun dalam pengajaran para rasul (Kis 2:42) dan dimana rasul-rasul mengajar kuasa Allah selalu dinyatakan dengan luar biasa (Kis 4:33). Firman Allah yang dinyatakan oleh para rasul, bukan firman yang sembarangan, tapi firman yang berkuasa, firman yang sanggup mengubah hidup, firman yang mampu membuat para pendengarnya hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah.
Kebutuhan akan pengajaran firman Allah yang sehat adalah sesuatu yang penting bagi pertumbuhan jemaat. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah, banyak kotbah dan pengajaran yang tidak lagi memiliki kuasa yang sanggup merubah hidup seseorang. Kotbah terasa hambar, tidak menggigit, dan jemaat jadi mengantuk ketika mendengarnya, hal ini berakibat jemaat enggan untuk pergi ke gereja. Tidak cuma itu, kotbah yang di sampaikan kadang juga tidak di sampaikan dengan tepat, ada banyak dstorsi yang membuat jemaat tidak memahami apa maksud Alkitab dengan jelas. Apa yang jadi masalah sebenarnya ? Kurangnya persiapan kotbah, kesulitan untuk memahami keunikan jemaat, atau memang para pembicara tersebut tidak menghidupi firman Tuhan yang disampaikan ?.
Sama seperti orang Israel yang jatuh ke dalam aktifitas ritual karena mereka tidak memahami Firman Allah secara tepat, kita juga jatuh dalam kondisi yang sama dengan mereka. Bedanya adalah : mereka hanya mengenali Yesus sebagai pribadi yang berkuasa ketika mengajar orang banyak untuk sesaat saja (Mark 1:27), tetapi kita mengetahui dan percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru Selamat. Gereja pada masa kini membutuhkan Firman Tuhan yang berkuasa, sama seperti Israel membutuhkannya.
Sudahkah kita menyadari kesuaman dan kelesuan gereja kita, dikarenakan tidak berkuasanya lagi firman Tuhan. Firman yang berkuasa adalah firman yang memang berasal dari Allah, dimana para pengkotbahnya memang mempersiapkan kotbah tersebut dengan bergumul bersama Allah, hanya kotbah yang berasal dari Tuhan yang sanggup mengubah hidup. Memang tidak bisa selamanya di salahkan para pengkotbahnya, ada kalanya jemaat memang dalam kondisi tidak siap untuk menerima firman. Firman yang berkuasa pun bisa menjadi sia-sia ketika para pendengarnya tetap mengeraskan hati.
Setiap orang percaya dan gereja ditantang untuk menjalani kehidupan yang terus menerus mengalami kelaparan dan kehausan akan kebenaran, dimana Kristus menjadi pusat kerinduan akan kebenaran itu.
Sudah saatnya orang percaya dan gereja peduli akan kehidupan rohani mereka, dan bertindak untuk memenuhinya. Seberapa sering kita menyediakan waktu untuk melakukan pembelajaran Alkitab ? – ingat bukan hanya pendeta atau para teolog yang harus menggali Alkitab tetapi semua orang yang mengaku percaya kepada Kristus.
Seberapa peduli gereja dengan kualitas firman Tuhan yang disampaikan kepada jemaat ? – ingat bahwa ini adalah tugas gereja untuk memenuhi kebutuhan jemaat akan kebenaran yang bertanggung jawab.

3. Persekutuan
Kis 2 : 42,44,46
Mereka bertekun ... dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecah roti dan berdoa. (42)
Dan semua orang yang menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. (44)
Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari di dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati. (46)
Kis 4 : 34-37
Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka : Karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (34)
Dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul ; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.(35)
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.(36)
Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.(37)

Dewasa ini, saat budaya instan sedang melesat dengan cepat, dimana setiap orang ingin memperoleh segala sesuatu dengan terburu-buru, tanpa kesulitan, dan mendapatkan hasil yang terbaik, membuat persekutuan juga mulai tersingkirkan dari jajaran hal-hal yang ingin di peroleh. Betapa tidak, orang hanya perlu memencet tombol televisi untuk mendapatkan kotbah yang mereka inginkan ; mereka tinggal menekan tuts-tuts tombol telepon atau internet untuk curhat dan konseling ; dan mereka hanya perlu menekan tombol play untuk mendengarkan lagu-lagu rohani, yang semuanya itu tanpa harus pergi ke gereja. Mereka beranggapan gereja hanyalah tempat konflik dan pertentangan, tidak pernah ada kedamaian di dalamnya. Tidak heran mereka berpikir, untuk apa pergi ke gereja kalau hanya untuk menemukan ketidakharmonisan dan setor uang persembahan tapi tidak pernah mendapatkan sesuatu yang membuat mereka menemukan Tuhan.
Kejadian tersebut sama sekali tidak bisa disangkali telah membuat gereja kehilangan makna persekutuan yang sebenarnya. Tidak cukup seseorang hanya duduk diam di dalam rumah dan tidak berkomunikasi dengan sesamanya, sama seperti seorang anak yang dikunci di dalam kamar dan diberi video games dan segala fasilitas tapi tidak menemukan dan merasakan kehangatan kasih di tengah keluarganya. Banyak jemaat yang saat ini lebih menikmati kesendirian dan acuh tak acuh terhadap persekutuan gerejawi, dan para pembimbing jemaat seolah tidak bisa (... atau tidak mau ...? ) berbuat sesuatu untuk memperbaikinya.
Perhatikan bagaimana jemaat mula-mula hidup. Mereka menghabiskan hampir seluruh waktu mereka untuk bersama-sama di dalam persekutuan yang luar biasa indahnya. Mereka berkumpul, bersekutu, berdoa, saling berbagi serta saling menguatkan. Mereka bersatu dan bertahan bersama karena mereka memiliki satu pengharapan yang sama, yaitu : Kristus Sang Raja Gereja.
Di dalam persekutuan mula-mula ditampilkan bagaimana orang-orang tersebut tidak hanya berkumpul dan makan-makan, tapi juga saling memenuhi kebutuhan. Tidak ada yang berkelebihan ataupun yang berkekurangan, setiap orang mendapatkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Alkitab sama sekali tidak mengajarkan paham komunis di sini, tapi komunal. Apabila komunis mengajarkan sama rasa sama rata, komunal mengajarkan hidup berdampingan dan saling melengkapi. Ada perbedaan yang jelas antara keadilan menurut komunis dan keadilan menurut komunal : keadilan komunis adalah keadilan dimana setiap orang mendapat bagian yang sama persis dalam segala sesuatu, dimana pemerintah yang memegang kendali atas segala sesuatunya, sedangkan keadilan komunal adalah keadilan dimana setiap orang mendapatkan bagian sesuai dengan kebutuhannya, dan pengendali atas komunitas mereka adalah diri mereka sendiri yang dituntun oleh Tuhan. Keadilan bersifat komunal lah yang membuat persekutuan menemukan hidup, dimana setiap orang membangun kasih dan kepercayaan tanpa ada rasa curiga.
Lebih jauh lagi, ada satu hal lain yang membuat saya kagum dengan apa yang dicantumkan oleh Lukas pada laporannya ini. Perhatikan satu nama yang disebut di sana : Yusuf Barnabas (Anak Penghiburan). Banyak orang yang tidak mengenal dia, dia memang bukanlah tokoh yang populer dibandingkan tokoh-tokoh Alkitab lainnya, tapi bagi saya, dia adalah tokoh yang juga tidak kalah luar biasa agungnya. Dia adalah orang yang pertama kali menerima dan mendampingi Paulus setelah Paulus bertobat, padahal banyak orang percaya masih tidak bisa menerimanya karena ketakutan. Dia adalah orang pertama yang menemani perjalanan pelayanan Paulus. Dan dia adalah orang yang pernah berseteru dengan Paulus oleh karena keberadaan Yohanes Markus yang pernah meninggalkan Paulus dalam pelayanan, Barnabas menganggap setiap orang berhak beroleh kesempatan untuk bertobat tapi Paulus bersikeras untuk mengabaikan Yohanes Markus. Hal ini membuat Paulus dan Barnabas berpisah tapi pada akhirnya Paulus mengakui kesalahannya dan meminta Yohanes Markus untuk kembali bergabung dalam pelayanan.
Bertanya tentang makna persekutuan lebih dalam lagi, seringkali saya membandingkan kehidupan kristiani dengan roda dengan empat jari-jari sebagai media menjawab pentingnya persekutuan tersebut. Roda mengilustrasikan kehidupan orang percaya yang terus berputar menapaki jalan kebenaran. Poros pusatnya adalah Kristus, sebagai titik pusat segala bagian kehidupan kita, sementara dua jari-jari vertikal menunjukkan hubungan kita dengan Allah, yaitu melalui Doa (bawah ke atas) dan Firman (atas ke bawah). Sedangkan dua jari-jari horizontal lainnya menggambarkan hubungan kita dengan sesama manusia, yaitu Persekutuan dan Kesaksian. Seorang percaya tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan yang bertumbuh dan berkualitas apabila kehilangan satu saja dari empat unsur tersebut. Senada dengan hal tersebut gereja sebagai bagian kolektif dari orang percaya juga tidak akan mengalami pertumbuhan apabila salah satu dari jari-jari roda tersebut patah. Gereja akan berhenti bertumbuh apabila kehilangan soliditasnya sebagai kumpulan orang percaya, kehancuran satu bagian akan menghancurkan satu bagian yang lainnya, yang pada akhirnya akan membawa kehancuran yang menyeluruh dari gereja. Tidakkah kita belajar dari sejarah gereja yang menorehkan beberapa aib di dalamnya, perpecahan gereja, egosentris denominasi dan berbagai hal yang mengakibatkan kehancuran gereja. Ada kalanya saya bermimpi gereja kembali menjadi esa dan tidak terpecah-pecah, gereja dimana di dalamnya hanya terdapat Iman dan Kasih kepada Allah Tritunggal dan keyakinan bahwa Alkitab adalah kebenaran yang tunggal. Tapi entah sampai kapan saya baru bisa melihat mimpi tersebut akan menjadi nyata ... tapi saya sungguh berharap demikian.
Pertanyaan yang mungkin harus kita pikirkan jawabannya saat ini adalah : Masihkah kita menemukan arti dari persekutuan yang sebenarnya ? Masihkah gereja menikmati kehidupan persekutuan seperti yang ditunjukkan oleh jemaat mula-mula ? Dan adakah kerinduan untuk menyatakan jati diri gereja sebagai sebuah persekutuan dari orang-orang yang percaya kepada Kristus ? Apabila jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah “Ya”, mungkin kita masih memiliki kesempatan untuk menyegarkan kembali persekutuan kita.

4. Kuasa Allah
Kis 2 : 43
Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul tersebut mengadakan banyak mujizat dan tanda

Sebagai seorang anggota gereja yang konservatif, yang di dalamnya kurang banyak membahas tentang mujizat dan hal-hal yang bersifat supra rasional, membuat saya kadang merasa apatis apabila mendengar seseorang berbicara tentang mujizat dan karunia rohani yang terkesan mengada-ada. Tapi meskipun demikian saya sama sekali tidak berhak mengklaim bahwa kuasa itu tidak ada, hanya karena saya tidak pernah mengalaminya. Saya masih dan akan terus meyakini bahwa Kuasa Allah itu akan senantiasa kekal, Dia yang Perkasa itu tidak akan pernah dibatasi oleh oleh ruang maupun waktu serta oleh siapapun atau apapun juga,.
Saya tidak bermaksud untuk berkata bahwa setiap gereja harus mengalami mujizat atau sesuatu yang luar biasa, karena tanpa kita sadaripun sebenarnya Allah sudah mengadakan mujizat bagi kita setiap harinya (pernah Anda bangun dan merasakan bahwa Anda masih bernafas ? itu mujizat dari Allah). Yang saya maksudkan di sini adalah, setiap gereja seharusnya melihat apa saja karya yang Allah telah kerjakan di dalam kehidupan kita orang percaya, baik secara pribadi maupun secara kolektif. Bukankah pemazmur mengatakan : “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Maz 90:12). Kalimat ini ditulis karena pemazmur menemukan bahwa Allah menyediakan mujizat yang luar biasa di setiap hari dalam hidupnya. Dari tulisan ini saya juga mendapati bahwa pemazmur menghabiskan sebagian besar dari waktunya untuk tinggal bersama dengan Allah, sehingga dia dapat merasakan kebijaksanaan Allah di dalam hidupnya dengan nyata. Gereja yang berdoa dan bergumul bersama dengan Tuhan, tidak mungkin tidak pasti akan mengalami karya pemeliharaan Allah, hal-hal tersebut bila terus diperhatikan akan membuat kita melihat bahwa Allah pun menyatakan mujizatnya melalui proses. Satu hal yang harus kita sadari, Allah tidak selalu menggunakan hal-hal yang spektakuler untuk menyatakan kuasaNya, tapi bisa juga melalui hal-hal kecil yang kadangkala tidak kita sadari tapi di sanalah letak keagungan Allah dinyatakan.
Jemaat mula-mula memang melihat kuasa Allah yang diadakan oleh para rasul, tapi ketakutan dan ketakjuban mereka tidak semata-mata karena melihat mujizat itu sendiri, melainkan karena kesadaran bahwa ada Allah di antara mereka. Bagi mereka keberadaan Allah lebih penting daripada mujizat itu sendiri. Dengan kata lain, kalau saya boleh menyimpulkan, keberadaan Allah di dalam gereja lebih penting daripada mujizat yang menyertai. Kadang saya merasa prihatin, dengan begitu banyaknya orang yang mengejar mujizat itu, mereka bergabung dengan berbagai macam aliran baik di dalam maupun diluar kekristenan hanya untuk melihat mujizat. Tidakkah mereka menyadari bahwa Allah lebih penting daripada mujizat itu sendiri dan tidakkah mereka tahu bahwa Iblis yang bisa menyamar menjadi malaikat terang pun punya kuasa untuk mengadakan mujizat, meskipun mujizat itu tetap berada di bawah perizinan Allah. Asumsi bahwa “Menemukan Allah pasti menemukan mujizat, tapi tidak selalu menemukan mujizat pasti menemukan Allah” seharusnyalah dipegang dan bukan malah diubah atau dibalik kebenarannya.
Saya mengajak kita semua untuk bersama melihat mujizat dan karya Allah di dalam keseharian kita dan di dalam kehidupan gerejawi kita, sudahkah kuasa Allah itu kita lihat di gereja dan kehidupan kita ? Apakah kita belajar untuk menghitung semuanya itu dengan penuh takjub dan syukur kepada Allah ? Mujizat Allah masih berlaku sampai hari ini dan akan terus berlaku sampai selama-lamanya.

5. Kesaksian
Kis 2 : 47
Sambil memuji Allah. Dan mereka di sukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Allah menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan.
Kis 4 : 33
Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

Menjadi orang percaya bukanlah pekerjaan yang mudah, karena setiap pengikut Kristus dipanggil untuk menyatakan statusnya sebagai anak-anak Allah dengan kehidupan yang sesuai dengan gambaran Khaliknya. Kehidupan yang memancarkan citra Kristus itulah yang akan menjadi kesaksian yang sejati bagi dunia yang menentang Allah. Tapi apabila dengan jujur, kita mencoba untuk bertanya kepada diri kita sendiri, berapa banyak orang kristen di dalam gereja yang telah menunjukkan kehidupannya secara benar di hadapan Allah, mungkin kita perlu untuk menundukkan diri di dalam duka. Dari pengamatan saya, tidak banyak orang yang setelah melihat kesaksian hidup kristen menyatakan kekagumannya kepada Allah yang kita sembah.
Selama beberapa lama ada banyak keprihatinan berkenaan dengan tingkah polah gereja, tidak hanya satu atau dua orang teolog yang menyatakan hal tersebut, tapi puluhan bahkan mungkin ratusan. Dua diantaranya, yang saya tahu, adalah John RW. Stott yang menulis buku kupasan Kotbah di Bukit dan Prof W. Stanley Heath yang menulis Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1 – 11 Relevansinya Dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman. Mereka berdua sepakat bahwa saat ini gereja mulai kehilangan statusnya sebagai milik Allah. Hal ini terjadi ketika gereja memutuskan untuk menjadi sama dengan dunia. Pola hidup yang buruk dari gereja berakibat kepada kesaksian yang buruk bagi dunia, dan kesaksian gereja yang buruk berdampak kepada dipermalukannya reputasi Allah.
Prof. W. Stanley Heath dalam bukunya Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1 – 11 Relevansinya dengan Pemulihan Gereja Di Akhir Zaman menyatakan : perusakan dan penganiayaan gereja di berbagai tempat, tidak semata-mata dipakai Tuhan untuk menguji Iman orang percaya tapi juga dipakai untuk membawa gereja kembali kepada citranya, yaitu milik Allah. Menurutnya banyak gereja saat ini yang menjadi kompromi dengan dunia dan tidak lagi menunjukkan cirinya sebagai kepunyaan Tuhan, sehingga Allah mengizinkan perusakan untuk mendidik gereja, sama seperti Allah menggunakan bangsa Babel, Filistin, Asyur ataupun Mesir untuk membuat bangsa Israel berbalik kepada Tuhan setelah berulang kali menduakan Tuhan dan tidak menaati ketetapan – ketetapanNya.
Kebobrokan gereja juga diungkap oleh John RW Stott, ketika dia menyatakan : “... Gereja tidak lagi menyatakan fungsinya sebagai garam dunia yang memberikan pengobat dari rasa sakit karena dosa, malah sebaliknya menjadi madu dunia yang makin mempermanis dosa dunia, dengan kata lain gereja telah menjadi sama dengan dunia (bahkan lebih buruk), dan tidak lagi menunjukkan budaya tandingan yang membuatnya menjadi berbeda dengan dunia ...”
Saya tidak tahu seberapa prihatin Anda melihat kesaksian gereja yang lemah di tengah masyarakat. Saya prihatin ketika melihat gedung gereja dibangun dengan megah di tengah masyarakat yang miskin dan kekurangan. Saya prihatin melihat banyak pendeta yang tidak menunjukkan citranya sebagai gembala yang mengayomi, malah sebaliknya menjadi biang kerok hancurnya persekutuan. Saya prihatin dengan gereja yang saling bersaing untuk menjadi yang terutama, bahkan kadang lebih utama dari Yesus itu sendiri. Saya prihatin dengan keadaan para hamba Tuhan yang hidupnya tidak bisa lagi menjadi teladan bagi jemaat dan masyarakat. Gereja yang miskin dengan kesaksian inilah yang semakin membuat nama Tuhan diabaikan dan bahkan dipermalukan. Jangan diam saja : “ Kamu adalah garam dunia ... kamu adalah terang dunia ...”

6. Kasih
Kis 2 : 45
Dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
Kis 4 : 32
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak ada seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah milik sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

Bicara tentang kasih, sepertinya akan menjadi topik pembicaraan yang tidak akan pernah usai. Semenjak manusia diciptakan, benih kasih tersebut sudah tertanam di dalam diri manusia, yang adalah citra Allah. Tapi karena kejatuhan manusia dan seiring dengan berjalannya waktu, kasih yang mula-mula tersebut menjadi luntur bahkan hilang. Citra “Allah adalah kasih” menjadi hilang di dalam diri anak-anakNya yang tidak lagi memancarkan kasih Bapanya.
Saya sempat tergelitik ketika seorang pendeta berkotbah : “ ... kecenderungan yang dihadapi gereja pada saat ini adalah kehilangan kasih yang sejati ... satu-satunya hal yang dikasihi gereja pada saat ini adalah dirinya sendiri, gereja tidak lagi peduli dengan jemaatnya, gereja tidak lagi peduli dengan reputasi Allah, dan gereja tidak peduli lagi dengan masyarakat serta dunia disekitarnya. Gereja hanya peduli dengan bagaimana gerejanya semakin berkembang dan menjadi besar ... bila perlu mengorbankan yang lainnya”. Agak ekstrim mungkin, tapi tidak dapat disangkali kalau secara perlahan gereja sedang berubah menjadi makhluk yang egois dan individualis, makhluk yang tidak peduli dengan yang lainnya selain dirinya sendiri.
Dulu saya berpikir bahwa komunitas orang percaya pasti akan memancarkan kasih yang sebenarnya. Tapi ternyata dugaan saya sama sekali salah, di beberapa negara yang di dominasi oleh orang yang “mengaku percaya” ternyata juga melakukan tindakan kekerasan dan penindasan terhadap kaum yang lemah. Dulu saya berpikir orang percaya tidak mengenal bahasa mayoritas dan minoritas, mereka hanya mengenal bahasa kasih, tapi sekali lagi saya salah. Ketika orang percaya menjadi minoritas mereka memang di aniaya, tapi ketika mereka menjadi mayoritas merekalah yang menjadi penganiaya.
Kalau saya melihat kondisi jemaat mula-mula, saya selalu dibuat terpesona dengan bagaimana cara mereka membangun kasih di dalamnya. Bagaimana tidak ! mereka menganggap bahwa segala sesuatu adalah milik bersama, mereka tidak dipaksa untuk bertindak demikian (seperti yang dilakukan oleh orang komunis), tapi mereka melakukannya karena pilihan mereka sendiri. Pilihan yang muncul karena mereka telah mengalami kasih Allah yang sebenarnya. Kekuatan kasih orang percaya mula-mula inilah yang membuat banyak orang menjadi tertarik untuk datang kepada Allah, mereka tidak perlu dikotbahi dengan segala macam kebenaran, karena mereka telah melihat kebenaran itu hidup di dalam diri orang percaya.
Sekarang adalah saat dimana kita mulai mempertanyakan kembali arti dari kasih yang sebenarnya. Sudahkah kita mengalami kasih yang sebenarnya dari Allah dan menyatakan kasih Allah tersebut kepada orang-orang di sekitar kita ? Banyak orang membutuhkan uluran kasih kita : Sebagai orang percaya kita tidak perlu berharap untuk dikasihi balik ketika kita menyatakan kasih kepada orang lain, karena kita sudah mengalami kasih Allah lebih bersifat kekal ; kita tidak perlu berpura-pura mengasihi untuk dapat di terima dan dipuji, pujian adalah milik Allah dan kemunafikan adalah milik Iblis. Kasih yang sejati adalah kasih milik Allah, dimana bersumber dari Allah dan kembali untuk kemuliaan Allah.

Beberapa hari ini saya membaca sebuah buku, hasil tulisan Edwin Louis Cole, berjudul : Tetap Tegar di Tengah Masa Sukar, yang cukup menarik untuk dibaca. Ada sebuah data statistik tentang keadaan jemaat gereja di Amerika Serikat yang sangat membuat saya tergelitik membandingkannya dengan keadaan gereja-gereja di Indonesia. Coba Anda perhatikan data statistik temuan Dr. Cole, tentang anggota gereja di Amerika Serikat, berikut ini :
10 % anggota jemaat tidak dapat ditemukan keberadaannya
20 % anggota jemaat tidak pernah menghadiri kebaktian
25 % anggota jemaat tidak pernah berdoa
30 % anggota jemaat tidak pernah membaca Alkitab
40 % anggota jemaat tidak pernah memberi persembahan kepada Gereja
60 % anggota jemaat tidak pernah memberi persembahan kepada misi-misi di dunia
75 % anggota jemaat tidak pernah melakukan tugas pelayanan di gereja
95 % anggota jemaat tidak pernah memenangkan satu orang untuk Kristus
Namun demikian
100 % anggota jemaat berharap masuk ke surga

Gambaran angka survei tersebut membuat saya jadi berpikir : kalau demikian apakah artinya mengikut Kristus bagi orang percaya, apabila mereka tidak pernah bersedia memikul salibnya setiap hari ? Data statistik tersebut memang data yang terjadi di Amerika Serikat, tapi bukan hal yang mustahil apabila data tersebut juga relevan bagi bangsa – bangsa yang lainnya. Kita sudah kehilangan banyak kualitas kekristenan di dalam gereja dan kita juga sudah mulai mengabaikan reputasi Allah yang Agung, karena kebobrokan yang sudah kita lakukan sebagai orang yang mengaku “pengikut Kristus”. Pernahkah kita berpikir bahwa selama berabad-abad reputasi Allah telah dipermalukan karena kelakukan kita ? Pernahkah kita menyadari dalamnya kedukaan Bapa kita karena perilaku kita ini ?
Saya kira ini saatnya untuk kita bertindak dan menyatakan kualitas kekristenan kita di tengah dunia sebagai citra Allah. Ini bukan saatnya untuk hanya berkutat tentang program kerja, pengelolaan organisasi dan pengembangan gereja atau pemenuhan kebutuhan kita sendiri. Ini adalah saatnya dimana kita harus melaksanakan tugas panggilan Allah bagi gerejanya : secara personal maupun secara kolektif. Seluruh bagian kehidupan kita adalah sarana menyatakan rencana Allah di atas dunia : bukan rencana kita, tapi rencana Allah !. Kadangkala saya merasa, kita terlalu sibuk dengan program kerja bagi gereja dan hidup kita pribadi, tanpa pernah melibatkan Allah di dalamnya. Mana yang lebih penting menurut Anda : program kerja yang runtut tanpa melibatkan Allah atau program kerja yang dibuat dengan pelibatan Allah di dalamnya ?
Saya bermimpi, kelak gereja berdiri menjadi kesatuan yang esa, dimana gereja tidak lagi mengenal denominasi dan aliran tapi hanya mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, serta meyakini Alkitab sebagai kebenaran Tunggal. Dan saat ini adalah masa dimana kita harus bertindak menyatakan semuanya itu. Allah Pemilik Gereja di segala penjuru dunia akan terus bekerja dan menyatakan karyaNya pada orang-orang yang menyatakan rencanaNya. Amin. (suko – 06/05/2005) SkD

C H _ _ C H , what are missing inside ? U R (You are lost somewhere, when the church need you)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KEPUTUSAN

YANG TERKASIH

MAAFKAN AKU MA ... !!!